Sebuah Refleksi ; Coretan Warna Anak yang Membingungkan Orang Tua


pegang tanganku, agar aku bisa mewarnai dengan indah walau berbeda warna denganmu

Seorang anak perempuan mengambil crayon dan buku gambar dari dalam tas ransel kecil bergambar Spongebob. Ia membuka halaman demi halaman dan memilih gambar yang menurutnya menarik lalu mulai mewarnai setiap gambarnya dengan warna yang berbeda.

Goresan crayon padatnya belumlah semahir pelukis ternama, sehingga kadang warna itu keluar dari garis gambar, kadangkala komposisi warna yang digabungkan sedikit memberi nuansa keganjilan. Kadang ia mewarnai angsa dengan warna hitam, air kolam dengan warna hijau, rumput dengan warna kuning dan bunga-bunga yang dimerahkan semua.

Sang ibu yang tadi menyetrika baju melempar sejenak pada aktivitas anaknya, lalu berujar.

“Nana kenapa mewarnai seperti itu?”

“Nana suka warna ini Ma…”

“Kalau mewarnai itu dilihat dulu kira-kira cocok enggak sama gambarnya…” Suara ibundanya mulai meninggi.

“Jadi warna apa Ma?”

“biasanya bunga warna apa saja, rumput warnanya apa, air warnanya apa. Jangan mewarnai karena Nana suka warnanya aja! Contohnya di luar kan ada.”

Nana diam dan tangannya berhenti menggores kertas bergambarnya. Wajahnya menyiratkan kebingungan. Ia berdiri lalu melangkah keluar. Dilihatnya beberapa bunga yang ada di halaman rumahnya. Lalu kembali lagi bermain dengan crayon dan kertas gambar.

Saat ibunya kembali melihat hasil dari buku gambar yang diwarnai Nana. Nana malah dimarahi karena gambar itu jadi tampak kacau di mata ibunya. Nana pun diancam tidak dibelikan buku gambar lagi jika masih mewarnai asal-asalan.

Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik buat anaknya, paling tidak orangtua ingin anaknya lebih baik dari orangtuanya, entah itu pendidikannya sampai pada kehidupan pribadinya. Lalu mereka akan menjadi pembuat keputusan yang membatalkan keinginan anaknya. Tak ubahnya seperti orangtua yang menginginkan anaknya menjadi putih, merah atau biru, padahal si anak belum tentu menginginkan warna yang sama.

Sering kali orangtua meminta anaknya untuk melakukan ini, menjadi itu, melarang ini, menyuruh itu tanpa menjelaskan dengan baik mengapa anak harus melakukannya. Mereka meminta anaknya menjadi sesuatu yang diluar kemampuan anaknya, memaksakan pendapatnya untuk diterima si anak tanpa lebih dahulu menanyakan keinginan si anak. Berapa banyak anak yang mengambil studi yang tidak sesuai dengan minat dan bakatnya hanya karena pilihan orangtuanya.

Ada pula orangtua yang sering memberikan komentar negatif kala anaknya gagal melakukan sesuatu dan jarang memberikan penghargaan berupa sanjungan dan sedikit pujian kala anaknya melakukan sebuah keberhasilan.

Anak-anak sejatinya ingin menjadi dirinya sendiri dan butuh sedikit polesan orangtuanya agar mereka menjadi pribadi tangguh, percaya diri dan yakin pada kemampuannya. Saat mereka mendapatkan hambatan dari orang terdekatnya, saat itulah jiwa mereka mulai rapuh, rasa percaya diri mereka terkikis dan pada akhirnya mereka jadi anak-anak yang kurang kreatif dan mandiri.

Alangkah lebih baik setiap orangtua memahami anaknya dengan baik, mengajaknya berkomunikasi dan menanyakan pendapatnya sebelum menasehatinya barangkali cara yang tepat untuk proses kematangannya berfikir dan menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Tidak hanya wanita yang ingin dimengerti, anak juga…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s