Manusia Instan ?

Oleh: Iwan Gunawan

Guru SD Salman Al Farisi Bandung

Mendengar kata “instant”, pikiran kita mungkin akan tertuju pada mie instant, makanan instant, atau bumbu masak instant. Itu tidak salah, karena memang kata tersebut sering dicantumkan secara nyata pada pembungkusnya, sehingga setiap orang bisa membacanya. Tetapi pernahkan kita mendengar kata “instant” yang ditujukan untuk manusia? Tampaknya hal tersebut ‘mungkin’ mengada-ada. Benarkah demikian? Ayo kita telusuri.

Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses untuk menciptakan kedewasaan pada manusia. Proses yang dilalui untuk mencapai kedewasaan tersebut membutuhkan waktu yang lama, karena aspek yang ingin dikembangkan bukanlah hanya kognitif semata-mata melainkan mencakup semua aspek kehidupan, termasuk didalamnya nilai-nilai ketuhanan.

Apabila kita cermati secara mendalam, ternyata ‘pendidikan’ sudah mengalami pergeseran makna dan penyempitan nilainya, menuju pada ‘pengajaran’ yang lebih cenderung mengagungkan ‘angka’ (score).

Disadari atau tidak, kita pada saat ini telah digiring untuk membentuk anak kita menjadi manusia-manusia instant yang sekali pakai, dan tidak bertahan lama. Hal ini semakin terasa, disaat menjelang ujian akhir sekolah atau ujian nasional. Dimana pada saat itu banyak orang tua yang dengan gencarnya mencari “lembaga bimbingan belajar” untuk mendrill dan ‘memaksakan’ anak-anaknya agar bisa menguasai bidang studi yang diujikan, dalam waktu yang relative singkat. Lalu dimana peran sekolah selama ini, apabila anak-anak didiknya masih ‘harus’ mencari bimbingan belajar?

Suatu hari ada seorang ibu di Bandung yang mendatangi sekolah anaknya untuk mengadukan keluhan anaknya yang tidak bisa masuk sekolah lanjutan (SMP) yang berwawasan internasional (SBI), hanya karena nilai raport anaknya tidak memenuhi standar rata-rata yang ditentukan yaitu 7,50, sedangkan anak tersebut nilai rata-ratanya 7.45.

Diakhir penyampaian keluhan pada wakil kepala sekolah bidang kurikulum, si ibu tersebut tanpa ada rasa malu mengatakan, “mengapa sekolah ini tetap mempertahankan skor asli, dan tanpa ada keinginan untuk mengkatrol nilai. Padahal sekolah-sekolah yang ada sekarang sudah lazim menerapkan seperti itu.”. Akan tetapi diluar dugaan, anaknya yang sejak dari tadi menyimak pembicaraan orang tuanya, dengan tenang menaggapi, “bu, biarlah nilai saya seperti itu. Kalau nanti diubah, saya khawatir nilai raport saya tidak barokah”.

Kejadian ini, mungkin tidak hanya terjadi di Bandung, bisa saja terjadi di tempat lain. Kisah ini telah memberikan suatu pelajaran pada kita bahwa nilai-nilai luhur yang selama ini disampaikan oleh para guru, pada akhirnya akan dihancurkan dan dikalahkan oleh angka-angka. Betapa banyak orang tua yang seolah-olah mengecilkan arti pendidikan yang telah dienyam oleh anaknya selama ini, apabila pada akhir masa sekolah nilainya ujian anaknya jelek. Sedangkan perilaku-perilaku yang baik seperti taat pada orang tua dan guru, rajin sholat, tidak suka berbohong, berani memimpin dan perilaku baik lainnya, jarang disentuh orang tua sebagai kriteria keberhasilan suatu pendidikan. Betapa jawaban anak tersebut lebih mulia sebagai hasil pendidikan dibandingkan ambisi orang tuanya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena memang pendidikan kita belum menjadikan pembentukan karakter sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan, dan masih menjadikan ‘angka-angka’ sebagai patokannya. Akibatnya banyak sekolah-sekolah yang memberi nilai ‘instan’ hanya untuk memenuhi ambisi orang tua dan menjaga citra sekolahnya sebagai sekolah yang unggul dan berprestasi, tidak peduli anak-anaknya nanti kelipungan dan tergusur mengejar materi yang tidak dikuasainya di sekolah lanjutan.

Memasukan anak ke lembaga bimbingan belajar tidaklah salah, kalau memang tujuannya hanya untuk menutupi kekurangan pada anaknya pada saat belajar, misalnya kurang menguasai matematika. Akan tetapi apabila hal tersebut, dijadikan sebagai penentu dan patokan keberhasilan pendidikan anak semata-semata yang menjadikan ‘angka’ sebagai raja tampaknya kita telah berperilaku tidak bijak pada anak kita, dan bersiaplah pada akhirnya nanti anak kita hanya menjadi anak ‘karbitan’ pada bidangnya. Kita telah digiring untuk menggapai tujuan jangka pendek semata

Proses menjadikan manusia instant, bukan hanya terjadi pada bidang pendidikan saja, melainkan juga pada bidang yang lain. Kita lihat pada saat ini menjamurnya kontes dan lomba-lomba yang ‘menghasilkan’ artis instant, seperti mamamia, akademi fantasi, KDI, dan masih banyak acara lainnya. Tetapi coba kita simak, berapa persen para lulusan lomba dan kontes tersebut yang bisa bertahan lama di pentas keartisan. Hampir sebagian besar lulusan tersebut menyandang gelar ‘layu sebelum berkembang’. Adakah diantara lulsan tersebut yang bisa melegenda seperti Chrisye, Titik Puspa, Vina Panduwinata, atau mungkin Deddy Mizwar? Mereka-mereka ini telah ditempa oleh sebuah perjuangan untuk bertahan hidup, keinginan belajar yang kuat dan satu hal yang pasti mereka tidak mengenal kata “instan’, sehingga dalam hidupnya tidak ada kata “layu sebelum berkembang”.

Ayo bangun negeri ini dengan generasi-generasi yang tangguh, ulet, dan mau terus belajar dan berjuang. Jauhkan anak-anak kita dari paham ‘instan people’, yang bisa melahirkan para pencari uang instant (koruptor), pencari jalan kemudahan (penyuap) dan generasi-generasi merugikan lainnya.

Teringat pada pepatah Imam Syafii ‘Tak akan kau dapatkan ilmu, kecuali dengan waktu yang lama, bersahabat dengan guru, ada biaya yang cukup, rajin dan ulet,…”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s