Bermain dan Anak

“Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, la harus membangun pengertian itu sendiri, is harus menemukannya sendiri.”(Piaget, 1972, p.27)

Anak-anak belajar melalui permainan mereka. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain, dan perhatian orang dewasa menolong anak-anak berkembang secara fisik, emosi, kognisi, dan sosial. Teori dan penelitian bermain seharusnya menjadi dasar untuk program anak usia dini yang bermutu tinggi. Melalui kegiatan bermain, anak mengeksprersikan segenap perasaannya dan semua indera bekerja aktif. Informasi yang ditangkap indera disampaikan ke otak sebagai rangsangan, sehingga sel otak aktif membentuk perkawatan(jaringan)

Lingkungan bermain yang bermutu tinggi untuk anak usia dini mendukung tiga jenis bermain yang dikenal dalam penelitian anak usia dini (Weikart, Rodgers, & Adcock, 1971) dan teori dari Erik Erikson, Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Anna Freud:

A. Sensorimotor atau Main Fungsional

Istilah ini diambil dari kerja Piaget dan Smilansky (1968). Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Kebutuhan sensorimotor didukung disediakan kesempatan untuk berhubungan dengan berbagai bahan dan slat permainan, balk di dalam maupun di luar ruangan. Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika diberi kesempatan bergerak secara bebas, bermain di halaman atau di lantai atau di meja dan di kursi. Kebutuhan bermain sensorimotor anak didukung bila lingkungan balk di dalam maupun di luar ruangan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur dan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak.

B. Main Peran (Mikro don Makro)

Main peran juga disebut main simbolik, pura-pura, make-believe, fantasi, imajinasi, atau main drama, sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygosky, 1967; Erikson, 1963). Main peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama keiompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan pengambilan sudut pandang spasial, keterampilan pengambilan sudut pandang afeksi, keterampilan pengambilan sudut pandang kognisi. (Gowen, 1995).

Main peran membolehkan anak memproyeksikan dirinya ke masa depan dan menciptakan kembali masa lalu. Mutu pengalaman main peran tergantung pada variabel di bawah ini:

  • Cukup waktu untuk bermain (penelitian menyarankan paling sedikit satu jam).
  • Ruang yang cukup, sehingga perabotan tidak penuh sesak, alatalat mudah dijangkau, dan paling sedikit empat sampai enam anak dapat bermain dengan nyaman.
  • Alat-alat untuk mendukung bermacam-macam adegan permainan.
  • Orang dewasa yang dapat memberi pijakan bila dibutuhkan untuk meningkatkan keterampilan main peran anak.

Hubungan sosial yang dibangun hingga menjadi main peran pada anak usia 12 – 36 bulan sebaiknya didukung untuk anak yang berkebutuhan khusus maupun tidak. Orang dewasa harus peduli terhadap ekspresi wajah bahwa wajah sebagai mainan pertama, menjawab dengan senyuman, hubungan timbal batik, ekspresi seluruh badan, rasa cemas terhadap orang-orang yang tidak dikenal, dan permainan dengan gerakan badan inilah menjadi dasar yang penting pada main peran selanjutnya.

Erik Erikson (1963) menjelaskan dua jenis main peran: mikro dan makro. Main peran mikro anak memainkan peran dengan menggunakan alat bermain berukuran kecil, contoh kandang dengan binatang-binatangan dan orangorangan kecil. Main peran makro anak bermain menjadi tokoh menggunakan alat berukuran besar yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran-peran, contoh memakai baju dan menggunakan kotak kardus yang dibuat menjadi mobil-mobilan atau benteng.

Sentra main peran harus ada di dalam dan di luar, mendukung anak dengan alat dan perlengkapan untuk bermacam-macam main peran. Untuk anak tiga sampai enam tahun dengan perkembangan ferlambat dari anak usia dini, alat harus mendukung tema selain dari tema sekeliling.

C. Main Pembangunan

Main pembangunan juga dibahas dalam kerja Piaget (1962) dan Smilansky (1968). Piaget menjelaskan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan keterampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Dr. Charles, H. Wolfgang, dalam bukunya yang berjudul School for Young Children (1992), menjelaskan suatu tahap yang berkesinambungan dari bahan yang paling cair atau messy, seperti air, ke yang paling terstruktur, seperti puzzle. Cat, krayon, spidol, play dough, air, dan pasir dianggap sebagai bahan main pembangunan sifat cair atau bahan alam. Balok unit, LegoTM, balok berongga, Bristle BlockiM, dan bahan lainnya dengan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengarahkan bagaimana anak meletakkan bahan-bahan tersebut bersama menjadi sebuah karya, dianggap sebagai bahan main pembangunan yang terstruktur. Anak dapat mengekspresikan dirinya dalam bahan-bahan ini mengembangkan dari main proses atau main sensorimotor pada anak usia di bawah tiga tahun, ke tahap main simbolik pada anak usia tiga – enam tahun yang dapat terlibat dalam hubungan kerja sama dengan anak lain dan menciptakan karya nyata.

Anak harus memiliki waktu untuk bermain, tempest untuk bermain, perabotan yang tepat untuk mendukung main mereka, dan pijakan dari guru ketika dibutuhkan. Dengan konsep ini dalam pikiran orang dewasa dalam Iingkungan anak usia dini harus ditekankan untuk menyediakan tiga jenis main, intensitas dan densitas dari pengalaman bermain.

Contoh: Anak dibolehkan untuk memilih dari serangkaian kegiatan main setiap hari yang menyediakan kesempatan untuk terlibat dalam main peran, pembangunan dan sensorimotor.

Konsep intensitas menekankan pada jumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk berpindah melalui tahap perkembangan kognisi, sosial, emosi, dan fisik yang dibutuhkan agar dapat berperan serta dalam keberhasilan sekolah kemudian hari.

Contoh: Anak-anak harus memiliki pengalaman harian yang membolehkan mereka untuk berhubungan dengan bahan pembangunan sifat Cain yang menyediakan kesempatan untuk menggambar, melukis, dan keterampilan awal menulis. Bahan-bahan seperti kertas dengan tekstur, ukuran, dan warna yang berbeda, dengan spidol dan krayon, papan lukis dengan kertas berbagai ukuran dan kuas-kuas akan membantu anak sepanjang waktu untuk berkembang melalui tahap awal dari corat-coret ke penciptaan sesuatu yang mewakili wujud nyata dan tahap awal dari corat-coret ke menulis kata dan kemudian kalimat.

Konsep dari densitas menekankan pada kegiatan yang berbeda yang disediakan untuk anak. Kegiatan-kegiatan ini harus memperkaya kesempatan pengalaman anak melalui tiga jenis main dan dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan perkembangan anak.

Diperlukan orang dewasa yang dapat memberi dukunga sebagai dasar untuk program anak usia dini yang bermutu. Tetapi semua anak tidak mendapatkan keuntungan secara penuh tanpa rencana, penataan lingkungan, dan pijakan orang dewasa untuk pengaiaman. Pengalaman bermain anak seharusnya direncanakan dengan hati-hati dan diberi pijakan untuk memenuhi kebutuhan setiap anak. Empat langkah pijakan berikut ini untuk mencapai mutu pengalaman main (CCCRT, 1999):

  • Pijakan Lingkungan Main
  • Pijakan Pengalaman Sebelum Main
  • Pijakan Pengalaman Main Setiap anak
  • Pijakan Pengalaman Setelah Main

    Pengalaman main yang bermutu membutuhkan orang dewasa yang tahu tahap perkembangan anak dalam setiap jenis main. Pengetahuan tentang tahap perkembangan anak digunakan untuk merencanakan, menata, memberi pijakan yang diperkaya dengan pengalaman keaksaraan. Pengalaman-pengalaman ini harus mendukung perolehan keterampilan dan pengetahuan yang mendukung keberhasilannya di sekolah.

    TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

    A. TONGGAK PERKEMBANGAN BAYI SELAMA TAHUN PERTAMA

  1. Mengembangkan rasa percaya dan ikatan dengan orang lain
  1. Mengulang-ulang kegiatan (ex:menendang)
  2. Senyum sosial (1 – 4 bin)
  3. Mulai membuat suara dan menjawab percakapan
  4. Takut pada orang acing (bulan terakhir 10 bin)
  5. Ketetapan benda (mulai 10 -12 bin)
  6. Mengulang kembaii gerakan untuk kesenangan
  7. Menjelajah lingkungan seiring peningkatan pengendalian tubuh

    LINGKUNGAN UNTUK BAYI :

    1. Harus aman, merangsang, menghargai, konsisten dan tanggap
    2. Pengasuh harus memiliki pengetahuan perkembangan anak
    3. Harus menyediakan bermacam ragam bahan main yang mudah dijangkau sehingga anak dapat berhubungan dengan bahan tsb
    4. Harus secara rutin memberikan perhatian pada setiap anak dan pengalaman-pengalaman belajar
    5. Harus menyediakan kesempatan waktu main di lantai dengan bahan-bahan main, anak lainnya, dan orang dewasa yg merawat
    6. Harus menyediakan setiap bayi dengan jadwal masing-masing
    7. Harus ada tokoh tetap yang mengasuh yang memahami perkembangan, pertumbuhan, respek, memahami sensitivitas bayi
    8. Sentuhan penuh kasih, perhatian, dan komunikasi yang hangat selama berinteraksi dengan pengasuh.
    9. Lingkungan yang mendukung berkembangnya sensorimotor, bahasa, emosional, kognitif, sensitivitas, dan mobilitas.

      B.    TONGGAK PERKEMBANGAN ANAK USIA SATU HINGGA TIGA TAHUN

  • Mencari kekuatan/kemandirian
  • Tantrum/mengamuk
  • Munculnya bahasa
  • Munculnya main peran (ex: memakai sepatu dewasa)
  • Mulai main sosial dengan anak lain
  • Mulai latihan ke kamar kecil
  • Senang pada kebiasaan dan rutinitas
  1. LINGKUNGAN UNTUK SATU - TIGA TAHUN

  • Harus menawarkan bermacam-macam bahan main dan pilihan
  • Harus menerima bahwa mengamuk adalah bagian normal dari perkembangan
  • Harus mengabaikan mengamuk dan mendorong perkembangan bahasa
  • Harus membedakan antara mengamuk untuk mengendalikan orang atau memang ada kebutuhan untuk disayang
  • Harus ada orang dewasa yang berinteraksi dengan anak, mencontohkan dan menyandikan tindakan dengan bahas
  • Harus memberikan pengalaman dengan musik, nyanyian, dongeng, main jari, dan kegiatan lain yang memperkuat perkembangan bahasa
  • Harus ada orang dewasa dan bahan-bahan yang mendukung perkembangan main peran
  • Harus menyediakan ruang dan bahan main di dalam dan di luar ruangan untuk mendukung penjelajahan, penemuan, dan kemandirian
  • Harus ada orang dewasa yang memberikan perhatian pada perbedaan setiap anak dan mendukung keberhasilan tanpa rasa malu atau bersalah ketika latihan ke kamar kecil
  • Harus menyediakan jadwal yang dapat diperkirakan sebelumnya, menerangkan perubahan pada anak, dan memberikan waktu pada anak untuk peralihan
  • Harus ada orang dewasa yang ajeg dalam menanggapi anak

    C.    TONGGAK PERK’MBANGAN ANAK USIA SATU HINGGA TIGA TAHUN

  1. Melanjutkan pengendalian pada gerakan kasar dan halus
  2. Peningkatan perkembangan bahasa
  3. Menggunakan bahasa untuk memecahkan masalah
  4. Menggunakan bahasa untuk memperkuat main dengan teman sebaya dan orang dewasa
  5. Mulai munculnya hubungan sosial bekerjasama dengan anak lain
  6. Mampu menggunakan berbagai jenis bahan main
  7. Kemajuan dari sensorimotor atau main proses pada anak toddler ke kemampuan untuk mewakili dunia nyata dalam balok, papan lukis, dan bermacam-macam bahan main pembangunan lainnya

LINGKUNGAN UNTUK ANAK USIA 3 — 6 TAHUN :

  • Harus menyediakan kesempatan main di dalam dan di luar ruangan
  • Harus menyediakan kesempatan kepada anak untuk mengadakan hubungan dengan orang dewasa dan anak lainnya dalam lingkungan yang kaya dengan bahasa
  • Harus menyediakan pengalaman dengan musik, sajak, cerita, dan main peran untuk memperkuat perkembangan bahasa
  • Harus menyediakan bermacam ragam bahan main yang mendukung tiga jenis main (sensorimotor, peran, dan pembangunan)
  • Harus ada orang dewasa yang menjadi contoh dan mendukung perkembangan bahasa anak untuk memecahkan masalah
  • Harus menyediakan kesempatan harian untuk anak main dengan bermacam ragam bahan main
  • Harus ada orang dewasa yang memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mendukung perkembangan anak melalui main

Sumber : Pelatihan Workshop Nasional Peningkatan Pembelajaran Anak, Banjarbaru, Maret 2011

Hadist Pendidikan

Niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Qur’an Al mujadalah 11)

Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

Seseorang yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu niscaya Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Syurga (Shahih Al jami)

Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syorga. (HR. Muslim).

“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”(Bukhari)

Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Alloh sampai dia kembali  (Shahih Tirmidzi)

Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Qur’an dan yang mengajarkannya (HR bukhari )

Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang ‘abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )

Siapa yang Alloh kehendaki menjadi baik maka Alloh akan memberikannya pemahaman terhadap Agama (Sahih Ibnu Majah)

Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi saw bersabda, Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal, yaitu seorang laki-laki yang diberi harta oleh Allah lalu harta itu dikuasakan penggunaannya dalam kebenaran, dan seorang laki-laki diberi hikmah oleh Allah di mana ia memutuskan perkara dan mengajar dengannya.(Bukhari)

Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al Qur’an dan ahlinya, serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan aka dilipat gandakan sepuluh, saya tidak mengatakan ,”Alif,lam,mim” satu huruf , tetapi alif satu huruf , lam satu huruf , dan mim satu huruf,(HR Bukhori)

Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka … neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadis riwayat Abu Musa ra.: Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus. (Shahih Muslim No.4232)

Abu Musa mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Perumpamaan apa yang diutuskan Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gembur yang dapat menerima air (dan dalam riwayat yang mu’allaq disebutkan bahwa di antaranya ada bagian yang dapat menerima air), lalu tumbuhlah rerumputan yang banyak. Daripadanya ada yang keras dapat menahan air dan dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia lalu mereka minum, menyiram, dan bertani. Air hujan itu mengenai kelompok lain yaitu tanah licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan apa yang diutuskan kepadaku bermanfaat baginya. Ia pandai dan mengajar. Juga perumpamaan orang yang tidak menghiraukan hal itu, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah yang saya diutus dengannya.” (Bukhari)

Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud)

Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq’alaih)

Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im)

Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

“Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”, * Telah berkata al-Baihaqy di kitabnya al-Madkhal (hal. 242) dan di kitabnya Syu’abul Iman (4/291 dan ini lafadznya), “Hadits ini matannya masyhur sedangkan isnadnya dla’if. Dan telah diriwayatkan dari beberapa jalan (sanad) yang semuanya dla’if.”

Wallahu a’lam..

Dari berbagai sumber

Sekolah Bertaraf Internasional

Undang-Undang Sisdiknas 2003 memperkenalkan klasifikasi sekolah baru. Sekolah itu antara lain disebut Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Sekolah dengan Kategori Mandiri (SKM), dan kelompok Sekolah Biasa (SB). Pada SBI, pihak penyelenggara pendidikan diberi ruang untuk menggunakan silabus pembelajaran dan penilaian yang umumnya dipakai pada sekolah menengah di negara-negara yang tergabung dalam OECD.

Kebijakan ini pun kemudian “rame-rame” direspons oleh sekolah-sekolah di Tanah Air. Syamsir Alam (2008) menyebut pada tahun 2004/2005, SMA Negeri 70 Jakarta dan SMA Labschool mulai mengadopsi silabus Cambridge Advance Level (A Level) guna memperkaya kurikulum nasional pada siswanya. Selanjutnya program yang sama diperkenalkan di SMA Negeri 8 Jakarta, SMA Negeri 21 Jakarta, dan SMA Negeri 68 Jakarta.

Sebagaimana diketahui, program Cambridge A Level merupakan golden standard-nya Cambridge International Examination (CIE) yang sertifikatnya sudah diakui sejumlah universitas unggulan (ivy league) mancanegara, seperti University of Cambridge, Oxford University, Harvard University, MIT, dan Stanford University. Kelebihan lain dari program ini adalah pembelajaran dan penilaian Cambridge IGCSE lebih menekankan pada kemampuan pemecahan masalah, menumbuhkan pemikiran kreatif, dan autentik (contextual learning).

Saat ini sekolah bertaraf internasional (SBI) itu sudah tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Tanah Air. Diperkirakan, menjelang berakhirnya tahun anggaran 2009, jumlah SBI akan mencapai 260 sekolah, terdiri dari SMA 100 sekolah, SMP (100), dan SMK (60).

SBI Pemicu Kesenjangan

Sebenarnya inti dari SBI ini adalah semakin tumbuhnya kesadaran akan pentingnya untuk terus belajar dan berefleksi serta berkembangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap pendidikan demokratis dan multikultural. Guru dalam SBI didesain sebagai sosok yang sangat paham makna dari konsep pembelajaran deep-learning, higher order thinking skills, dan contextual learning bagi siswa dan semakin mengetahui keterbatasan dan manfaat dari pembelajar an rote learning yang selama ini biasa dipakai di sekolah.

Sementara itu, kemajuan pada siswa ditunjukkan dengan semakin tampaknya sikap kemandirian, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, kejujuran, toleransi, dan berani menghadapi risiko.

Meskipun SBI ini merupakan salah satu bentuk terobosan Depdiknas untuk mendongkrak mutu pendidikan di Indonesia, namun tak bisa dipungkiri ada beberapa hal yang cukup merisaukan dengan berkembangnya SBI ini di Indonesia.

Pertama, munculnya kesenjangan di antara peserta didik. Jika SBI ini diterapkan dengan pembiayaan penuh dari pemerintah dan diperuntukkan seluruh siswa di Indonesia, mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Sekolah-sekolah yang mulai membuka “jalur” SBI ini nyatanya memungut dana belasan juta rupiah bagi setiap siswa yang ingin masuk jalur ini.

Di Bogor misalnya, untuk bisa masuk SMP berlabel SBI, orang tua siswa harus menyetor sekitar Rp 12 juta sebagai dana masuk, belum lagi SPP bulanan dan biaya lainnya yang tentu untuk mengejar standar internasional butuh dana tidak sedikit. Untuk SMA lebih besar lagi. Mahalnya kelas SBI jelas hanya bisa dijangkau oleh orang tua berpenghasilan besar. Jika demikian bagaimana dengan siswa cerdas yang orang tuanya hanya pedagang sayur, tukang becak, atau buruh cuci, tidakkah siswa ini berhak mengenyam SBI? Tidakkah mereka berhak atas masa depan yang cerah dengan mencicipi pendidikan berkualitas?

Belum lagi efek psikologis yang bakal diderita siswa lain di luar kelas SBI. Betapa tidak, dalam satu sekolah yang sama, pagar dan gedung yang sama harus dibedakan statusnya sebagai siswa SBI yang notabene berkelas/keren, dengan siswa berstatus biasa. Ini yang terjadi dengan salah satu SMA di Bogor, di mana siswa-siswa dari orang tua berduit begitu melaju dengan berbagai program pembelajaran kelas internasional, sementara tak sedikit rekan mereka yang hanya bisa “melongo” menyaksikan ketidakadilan nasib.

Terkesan Buru-buru

Kedua, terobosan ini terkesan buru-buru dijalankan Depdiknas. Ini tampak dari munculnya berbagai problem manajemen tatkala kecepatan sekolah-sekolah dalam melakukan perubahan (mengadopsi silabus pembelajaran dan penilaian asing) masih belum diimbangi dengan upaya yang sistematis untuk memperkuat dan meningkatkan mutu sumber daya kependidikan (kepala sekolah, guru, dan manajemen), membangun sistem kontrol dan akuntabilitas atas seluruh kegiatan akademis dan administrasi keuangan sekolah.

Akibatnya, pertumbuhan SBI yang begitu cepat itu malah menimbulkan masalah, kontraproduktif, dan kehilangan arah. Dengan hilangnya pesan perubahan, yang sebelumnya tercermin dari perubahan manajemen sekolah yang menjadi lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif, program SBI ini malah hanya membawa kecemasan baru di masyarakat. Semestinya Depdiknas terlebih dulu melakukan pemetaan, pengkajian dan persiapan dari segala sisi sebelum menggulirkan program tersebut, sehingga keresahan tak menjalar di masyarakat.

Niat pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air memang patut kita berikan apresiasi. Namun, pemerintah jangan hanya sebatas menggulirkan target-target pencapaian makro yang dilengkapi dengan paket-paket kebijakan umum, namun kemudian melempar tanggung jawab pelaksanaan (termasuk aspek pendanaan) kepada masyarakat. Karena hal itu pada akhirnya tidak saja membebani masyarakat dengan mahalnya biaya pendidikan, namun juga akan menciptakan jurang kesenjangan, dan membiarkan anak-anak dari kalangan miskin tergilas dalam kompetisi lantaran ketiadaan dana.

Jika sudah demikian maka lingkaran kemiskinan pengetahuan akan terus berputar-putar di dalam arena kehidupan orang-orang tak berpunya. Kesempatan untuk memperbaiki nasib melalui pendidikan tidak akan pernah terwujud karena lagi-lagi mereka harus menerima nasib sebagai orang miskin yang tak bisa mengenyam pendidikan mahal.

Sebenarnya kualitas pendidikan itu yang ingin diraih, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan berkualitas di negeri ini identik dengan biaya mahal. Kecuali jika pemerintah mau mengubah paradigma itu.

FAHMI FAHRIZA, Direktur KALAM Center Bogor.

Manusia Instan ?

Oleh: Iwan Gunawan

Guru SD Salman Al Farisi Bandung

Mendengar kata “instant”, pikiran kita mungkin akan tertuju pada mie instant, makanan instant, atau bumbu masak instant. Itu tidak salah, karena memang kata tersebut sering dicantumkan secara nyata pada pembungkusnya, sehingga setiap orang bisa membacanya. Tetapi pernahkan kita mendengar kata “instant” yang ditujukan untuk manusia? Tampaknya hal tersebut ‘mungkin’ mengada-ada. Benarkah demikian? Ayo kita telusuri.

Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses untuk menciptakan kedewasaan pada manusia. Proses yang dilalui untuk mencapai kedewasaan tersebut membutuhkan waktu yang lama, karena aspek yang ingin dikembangkan bukanlah hanya kognitif semata-mata melainkan mencakup semua aspek kehidupan, termasuk didalamnya nilai-nilai ketuhanan.

Apabila kita cermati secara mendalam, ternyata ‘pendidikan’ sudah mengalami pergeseran makna dan penyempitan nilainya, menuju pada ‘pengajaran’ yang lebih cenderung mengagungkan ‘angka’ (score).

Disadari atau tidak, kita pada saat ini telah digiring untuk membentuk anak kita menjadi manusia-manusia instant yang sekali pakai, dan tidak bertahan lama. Hal ini semakin terasa, disaat menjelang ujian akhir sekolah atau ujian nasional. Dimana pada saat itu banyak orang tua yang dengan gencarnya mencari “lembaga bimbingan belajar” untuk mendrill dan ‘memaksakan’ anak-anaknya agar bisa menguasai bidang studi yang diujikan, dalam waktu yang relative singkat. Lalu dimana peran sekolah selama ini, apabila anak-anak didiknya masih ‘harus’ mencari bimbingan belajar?

Suatu hari ada seorang ibu di Bandung yang mendatangi sekolah anaknya untuk mengadukan keluhan anaknya yang tidak bisa masuk sekolah lanjutan (SMP) yang berwawasan internasional (SBI), hanya karena nilai raport anaknya tidak memenuhi standar rata-rata yang ditentukan yaitu 7,50, sedangkan anak tersebut nilai rata-ratanya 7.45.

Diakhir penyampaian keluhan pada wakil kepala sekolah bidang kurikulum, si ibu tersebut tanpa ada rasa malu mengatakan, “mengapa sekolah ini tetap mempertahankan skor asli, dan tanpa ada keinginan untuk mengkatrol nilai. Padahal sekolah-sekolah yang ada sekarang sudah lazim menerapkan seperti itu.”. Akan tetapi diluar dugaan, anaknya yang sejak dari tadi menyimak pembicaraan orang tuanya, dengan tenang menaggapi, “bu, biarlah nilai saya seperti itu. Kalau nanti diubah, saya khawatir nilai raport saya tidak barokah”.

Kejadian ini, mungkin tidak hanya terjadi di Bandung, bisa saja terjadi di tempat lain. Kisah ini telah memberikan suatu pelajaran pada kita bahwa nilai-nilai luhur yang selama ini disampaikan oleh para guru, pada akhirnya akan dihancurkan dan dikalahkan oleh angka-angka. Betapa banyak orang tua yang seolah-olah mengecilkan arti pendidikan yang telah dienyam oleh anaknya selama ini, apabila pada akhir masa sekolah nilainya ujian anaknya jelek. Sedangkan perilaku-perilaku yang baik seperti taat pada orang tua dan guru, rajin sholat, tidak suka berbohong, berani memimpin dan perilaku baik lainnya, jarang disentuh orang tua sebagai kriteria keberhasilan suatu pendidikan. Betapa jawaban anak tersebut lebih mulia sebagai hasil pendidikan dibandingkan ambisi orang tuanya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena memang pendidikan kita belum menjadikan pembentukan karakter sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan, dan masih menjadikan ‘angka-angka’ sebagai patokannya. Akibatnya banyak sekolah-sekolah yang memberi nilai ‘instan’ hanya untuk memenuhi ambisi orang tua dan menjaga citra sekolahnya sebagai sekolah yang unggul dan berprestasi, tidak peduli anak-anaknya nanti kelipungan dan tergusur mengejar materi yang tidak dikuasainya di sekolah lanjutan.

Memasukan anak ke lembaga bimbingan belajar tidaklah salah, kalau memang tujuannya hanya untuk menutupi kekurangan pada anaknya pada saat belajar, misalnya kurang menguasai matematika. Akan tetapi apabila hal tersebut, dijadikan sebagai penentu dan patokan keberhasilan pendidikan anak semata-semata yang menjadikan ‘angka’ sebagai raja tampaknya kita telah berperilaku tidak bijak pada anak kita, dan bersiaplah pada akhirnya nanti anak kita hanya menjadi anak ‘karbitan’ pada bidangnya. Kita telah digiring untuk menggapai tujuan jangka pendek semata

Proses menjadikan manusia instant, bukan hanya terjadi pada bidang pendidikan saja, melainkan juga pada bidang yang lain. Kita lihat pada saat ini menjamurnya kontes dan lomba-lomba yang ‘menghasilkan’ artis instant, seperti mamamia, akademi fantasi, KDI, dan masih banyak acara lainnya. Tetapi coba kita simak, berapa persen para lulusan lomba dan kontes tersebut yang bisa bertahan lama di pentas keartisan. Hampir sebagian besar lulusan tersebut menyandang gelar ‘layu sebelum berkembang’. Adakah diantara lulsan tersebut yang bisa melegenda seperti Chrisye, Titik Puspa, Vina Panduwinata, atau mungkin Deddy Mizwar? Mereka-mereka ini telah ditempa oleh sebuah perjuangan untuk bertahan hidup, keinginan belajar yang kuat dan satu hal yang pasti mereka tidak mengenal kata “instan’, sehingga dalam hidupnya tidak ada kata “layu sebelum berkembang”.

Ayo bangun negeri ini dengan generasi-generasi yang tangguh, ulet, dan mau terus belajar dan berjuang. Jauhkan anak-anak kita dari paham ‘instan people’, yang bisa melahirkan para pencari uang instant (koruptor), pencari jalan kemudahan (penyuap) dan generasi-generasi merugikan lainnya.

Teringat pada pepatah Imam Syafii ‘Tak akan kau dapatkan ilmu, kecuali dengan waktu yang lama, bersahabat dengan guru, ada biaya yang cukup, rajin dan ulet,…”.