Bermain dan Anak

“Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, la harus membangun pengertian itu sendiri, is harus menemukannya sendiri.”(Piaget, 1972, p.27)

Anak-anak belajar melalui permainan mereka. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain, dan perhatian orang dewasa menolong anak-anak berkembang secara fisik, emosi, kognisi, dan sosial. Teori dan penelitian bermain seharusnya menjadi dasar untuk program anak usia dini yang bermutu tinggi. Melalui kegiatan bermain, anak mengeksprersikan segenap perasaannya dan semua indera bekerja aktif. Informasi yang ditangkap indera disampaikan ke otak sebagai rangsangan, sehingga sel otak aktif membentuk perkawatan(jaringan)

Lingkungan bermain yang bermutu tinggi untuk anak usia dini mendukung tiga jenis bermain yang dikenal dalam penelitian anak usia dini (Weikart, Rodgers, & Adcock, 1971) dan teori dari Erik Erikson, Jean Piaget, Lev Vygotsky, dan Anna Freud:

A. Sensorimotor atau Main Fungsional

Istilah ini diambil dari kerja Piaget dan Smilansky (1968). Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Kebutuhan sensorimotor didukung disediakan kesempatan untuk berhubungan dengan berbagai bahan dan slat permainan, balk di dalam maupun di luar ruangan. Kebutuhan sensorimotor anak didukung ketika diberi kesempatan bergerak secara bebas, bermain di halaman atau di lantai atau di meja dan di kursi. Kebutuhan bermain sensorimotor anak didukung bila lingkungan balk di dalam maupun di luar ruangan menyediakan kesempatan untuk berhubungan dengan banyak tekstur dan berbagai jenis bahan bermain yang berbeda yang mendukung setiap kebutuhan perkembangan anak.

B. Main Peran (Mikro don Makro)

Main peran juga disebut main simbolik, pura-pura, make-believe, fantasi, imajinasi, atau main drama, sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygosky, 1967; Erikson, 1963). Main peran dipandang sebagai sebuah kekuatan yang menjadi dasar perkembangan daya cipta, tahapan ingatan, kerja sama keiompok, penyerapan kosa kata, konsep hubungan kekeluargaan, pengendalian diri, keterampilan pengambilan sudut pandang spasial, keterampilan pengambilan sudut pandang afeksi, keterampilan pengambilan sudut pandang kognisi. (Gowen, 1995).

Main peran membolehkan anak memproyeksikan dirinya ke masa depan dan menciptakan kembali masa lalu. Mutu pengalaman main peran tergantung pada variabel di bawah ini:

  • Cukup waktu untuk bermain (penelitian menyarankan paling sedikit satu jam).
  • Ruang yang cukup, sehingga perabotan tidak penuh sesak, alatalat mudah dijangkau, dan paling sedikit empat sampai enam anak dapat bermain dengan nyaman.
  • Alat-alat untuk mendukung bermacam-macam adegan permainan.
  • Orang dewasa yang dapat memberi pijakan bila dibutuhkan untuk meningkatkan keterampilan main peran anak.

Hubungan sosial yang dibangun hingga menjadi main peran pada anak usia 12 – 36 bulan sebaiknya didukung untuk anak yang berkebutuhan khusus maupun tidak. Orang dewasa harus peduli terhadap ekspresi wajah bahwa wajah sebagai mainan pertama, menjawab dengan senyuman, hubungan timbal batik, ekspresi seluruh badan, rasa cemas terhadap orang-orang yang tidak dikenal, dan permainan dengan gerakan badan inilah menjadi dasar yang penting pada main peran selanjutnya.

Erik Erikson (1963) menjelaskan dua jenis main peran: mikro dan makro. Main peran mikro anak memainkan peran dengan menggunakan alat bermain berukuran kecil, contoh kandang dengan binatang-binatangan dan orangorangan kecil. Main peran makro anak bermain menjadi tokoh menggunakan alat berukuran besar yang digunakan anak untuk menciptakan dan memainkan peran-peran, contoh memakai baju dan menggunakan kotak kardus yang dibuat menjadi mobil-mobilan atau benteng.

Sentra main peran harus ada di dalam dan di luar, mendukung anak dengan alat dan perlengkapan untuk bermacam-macam main peran. Untuk anak tiga sampai enam tahun dengan perkembangan ferlambat dari anak usia dini, alat harus mendukung tema selain dari tema sekeliling.

C. Main Pembangunan

Main pembangunan juga dibahas dalam kerja Piaget (1962) dan Smilansky (1968). Piaget menjelaskan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan keterampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Dr. Charles, H. Wolfgang, dalam bukunya yang berjudul School for Young Children (1992), menjelaskan suatu tahap yang berkesinambungan dari bahan yang paling cair atau messy, seperti air, ke yang paling terstruktur, seperti puzzle. Cat, krayon, spidol, play dough, air, dan pasir dianggap sebagai bahan main pembangunan sifat cair atau bahan alam. Balok unit, LegoTM, balok berongga, Bristle BlockiM, dan bahan lainnya dengan bentuk yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengarahkan bagaimana anak meletakkan bahan-bahan tersebut bersama menjadi sebuah karya, dianggap sebagai bahan main pembangunan yang terstruktur. Anak dapat mengekspresikan dirinya dalam bahan-bahan ini mengembangkan dari main proses atau main sensorimotor pada anak usia di bawah tiga tahun, ke tahap main simbolik pada anak usia tiga – enam tahun yang dapat terlibat dalam hubungan kerja sama dengan anak lain dan menciptakan karya nyata.

Anak harus memiliki waktu untuk bermain, tempest untuk bermain, perabotan yang tepat untuk mendukung main mereka, dan pijakan dari guru ketika dibutuhkan. Dengan konsep ini dalam pikiran orang dewasa dalam Iingkungan anak usia dini harus ditekankan untuk menyediakan tiga jenis main, intensitas dan densitas dari pengalaman bermain.

Contoh: Anak dibolehkan untuk memilih dari serangkaian kegiatan main setiap hari yang menyediakan kesempatan untuk terlibat dalam main peran, pembangunan dan sensorimotor.

Konsep intensitas menekankan pada jumlah waktu yang dibutuhkan anak untuk berpindah melalui tahap perkembangan kognisi, sosial, emosi, dan fisik yang dibutuhkan agar dapat berperan serta dalam keberhasilan sekolah kemudian hari.

Contoh: Anak-anak harus memiliki pengalaman harian yang membolehkan mereka untuk berhubungan dengan bahan pembangunan sifat Cain yang menyediakan kesempatan untuk menggambar, melukis, dan keterampilan awal menulis. Bahan-bahan seperti kertas dengan tekstur, ukuran, dan warna yang berbeda, dengan spidol dan krayon, papan lukis dengan kertas berbagai ukuran dan kuas-kuas akan membantu anak sepanjang waktu untuk berkembang melalui tahap awal dari corat-coret ke penciptaan sesuatu yang mewakili wujud nyata dan tahap awal dari corat-coret ke menulis kata dan kemudian kalimat.

Konsep dari densitas menekankan pada kegiatan yang berbeda yang disediakan untuk anak. Kegiatan-kegiatan ini harus memperkaya kesempatan pengalaman anak melalui tiga jenis main dan dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan perkembangan anak.

Diperlukan orang dewasa yang dapat memberi dukunga sebagai dasar untuk program anak usia dini yang bermutu. Tetapi semua anak tidak mendapatkan keuntungan secara penuh tanpa rencana, penataan lingkungan, dan pijakan orang dewasa untuk pengaiaman. Pengalaman bermain anak seharusnya direncanakan dengan hati-hati dan diberi pijakan untuk memenuhi kebutuhan setiap anak. Empat langkah pijakan berikut ini untuk mencapai mutu pengalaman main (CCCRT, 1999):

  • Pijakan Lingkungan Main
  • Pijakan Pengalaman Sebelum Main
  • Pijakan Pengalaman Main Setiap anak
  • Pijakan Pengalaman Setelah Main

    Pengalaman main yang bermutu membutuhkan orang dewasa yang tahu tahap perkembangan anak dalam setiap jenis main. Pengetahuan tentang tahap perkembangan anak digunakan untuk merencanakan, menata, memberi pijakan yang diperkaya dengan pengalaman keaksaraan. Pengalaman-pengalaman ini harus mendukung perolehan keterampilan dan pengetahuan yang mendukung keberhasilannya di sekolah.

    TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

    A. TONGGAK PERKEMBANGAN BAYI SELAMA TAHUN PERTAMA

  1. Mengembangkan rasa percaya dan ikatan dengan orang lain
  1. Mengulang-ulang kegiatan (ex:menendang)
  2. Senyum sosial (1 – 4 bin)
  3. Mulai membuat suara dan menjawab percakapan
  4. Takut pada orang acing (bulan terakhir 10 bin)
  5. Ketetapan benda (mulai 10 -12 bin)
  6. Mengulang kembaii gerakan untuk kesenangan
  7. Menjelajah lingkungan seiring peningkatan pengendalian tubuh

    LINGKUNGAN UNTUK BAYI :

    1. Harus aman, merangsang, menghargai, konsisten dan tanggap
    2. Pengasuh harus memiliki pengetahuan perkembangan anak
    3. Harus menyediakan bermacam ragam bahan main yang mudah dijangkau sehingga anak dapat berhubungan dengan bahan tsb
    4. Harus secara rutin memberikan perhatian pada setiap anak dan pengalaman-pengalaman belajar
    5. Harus menyediakan kesempatan waktu main di lantai dengan bahan-bahan main, anak lainnya, dan orang dewasa yg merawat
    6. Harus menyediakan setiap bayi dengan jadwal masing-masing
    7. Harus ada tokoh tetap yang mengasuh yang memahami perkembangan, pertumbuhan, respek, memahami sensitivitas bayi
    8. Sentuhan penuh kasih, perhatian, dan komunikasi yang hangat selama berinteraksi dengan pengasuh.
    9. Lingkungan yang mendukung berkembangnya sensorimotor, bahasa, emosional, kognitif, sensitivitas, dan mobilitas.

      B.    TONGGAK PERKEMBANGAN ANAK USIA SATU HINGGA TIGA TAHUN

  • Mencari kekuatan/kemandirian
  • Tantrum/mengamuk
  • Munculnya bahasa
  • Munculnya main peran (ex: memakai sepatu dewasa)
  • Mulai main sosial dengan anak lain
  • Mulai latihan ke kamar kecil
  • Senang pada kebiasaan dan rutinitas
  1. LINGKUNGAN UNTUK SATU - TIGA TAHUN

  • Harus menawarkan bermacam-macam bahan main dan pilihan
  • Harus menerima bahwa mengamuk adalah bagian normal dari perkembangan
  • Harus mengabaikan mengamuk dan mendorong perkembangan bahasa
  • Harus membedakan antara mengamuk untuk mengendalikan orang atau memang ada kebutuhan untuk disayang
  • Harus ada orang dewasa yang berinteraksi dengan anak, mencontohkan dan menyandikan tindakan dengan bahas
  • Harus memberikan pengalaman dengan musik, nyanyian, dongeng, main jari, dan kegiatan lain yang memperkuat perkembangan bahasa
  • Harus ada orang dewasa dan bahan-bahan yang mendukung perkembangan main peran
  • Harus menyediakan ruang dan bahan main di dalam dan di luar ruangan untuk mendukung penjelajahan, penemuan, dan kemandirian
  • Harus ada orang dewasa yang memberikan perhatian pada perbedaan setiap anak dan mendukung keberhasilan tanpa rasa malu atau bersalah ketika latihan ke kamar kecil
  • Harus menyediakan jadwal yang dapat diperkirakan sebelumnya, menerangkan perubahan pada anak, dan memberikan waktu pada anak untuk peralihan
  • Harus ada orang dewasa yang ajeg dalam menanggapi anak

    C.    TONGGAK PERK’MBANGAN ANAK USIA SATU HINGGA TIGA TAHUN

  1. Melanjutkan pengendalian pada gerakan kasar dan halus
  2. Peningkatan perkembangan bahasa
  3. Menggunakan bahasa untuk memecahkan masalah
  4. Menggunakan bahasa untuk memperkuat main dengan teman sebaya dan orang dewasa
  5. Mulai munculnya hubungan sosial bekerjasama dengan anak lain
  6. Mampu menggunakan berbagai jenis bahan main
  7. Kemajuan dari sensorimotor atau main proses pada anak toddler ke kemampuan untuk mewakili dunia nyata dalam balok, papan lukis, dan bermacam-macam bahan main pembangunan lainnya

LINGKUNGAN UNTUK ANAK USIA 3 — 6 TAHUN :

  • Harus menyediakan kesempatan main di dalam dan di luar ruangan
  • Harus menyediakan kesempatan kepada anak untuk mengadakan hubungan dengan orang dewasa dan anak lainnya dalam lingkungan yang kaya dengan bahasa
  • Harus menyediakan pengalaman dengan musik, sajak, cerita, dan main peran untuk memperkuat perkembangan bahasa
  • Harus menyediakan bermacam ragam bahan main yang mendukung tiga jenis main (sensorimotor, peran, dan pembangunan)
  • Harus ada orang dewasa yang menjadi contoh dan mendukung perkembangan bahasa anak untuk memecahkan masalah
  • Harus menyediakan kesempatan harian untuk anak main dengan bermacam ragam bahan main
  • Harus ada orang dewasa yang memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mendukung perkembangan anak melalui main

Sumber : Pelatihan Workshop Nasional Peningkatan Pembelajaran Anak, Banjarbaru, Maret 2011