Strategi Menangani Anak Berkebutuhan Khusus yang Membentur-benturkan Kepala

Menyaksikan anak membenturkan kepala (self injury behavior) merupakan pengalaman yang menakutkan bagi orang tua. Membenturkan kepala merupakan cara yang efektif untuk mendapatkan dan mencari perhatian. Semakin sering reaksi tersebut dilakukan semakin berlanjut juga menjadi suatu pola kebiasaan. Menentukan respon yang tepat (matter-of fact way) membantu anak untuk mengatasi permasalahannya.

Melakukan pendekatan saat anak tantrum dapat menjadi suatu reward atas prilakunya. Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak melakukan hal tersebut, serta bagaimana menanggulanginya :

  1. Membuat jurnal : untuk mengetahui apa yang meyebabkan anak menyakiti dirinya dan apa yang terjadi setelah itu. Jika dilakukan atas dasar frustasi, transisi ke aktifitas atau lingkungan baru, lelah dan over load? (metode ini disebut analisa fungsional – functional analysis)
  2. Saat telah terbentuk pola, kita dapat menentukan strategi yang sesuai, ex. :
    1. Lelah : jika sang anak merasa lelah dan membenturkan kepaladilakukan untuk menenangkan dirinya sebelum pergi tidur, coba lakukan ayunan ringan (rocking), atau dengan memberikan aroma vanilla atau lavender untuk menciptakan suasana yang menenangkan. Lakukan pemijatan dalam (deep pressure) pada tangan dan kaki dengan menggunakan lotion. Jika sang anak tidak memiliki sensitifitas terhadap bau tertentu, coba gunakan lotion dengan aroma lavender.
    2. Perubahan rutinitas : jika dilakukan karena perubahan rutinitas yang tak terduga, siapkan sang anak sebelum melakukan aktifitas. Ex. Pada anak yang telah cukup umur pemberian bantuan visual dapat mmbantu anak mengerti melalui gambar.
    3. Over arousal : pelaksanaan sensory diet akan sangat berguna untuk memberikan kebutuhan sensori sang anak dalam kesehariannya untuk menstabilkan arousalnya. Ex. Melakukan deep pressure tiap 2 jam, sandwich game, dan aktifitas lainnya.
    4. Sakit : terkadang infeksi telinga bagian dapat menyebabkan sang anak membentur-memukul dirinya. Periksakan sang anak ke dokter untuk melihat organ dalam telinganya.
    5. Stimming atau prilaku steriotipik : prilaku yang bersifat repetitive, ritualistic yang memberikan kesenangan tertentu saat melakukan stimming. Pelaksanaan sensori diet membantu memberikan input yang dibutuhkan untuk menormalisasi prilaku dan kebutuhan sensori.
    6. Keterlambatan bicara : merupakan hal berpotensi menimbulkan stress pada sang anak dengan perkembangan bahasa yang terbatas, ia kesulitan mengekspresikanm kebutuhannya pada orang tua dan caregiver tentang apa yang diinginkan atau yang sedang dirasakan menggunakan kata-kata. Coba berikan alternative yang dapat dilakukan untuk memperlancar komunikasi dengan cara dan hasil yang maksimum.
  3. Berikan tempat yang aman (safe spot) : tempat dimana anak dapat merasa nyaman dan terlindung saat melakukan transisi. Hal ini dapat dilakukan diatas bangku, bean bag, selimut dan lainnya.
  4. Pengalihan (distraction) : mengalihkan dengan melakukan pendekatan (engaging) pada aktifitas lain. Berkurangnya waktu saat melakukan benturan-pukulan pada kepala membantu menghindari menjadi suatu pola kebiasaan terutama saat sang anak semakin besar. Kekhawatiran orang tua jika sang anak akan terluka, perlahan pindahkan sang anak ke safe spot, atau berikan ia pelukan bearhug. Ketika pola telah terlihat dalam jurnal, anda akan lebih mudah mengantisipasi dan mengintervensi secara tepat agar anak tidak melukai dirinya sendi

Dikutip dari : http://taufiqhidayat.multiply.com/journal/item/4

Mitos VS Fakta Mengenai Anak Bermasalah

By : Ayah Edy – Praktisi Multiple Intelligence & Holistic Learning

 

Para orang tua dan guru yang berbahagia, Kontroversi pemahaman tentang anak sering kali membuat kita yang awam ini merasa bingung; padangan manakah yang benar….? Padahal selama 20 tahun terakhir telah terjadi perubahan padangan yang sangat besar antara para praktisi dan pemerhati pendidikan Sebelum dan Setelah tahun 80-an dalam memandang anak-anak yang bermasalah. Mari kita ketahui apa saja perbedaanya; dan manakah yang mitos dan mana yang lebih dekat pada fakta;

Pandangan Sebelum 80-an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Mitos) Pandangan setelah 80an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Fakta)
1 MITOS: Setiap anak dilahirkan berbeda, sebagian besar dalam kondisi normal dan sebagian lagi mengalami kelainan, yang sering dikelompokkan kedalam Learning Disability, Attention Defisit Disorder, Attention Defisit Hiperactive Disorder dan Disleksia FAKTA: Setiap anak dilahirkan berbeda, oleh karenanya memerlukan perlakuan dan cara pembelajaran yang berbeda sesuai dengan ciri-ciri keunikan yang dimilikinya masing-masing. Tidak ada yang disebut kelainan pada anak, yang ada adalah perbedaan cara belajar dan sifat-sifat dasar anak, yang merupakah fitrah alami dari Tuhannya.
2 MITOS: Setiap Anak Terlahir ada yang Sangat Cerdas, Cerdas dan Kurang Cerdas FAKTA: Setiap anak yang terlahir adalah Cerdas pada bidangnya masing-masing, kecuali anak yang mengalami cacat otak sejak lahir atau karena kecelakaan yang fatal. Namun ada sebagian anak yang dinyatakan cacad sekalipun secara medis masih dapat kembali normal yang memupuk kecerdasaanya hingga menjadi yang terbaik (Ref: He Ah Lee; The Four Fingger Pianist)
3 MITOS: Kecerdasan yang dimaksud meliputi kemampuan dalam Membaca, Menulis dan Berhitung FAKTA: Kecerdasan bersifat tidak terbatas, Membaca, Menulis dan Berhitung hanyalah salah satu kecerdasan yang disebut berbahasa dan berlogika
4 MITOS: Kecerdasan dapat di ukur melalui tes kecerdasan yang sering disebut dengan Tes IQ. FAKTA: Kecerdasan tidak dapat diukur, melainkan dapat di gali, diamati dan dikembangkan untuk mencapai tingkat maksimum.
5 MITOS: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor internal anak tersebut dengan kemungkinan menderita kelainan salah satu dari yang disebut LD, ADD atau ADHD. FAKTA: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor ekternal yang berupa ketidakmampuan para pendidik dan orang tua memahami gaya belajar, sifat dasar anak serta teknik-teknik mendidik/mengajar yang sesuai dengan gaya belajar dan sifat dasarnya
6 MITOS: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka anak yang dikategorikan sebagai penderita LD, ADD dan ADHD perlu mendapat terapi khusus, yang kerap kali menggunakan obat-obatan yang cukup berbahaya seperti Ritalin (methylphenidate), Dexedrin (dextroamphetamine), Cylert (pemolin), klonidin dan anti depresant lainnya. FAKTA: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka orang tua, guru dan pendidik harus belajar dan menguasai teknik mengajar holistik, Tipologi Sifat dasar anak, Gaya Belajar Anak serta Sistem Penilaian yang berbasiskan pada keberagaman kecerdasan masing-masing anak.
7 MITOS: Penilaian lebih difokuskan pada sisi kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang disebut sebagai “kelainan” pada anak untuk bisa diatasi. FAKTA: Penilaian harus lebih difokuskan pada sisi keunggulan spesifik yang dimiliki anak yang disebut sebagai potensi kecerdasan yang terpendam agar bisa tumbuh menjadi yang terbaik dibidangnya.
8 MITOS: Belajar didefinisikan sebagai kemapuan untuk mengingat kembali informasi yang pernah disampaikan atau berpusat pada kemapuan untuk menghafal secara sama dan seragam. FAKTA: Belajar didefinisikan sebagai proses kreatif yang meliputi Mengetahui, Melakukan, Menganalisa, Menyimpulkan dengan cara dan hasil berbeda sesuai dengan hasil temuan dan pengalaman masing-masing anak..

Para orang tua dan guru yang berbahagia mari kita gunakan Logika dan Nurani kita yang paling dalam untuk menilai pandangan manakah yang menurut anda lebih masuk akal dan lebih memberi peluang sukses bagi anak-anak kita kelak…..! Tentu saja kali inipun anda bebas memilih apakah anda akan memilih pandangan-pandangan yang bersifat mitos atau yang berdasarakan fakta penelitian, dan tentu saja pilihan itu sepenuhnya berada ditangan anda !