PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK USIA DINI

Pengertian Karakter

1.     Karakter adalah tabiat atau kebiasaan untuk melakukan hal yang baik.

2.     Nilai-nilai karakter adalah sikap dan perilaku yang didasarkan pada norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, yang mencakup aspek spiritual, aspek personal/kepribadian, aspek sosial, dan aspek lingkungan

3.    Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan, kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan agar menjadi manusia yang berakhlak

Tujuan khusus

  1. Meningkatkan pengetahuan & pemahaman tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh, dan orang tua tentang nilai-nilai karakter
  2. Meningkatkan keterampilan tenaga kependidikan,pendidik pengasuh dan orang-tua mengenai cara menanamkan nilai-nilai karakter
  3. Meningkatkan keterampilan tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh dan orang tua mengenai carape nilaian terhadap nilai-nilai karakter

 

Sasaran

Sasaran atau pengguna pedoman penanaman nilai-nilai  karakter di PAUD meliputi:

  1. Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD
  2. Pendidik atau Guru anak usia dini
  3. Pengasuh anak usia dini
  4. Orang tua.

 

Landasan Hukum

  1. Undang-Undang Nomor 23 Perlindungan Anak
  2. Undang-Undang Nomor 4  Kesejahteraan Anak
  3. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  4. Peraturan Pemerintah Nomor  19 Tahun 2005   tentang Standar Nasional Pendidikan
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.

 

Asfek Pendidikan Karakter pada PAUD

Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan pada anak usia dini (0-6 tahun), mencakup empat aspek,yaitu:

  1. Aspek Spiritual
  2. Aspek personal/kepribadian
  3. Aspek Sosial, dan
  4. Aspek lingkungan.

 

Prinsip-prinsip pendidikan karakter

  1. Melalui contoh dan keteladanan
  2. Dilakukan secara berkelanjutan
  3. Menyeluruh, terintegrasi dalam seluruh aspek perkembangan
  4. Menciptakan suasana kasih sayang
  5. Aktif memotivasi anak
  6. Melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  7. Adanya penilaian

Kriteria Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD

Untuk melaksanakan pendidikan karakter ada beberapa prasyarat yang harus dimiliki seorang guru pendidik karakter yaitu:

  • Pendidik menjadikan dirinya sebagai figur teladan yang berakhlak mulia, antara lain berbuat baik, santun, berprasangka baik, dan memiliki semangat.
  • Pendidik mengutamakan tujuan pengembangan karakter anak didiknya dalam penerapan proses pendidikan.
  • Pendidik senantiasa mengadakan dialog terbuka secara bijak tentang isu-isu moral dengan anak didiknya, tentang bagaimana seharusnya menjalankan hidup, serta menjelaskan apa yang baik dan apa yang buruk.
  • Pendidik menumbuhkan rasa empati anak, yaitu dengan mengajak anak merasakan apa yang dirasakan orang ‘ lain.
  • Pendidikmengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter  dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
  • Pendidik menciptakan suasan lingkungan yang mendukung
  • Pendidik membangun serangkaian aktivitas penerapan nilai-nilai karakter di rumah, di lembaga PAUD, dan di masyarakat sekitarnya.

Penerapan pendidikan karakter  pada paud

  1. Perencanaan
  • Mengenal dan memahami anak seutuhnya sesuai dengan tahapan perkembangan dan karakteristiknya, seperti:
    • anak sebagai peneliti ulung
    • aktif gerak
    • pantang menyerah
    • maju tak pernah putus asa
    • terbuka
    • bersahabat, dan
    • tak membedakan.

    2.     Nilai-nilai pendidikan karakter diterapkan menyatu dengan kegiatan inti proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara:

    a.Memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan tema dan judul kegiatan pembelajaran.

    b.Menentukan indikator perkembangan nilai-nilai karakter, sesuai dengan tahap perkembangan anak

    c.Menentukan jenis dan tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan

Pelaksanaan

1.    Kegiatan terprogram antara lain:

a.    Menggali pemahaman anak untuk tiap-tiap nilai karakter. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui bercerita dan dialog yang dipandu oleh guru, misalnya untuk tema tanaman, guru dapat mengajukan pertanyaan terbuka tentang karakter yang bertanggung jawab dalam memelihara tanaman.

b. Membangun penghayatan anak dengan melibatkan emosinya untuk menyadari pentingnya menerapkan nilai karakter (bertanggung jawab), misalnya mengajak anak untuk bersama-sama melakukan nilai-nilai karakter yang diceritakan.

2.    Kegiatan pembiasaan  dilakukan melalui:

  1. Kegiatan rutin lembaga PAUD, yaitu kegiatan yang  dilakukan di lembaga PAUD secara terus menerus dan konsisten setiap saat.
  2. Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara langsung atau spontan pada saat itu juga.
  3. Keteladanan, yaitu kegiatan yang dapat ditiru dan  dijadikan panutan.
  4. Pengkondisian, yaitu situasi dan kondisi lembaga PAUD sebagai pendukung kegiatan pendidikan karakter.
  5. Budaya lembaga PAUD, mencakup suasana kehidupan di lembaga pAUD yang mencerminkan komunikasiyang efektif dan produktif yang mengarah pada perbuatan baik dan interaksi sesamanya dengan sopan dan santun, kebersamaan.

 

Penilaian

Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui sejauh mana perubahan sikap dan prilaku anak-anak setelah mengikuti kegiatan di lembaga PAUD yang sarat dengan nilai nilai karakter.

Nilai-nilai dalam Pendidikan  Karakter AUD

RELIGIUS

  • Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan.
  • Belajar praktek kegiatan keagamaan.
  • Pengumpulan dan pembagian Zajat, Infaq dan Sidqoh.
  • Pelaksanaan Kegiatan Qurban.
  • Menyantuni anak yatim.

 

JUJUR

  • Melatih kejujuran / kotak temuan
  • Memberikan uang sekolah / tabungan kepada guru secara utuh
  • Menyampaikan pesan dengan baik dan  benar

 

TOLERANSI

  • Berbicara pelan di dalam kelas
  • Menggunakan alat permainan secara bergantian
  • Saling membantu
  • Mau berbagi
  • Mau mendengarkan orang lain berbicara
  • Sabar menunggu giliran
  • Mau mengalah

 

DISIPLIN

  • Jika terlambat melapor pada guru
  • Jika berhalangan datang memberi tahu
  • Mengembalikan alat/mainan setelah digunakan
  • Memakai seragam sesuai jadwal
  • Membawa bekal sesuai jadwal
  • Tidak membawa uang selain untuk keperluan sekolah
  • Membayar uang sekolah paling lambat tanggal 10 setiap bulannya

KERJA KERAS

  • Menjadi petugas upacara
  • Memimpin doa
  • Membahas hasil karya pada akhir kegiatan

       
 

KREATIFITAS

  • Melukis dengan berbagai media
  • Melipat,meronce,menganyam
  • Membuat aneka mainan cari bahan bekas

 

KEMANDIRIAN

  • Masuk kelas sendiri
  • Melepas dan memakai sepatu sendiri
  • Melepas dan memakai baju sendiri
  • Mengambil peralaan sendiri
  • Makan dan minum sendiri
  • BAK dan BAB sendiri

 

DEMOKRATIS

  • Berani mengungkapkan pendapat
  • Mengambil keputusan bersama
  • Bekerjasama
  • Memilih kegiatan yang disenangi

 

RASA INGIN TAHU

  • Berani bertanya
  • Bereksplorasi
  • Bereksperimen

 

SEMANGAT KEBANGSAAN

  • Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin
  • Mengibarkan bendera di halaman sekolah setiap hari
  • Memasang simbul-simbul kenegaraan
  • Memutar lagu-lagu kebangsaan
  • Memutar lagu-lagu khas daerah
  • Memasang bendera merah putih kecil  di meja guru setiap kelas
  • Memajang foto pahlawan

 

CINTA TANAH AIR

  • Mencintai bahasa ibu
  • Mencintai seni budaya lokal
  • Menghargai perbedaan budaya antar suku bangsa

 

MENGHARGAI PRESTASI

  • Memasang hasil karya anak
  • Memberi reward untuk anak yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan  cepat
  • Memberi Pin Garuda pada anak yang datang pertama

 

BERSAHABAT/ BERKOMUNIKASI

  • Berbicara dengan teman dan guru
  • Memberi salam
  • Bersikap ramah
  • Tidak mengganggu teman
  • Berbagi pengalaman melalui bercerita

 

CINTA DAMAI

  • Mau membantu dan tolong menolong
  • Saling menyayangi
  • Tanggung Jawab
  • Menyanyikan lagu yang berisi kasih  sayang

 

GEMAR MEMBACA

  • Memasang Area Bahasa
  • Mengunjungi Perpustakaan Sekolah
  • Menyediakan bermacam-macam buku cerita
  • Mengenal huruf dengan kartu huruf
  • Memasang gambar yang ada tulisannya
  • Mengenal tulisan melalui kegiatan
  • Pesona pagi

 

PEDULI LINGKUNGAN

  • Menyediakan tempat sampah
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Kerja bakti
  • Merawat tanaman

 

PEDULI SOSIAL

  • Memberikan sebagian bekal pada teman yang tidak membawa
  • lnfaq
  • Mengikuti Program Gemar Sedekah
  • Menyantuni anak yatim
  • Membantu masyarakat yang kena musibah

 

TANGGUNG JAWAB

  • Melaksanakan tugas sampai selesai
  • Menyiram bunga
  • Mengembalikan alat setelah digunakan

 

Sumber telah diadaptasi dari http://tknpembinakabpekalongan.blogspot.com/2013/02/pendidikan-karakter-anak-usia-dini.html

Pengumuman Awal Semester II TP 2013/2014

Assalamu’alaikum Wr, Wb
Diumumkan bahwa awal semester II TP 2013/2014 adalah tanggal 6 Januari 2014. Kepada seluruh orang tua dan wali siswwa agar mempersiapkan putra dan putrinya untuk mengikuti kegiatan proses bermain dan belajar pada PAUD TERPADU Anak Ceria – Muslim Pre School Banjarbaru.
Demikian Pengumuman ini.
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Over Convidence

Over Percaya Diri adalah sebutan bagi orang yang memiliki tingkat percaya diri yang berlebihan. Rasa percaya diri yang meluap biasanya bukan bersumber dari potensi yang ada dari dalam diri kita, namun karena di dasari oleh tekanan dari lingkungan.Lingkungan yang telah menuntutnya terlalu banyak, sehingga individu yang bersangkutan merasa tertekan dan harus menunjukkan diri bahwa ia bisa. Lingkungan disini yang di madsud adalah lingkungan yang dekat individu itu sendiri, misalnya orang tua dan masyarakat di sekitar ia tinggal.

Sifat over percaya diri hanyalah sebuah topeng yang biasanya hanya untuk memuaskan tuntutan hidup dalam diri individu. Selain itu pergaulan dengan teman-teman sebaya dan juga media massa yang menyajikan sebuah persepsi yang salah tentang kepribadian juga dapat mendorong rasa bercaya diri yang berlebihan pada diri seseorang. Tetapi sumber percaya diri yang berlebihan bisa juga bermula karena orang itu tidak berpijak pada kenyataan yang ada dalam dirinya,sehingga ia salah menjalani hidup.

Selain faktor-faktor di atas, pola asuh yang keliru termasuk salah satu faktur yang bisa membentuk pribadi seseorang menjadi over percaya diri. Hal ini biasanya terjadi pada orang tua yang sering memanjakan anak dengan menganggap bahwa si anak adalah seseorang yang di istimewakan, di anggap pandai, cakap, dan memastikan kepada si anak bahwa masa depannya akan berjalan tanpa hambatan.

Setelah itu, begitu si anak beranjak dewasa, ia menganggap segala yang telah di capai adalah semata-mata karena usahanya sendiri tanpa menghiraukan peran-peran orang yang ada di sekitarnya. Hal ini terjadi karena asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar itu tidak dilandasi kemampuan secara nyata. Akibatnya, ia akan berubah menjadi pribadi dictator yang suka mengatur orang, menguasai, dan merampas sesuatu yang di inginkan.

Dari beberapa hal yang kita bahas akan tampak bahwa rasa percaya diri yang berlebihan itu memang berasal dari kemampuan diri sendiri, Karena saat itu ia tidak menunjukkan kemampuannya secara nyata dalam dirinya. Bisa juga rasa percaya diri mereka berasal dari faktor latar belakang misalnya dari keluarga kaya, memiliki jabatan prestesius, memiliki relasi yang luas, ekonominya memadai, dan lain sebagainya.Padahal untuk menjadi sosok yang percaya diri, haruslah ia berpinjak pada kemampuan secara nyata.

Akan lebih baik kalau kita mencoba untuk mengembangkan kemampuan diri tanpa berpijak pada kemampuan yang tidak nyata yang sebenarnya bukan bagian dari kita seperti kekayaan, status ekonomi, jabatan, karier, dan lain sebagainya. Hidup ini terlalu singkat dan berharga untuk menjadi “orang lain“. Pada dasarnya, menjadi dirimu sendiri menjanjikan pengalaman hidup yang sangat seru yang tak mungkin kita alami lagi untuk kedua kalinya.

Source : http://sosseres.blogspot.com/2011/02/over-convidence.html

Permendiknas 11/2011 Ketentuan Sertifikasi Guru dalam Jabatan

Pengertian Sertifikasi Guru dalam jabatan

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan.

Syarat Peserta Sertifikasi Guru dalam Jabatan:

a. memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV);

b. belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV apabila sudah:

  1. mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru; atau
  2. mempunyai golongan IV/a, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a;
  3. telah diangkat menjadi guru sebelum tanggal 30 Desember 2005.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV berlaku dalam jangka waktu 5 tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. (Pasal 4, Permendiknas 11/2011)

PP 74/2008 ditetapkan pada 30 Desember 2008. Maka, guru yang diangkat mulai 1 Januari 2009, ketentuan sertifikasi tidak berdasarkan peraturan ini (akan diatur dengan peraturan lain).

Jalur Sertifikasi

Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui 4 jalur: penilaian portofolio, pendidikan dan latihan profesi guru PLPG), pemberian sertifikat pendidik secara langsung, dan pendidikan profesi guru

a. penilaian portofolio;

  • Guru dalam jabatan yang memilih Sertifikasi melalui penilaian portofolio harus mengikuti tes awal yang dikoordinasikan oleh Konsorsium Sertifikasi Guru.
  • Guru dalam jabatan yang lulus dalam tes awal harus menyerahkan portofolio untuk penilaian.
  • Guru dalam jabatan yangtidak lulus dalam tes awal harus mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru.

b. pendidikan dan latihan profesi guru;

  • Guru dalam jabatan yang tidak lulus pendidikan dan latihan profesi guru diberi kesempatan mengulang uji kompetensi satu kali.

c. pemberian sertifikat pendidik secara langsung;

  • guru yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;
  • guru yang sudah mempunyai golongan paling rendah IV/c, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.

d. Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  • PPG dalam Jabatan

Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan, pendidikan bagi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik.

  • PPG Prajabatan adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Waspadai Penyakit di Musim Pancaroba

Metro Siang / Sosbud / Sabtu, 5 Maret 2011 12:21 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Pergantian musim selalu diiringi mewabahnya sejumlah penyakit. Perubahan cuaca dari musim hujan memasuki musim kemarau atau sebaliknya membuat tubuh harus beradaptasi ekstra keras. Dari udara panas dan kering hingga tiba-tiba dingin dan lembab. Ditambah lagi angin kencang yang menerbangkan debu.

Perubahan cuaca yang tiba-tiba membuat daya tahan tubuh menurun. Anak-anak, terutama balita, termasuk yang sangat rentan penyakit pada musim ini. Menurut data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, kini

penyakit yang kerap ditemui adalah diare, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan demam berdarah.

Gejala awal gangguan saluran pernafasan atas biasanya berupa batuk, bronkhitis, pilek atau influensa disertai bersin-bersin dan peningkatan suhu tubuh atau demam. Demam itu bukan merupakan penyakit melainkan gejala tubuh yang dalam kondisi membangun pertahanan melawan infeksi.

Musim pancaroba juga kerap menimbulkan gangguan pencernaan berupa diare. Penyakit ringan ini juga bisa berakibat fatal jika terjadi pada anak balita yang kurang mendapat perawatan.

Perubahan iklim juga memperburuk penyebaran penyakit. Dalam sepuluh tahun terakhir sebanyak satu setengah juta orang di seluruh dunia meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan perubahan iklim. Penyakit yang umumnya menyerang tersebut adalah malaria, demam berdarah dan influenza.

Beragam penyakit tersebut dapat disebabkan bakteri, parasit maupun virus. Di musim pancaroba virus dan bakteri banyak berkembang biak. Bahkan, belakangan ini banyak terjadi penyakit yang disebabkan virus yang terdengar masih asing. Seperti virus Roseola yang menimbulkan bercak-bercak merah di kulit menyusul panas tinggi, flu Singapura, penyakit kaki dan mulut serta gondongan.

Sejumlah cara bisa dilakukan untuk mengantisipasi menjangkitnya penyakit pada anak -anak, yaitu dengan memberikan imunisasi, menjaga asupan makanan yang bersih dan bergizi, cukup beristirahat, mengonsumsi multivitamin dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/03/05/123641/Waspadai-Penyakit-di-Musim-Pancaroba

Peran PAUD dalam Pendidikan, Pentingkah ?

Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia’s & International Teacher of the Year saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu.

Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. “Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini,” jelas Byrnes.

Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. “Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa.”

Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. “Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar,” jelas Byrnes.

Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, “Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak,” contoh Byrnes.

Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. “Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya,” ungkap Byrnes.

Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? “Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu,” terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. “Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan,” tutup Byrnes.

Source : kompas.com