Pendidikan adalah Sebuah Proses. Apakah Sebuah Bualan Semata ?

Banyak wacana pendidikan yang mengatakan bahwa pendidikan adalah proses itu sendiri, itu alasan dominan mengapa sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang terpusat, banyak dikritisi di negara ini. Karena asumsinya, tidak obyektif jika kualitas anak didik hanya diukur dari nilai UAN yang ditempuhnya selama 2 jam, dibandingkan dengan 3 tahun masa pendidikannya.

Cukup fair, meski tidak fair juga di sisi lain. Bahwa memang IYA, harus ada satu parameter yang sifatnya umum untuk menguji kualitas pendidikan secara nasional, dan sistem UAN mewakili sisi itu. Tapi dengan kualitas pendidikan yang tidak merata pada setiap daerah, memang baiknya ada metode parameter jenis lain.

Apa metode pendidikan terbaik? Penulis tidak sepandai itu, itu tugas ahli riset dan profesor bidang pendidikan yang seharusnya menjawab. Mereka belajar khusus, menghabiskan waktu dan biaya, bahkan dibayar untuk memikirkannya, bukan?

Lalu apa itu pendidikan? Outputnya atau prosesnya? Orang bijak akan berkata bahwa pendidikan adalah proses itu sendiri.

Bagaimana anda tahu bahwa “belajar itu adalah proses” jika anda sendiri tidak mempunyai metode dan parameter mengenai itu?

Sangat banyak wacana dan diskusi, tapi sedikit yang mampu membuat “proses” menjadi satu dari sekian banyak acuan yang  terintegrasi pada sistem pendidikan.

Jika output pendidikan adalah NILAI yang dihasilkan dari 50 persoalan yang harus dijawab oleh anak didik, -orang menyebutnya Lembaran Soal. Apa bedanya dengan persoalan?- lalu apa yang dimaksud dengan PROSES pendidikan? Apakah hanya karena NILAI, alasan kenapa anak harus dimasukkan dalam kelas-kelas dengan pagar tinggi mengelilinginya? Semua orang tua pasti dengan yakin menjawab, TIDAK. Mereka mengharapkan anak mereka juga cerdas secara emosi, juga cerdas dalam bersosialisasi. Point utama kesuksesan -meski saya tidak suka dengan kata ‘kesuksesan’- adalah kemampuan seseorang dalam bersosialisasi, tenang, tepat untuk mampu mengatasi dan meredakan masalah, berani mengambil keputusan, percaya akan kemampuan dirinya, dan banyak hal lagi di luar nilai pada selembar jawaban ujian.

Strata dua atau Professor tentu juga dibutuhkan, tapi jika ia tidak dibekali dengan kemampuan sosial dan emosi yang cukup, ia dapat terjebak pada formalisme ilmu. Pintar namun kurang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakatnya. KURANG bukan TIDAK.

Pendidikan dimulai dari dini, SEPAKAT.

Dalam arti lain, mulailah mendidik anak sejak usia dini. Ajaklah mereka bermain, dengan permainan yang mereka suka dan nyaman untuk memainkannya. Bisa permainan kartu, congklak, Tic Tac Toe, dll. Anak dengan usia 3-9 tahun hanya tertarik dengan permainan, sekali lagi HANYA dengan permainan. “Ah, anak saya suka menggambar, dia tidak suka bermain”      Ohya? Terserah anda menyebutnya apa, bagi anak seusia mereka, hanya ada konsep BERMAIN, sisanya MEMBOSANKAN. Jadi, jika anda ingin mengajari mereka, gunakan media permainan.

Ajarkan berhitung, mengenal bidang, membaca, dan semua bekal keilmuan dengan media permainan.

Tiga Dimensi Jangan Dua Dimensi.

Permainan online/komputer dan sejenis, baik PSP dll, memberi rangsangan kepada otak. Tapi rangsangan pada otak anak akan sangat kuat jika ia bisa menyentuhnya, dalam teori kognisi otak ini berhubungan dengan kemampuan spasial. Layaknya arsitektur, kemampuan spasial adalah kemampuan otak untuk mengorganisasi bidang-bidang.

Awali dengan ‘rules of the game’ atau peraturan permainan, jika anak menyimak, maka dia siap untuk menerima pendidikan. Lalu mulailah bermain.

Jangan menilai perkembangan anak dari kalah atau menang, tapi catat dengan dengan detail perkembangan emosinya. Seperti yang selalu anda bilang, BERPROSES adalah BELAJAR, bukan? Lalu mulailah membuat list pertanyaan dengan kolom-kolom perkembangan mereka. Dan mulailah membuat pertanyaan-pertanyaan, yang nantinya akan menjadi ‘parameter’ anda, seperti:

Apa reaksi anak jika mengalami kekalahan?

Marah? Merasa tertantang? Menangis? Mengambek?

Apa reaksi anak jika mengalami kemenangan?

Tertawa? Merendahkan lawan? Bangga? Atau -mungkin- membisu?

Apakah anak mengikuti peraturan permainan?

Disiplin, ketaatan, fair play, sportif, adalah output jika seorang anak mampu untuk mengikuti peraturan permainan.

Apakah dia curang selama permainan?

Anda tidak akan percaya, anak punya kecenderungan besar untuk curang. It’s natural. Coba saja, alihkan perhatian.

Seberapa tingkat strategi yang dia terapkan dalam permainan?

Benar! Tingkat intelegensia dapat diukur dengan menjawab pertanyaan ini.

Seberapa lama anak berpikir untuk langkah berikutnya?

Jangan salah, berpikir lama bukan berarti bodoh, berpikir cepat tidak selalu pintar. Berpikir terlalu lama, berarti ia bukan risk taker. Mungkin akan berguna jika ia menjadi ilmuwan, tapi jika ia nanti menjadi pengusaha, faktor berani mengambil resiko akan sangat diperlukan.

Dengan jenis permainan-permainan yang banyak dijual, anda dapat gunakan sebagai media belajar. Jangan menumpukan pendidikan hanya kepada guru mereka di sekolah, didik anak anda dengan metode anda sendiri. Sistemkan pertanyaan sederhana diatas, tambahkan jika perlu. Buat sistematisasinya, dan buatlah “Raport Kepribadian” setiap bulannya.

Anda sendiri bisa menjadi guru mereka. Satu hal, jika mereka sudah tidak ingin bermain dengan anda, tinggalkan permainan dan bebaskan si anak. Menyenangkan jika suatu saat, kita sebagai orang tua tidak lagi membual tentang BELAJAR ADALAH BERPROSES.

*metode diatas bukan membual. Banyak lembaga pendidikan, termasuk sekolah, yang menerapkan metode semacam ini dalam kurikulumnya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka berbiaya sangat mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s