PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK USIA DINI

Pengertian Karakter

1.     Karakter adalah tabiat atau kebiasaan untuk melakukan hal yang baik.

2.     Nilai-nilai karakter adalah sikap dan perilaku yang didasarkan pada norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, yang mencakup aspek spiritual, aspek personal/kepribadian, aspek sosial, dan aspek lingkungan

3.    Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan, kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan agar menjadi manusia yang berakhlak

Tujuan khusus

  1. Meningkatkan pengetahuan & pemahaman tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh, dan orang tua tentang nilai-nilai karakter
  2. Meningkatkan keterampilan tenaga kependidikan,pendidik pengasuh dan orang-tua mengenai cara menanamkan nilai-nilai karakter
  3. Meningkatkan keterampilan tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh dan orang tua mengenai carape nilaian terhadap nilai-nilai karakter

 

Sasaran

Sasaran atau pengguna pedoman penanaman nilai-nilai  karakter di PAUD meliputi:

  1. Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD
  2. Pendidik atau Guru anak usia dini
  3. Pengasuh anak usia dini
  4. Orang tua.

 

Landasan Hukum

  1. Undang-Undang Nomor 23 Perlindungan Anak
  2. Undang-Undang Nomor 4  Kesejahteraan Anak
  3. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  4. Peraturan Pemerintah Nomor  19 Tahun 2005   tentang Standar Nasional Pendidikan
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.

 

Asfek Pendidikan Karakter pada PAUD

Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan pada anak usia dini (0-6 tahun), mencakup empat aspek,yaitu:

  1. Aspek Spiritual
  2. Aspek personal/kepribadian
  3. Aspek Sosial, dan
  4. Aspek lingkungan.

 

Prinsip-prinsip pendidikan karakter

  1. Melalui contoh dan keteladanan
  2. Dilakukan secara berkelanjutan
  3. Menyeluruh, terintegrasi dalam seluruh aspek perkembangan
  4. Menciptakan suasana kasih sayang
  5. Aktif memotivasi anak
  6. Melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  7. Adanya penilaian

Kriteria Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD

Untuk melaksanakan pendidikan karakter ada beberapa prasyarat yang harus dimiliki seorang guru pendidik karakter yaitu:

  • Pendidik menjadikan dirinya sebagai figur teladan yang berakhlak mulia, antara lain berbuat baik, santun, berprasangka baik, dan memiliki semangat.
  • Pendidik mengutamakan tujuan pengembangan karakter anak didiknya dalam penerapan proses pendidikan.
  • Pendidik senantiasa mengadakan dialog terbuka secara bijak tentang isu-isu moral dengan anak didiknya, tentang bagaimana seharusnya menjalankan hidup, serta menjelaskan apa yang baik dan apa yang buruk.
  • Pendidik menumbuhkan rasa empati anak, yaitu dengan mengajak anak merasakan apa yang dirasakan orang ‘ lain.
  • Pendidikmengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter  dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
  • Pendidik menciptakan suasan lingkungan yang mendukung
  • Pendidik membangun serangkaian aktivitas penerapan nilai-nilai karakter di rumah, di lembaga PAUD, dan di masyarakat sekitarnya.

Penerapan pendidikan karakter  pada paud

  1. Perencanaan
  • Mengenal dan memahami anak seutuhnya sesuai dengan tahapan perkembangan dan karakteristiknya, seperti:
    • anak sebagai peneliti ulung
    • aktif gerak
    • pantang menyerah
    • maju tak pernah putus asa
    • terbuka
    • bersahabat, dan
    • tak membedakan.

    2.     Nilai-nilai pendidikan karakter diterapkan menyatu dengan kegiatan inti proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara:

    a.Memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan tema dan judul kegiatan pembelajaran.

    b.Menentukan indikator perkembangan nilai-nilai karakter, sesuai dengan tahap perkembangan anak

    c.Menentukan jenis dan tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan

Pelaksanaan

1.    Kegiatan terprogram antara lain:

a.    Menggali pemahaman anak untuk tiap-tiap nilai karakter. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui bercerita dan dialog yang dipandu oleh guru, misalnya untuk tema tanaman, guru dapat mengajukan pertanyaan terbuka tentang karakter yang bertanggung jawab dalam memelihara tanaman.

b. Membangun penghayatan anak dengan melibatkan emosinya untuk menyadari pentingnya menerapkan nilai karakter (bertanggung jawab), misalnya mengajak anak untuk bersama-sama melakukan nilai-nilai karakter yang diceritakan.

2.    Kegiatan pembiasaan  dilakukan melalui:

  1. Kegiatan rutin lembaga PAUD, yaitu kegiatan yang  dilakukan di lembaga PAUD secara terus menerus dan konsisten setiap saat.
  2. Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara langsung atau spontan pada saat itu juga.
  3. Keteladanan, yaitu kegiatan yang dapat ditiru dan  dijadikan panutan.
  4. Pengkondisian, yaitu situasi dan kondisi lembaga PAUD sebagai pendukung kegiatan pendidikan karakter.
  5. Budaya lembaga PAUD, mencakup suasana kehidupan di lembaga pAUD yang mencerminkan komunikasiyang efektif dan produktif yang mengarah pada perbuatan baik dan interaksi sesamanya dengan sopan dan santun, kebersamaan.

 

Penilaian

Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui sejauh mana perubahan sikap dan prilaku anak-anak setelah mengikuti kegiatan di lembaga PAUD yang sarat dengan nilai nilai karakter.

Nilai-nilai dalam Pendidikan  Karakter AUD

RELIGIUS

  • Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan.
  • Belajar praktek kegiatan keagamaan.
  • Pengumpulan dan pembagian Zajat, Infaq dan Sidqoh.
  • Pelaksanaan Kegiatan Qurban.
  • Menyantuni anak yatim.

 

JUJUR

  • Melatih kejujuran / kotak temuan
  • Memberikan uang sekolah / tabungan kepada guru secara utuh
  • Menyampaikan pesan dengan baik dan  benar

 

TOLERANSI

  • Berbicara pelan di dalam kelas
  • Menggunakan alat permainan secara bergantian
  • Saling membantu
  • Mau berbagi
  • Mau mendengarkan orang lain berbicara
  • Sabar menunggu giliran
  • Mau mengalah

 

DISIPLIN

  • Jika terlambat melapor pada guru
  • Jika berhalangan datang memberi tahu
  • Mengembalikan alat/mainan setelah digunakan
  • Memakai seragam sesuai jadwal
  • Membawa bekal sesuai jadwal
  • Tidak membawa uang selain untuk keperluan sekolah
  • Membayar uang sekolah paling lambat tanggal 10 setiap bulannya

KERJA KERAS

  • Menjadi petugas upacara
  • Memimpin doa
  • Membahas hasil karya pada akhir kegiatan

       
 

KREATIFITAS

  • Melukis dengan berbagai media
  • Melipat,meronce,menganyam
  • Membuat aneka mainan cari bahan bekas

 

KEMANDIRIAN

  • Masuk kelas sendiri
  • Melepas dan memakai sepatu sendiri
  • Melepas dan memakai baju sendiri
  • Mengambil peralaan sendiri
  • Makan dan minum sendiri
  • BAK dan BAB sendiri

 

DEMOKRATIS

  • Berani mengungkapkan pendapat
  • Mengambil keputusan bersama
  • Bekerjasama
  • Memilih kegiatan yang disenangi

 

RASA INGIN TAHU

  • Berani bertanya
  • Bereksplorasi
  • Bereksperimen

 

SEMANGAT KEBANGSAAN

  • Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin
  • Mengibarkan bendera di halaman sekolah setiap hari
  • Memasang simbul-simbul kenegaraan
  • Memutar lagu-lagu kebangsaan
  • Memutar lagu-lagu khas daerah
  • Memasang bendera merah putih kecil  di meja guru setiap kelas
  • Memajang foto pahlawan

 

CINTA TANAH AIR

  • Mencintai bahasa ibu
  • Mencintai seni budaya lokal
  • Menghargai perbedaan budaya antar suku bangsa

 

MENGHARGAI PRESTASI

  • Memasang hasil karya anak
  • Memberi reward untuk anak yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan  cepat
  • Memberi Pin Garuda pada anak yang datang pertama

 

BERSAHABAT/ BERKOMUNIKASI

  • Berbicara dengan teman dan guru
  • Memberi salam
  • Bersikap ramah
  • Tidak mengganggu teman
  • Berbagi pengalaman melalui bercerita

 

CINTA DAMAI

  • Mau membantu dan tolong menolong
  • Saling menyayangi
  • Tanggung Jawab
  • Menyanyikan lagu yang berisi kasih  sayang

 

GEMAR MEMBACA

  • Memasang Area Bahasa
  • Mengunjungi Perpustakaan Sekolah
  • Menyediakan bermacam-macam buku cerita
  • Mengenal huruf dengan kartu huruf
  • Memasang gambar yang ada tulisannya
  • Mengenal tulisan melalui kegiatan
  • Pesona pagi

 

PEDULI LINGKUNGAN

  • Menyediakan tempat sampah
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Kerja bakti
  • Merawat tanaman

 

PEDULI SOSIAL

  • Memberikan sebagian bekal pada teman yang tidak membawa
  • lnfaq
  • Mengikuti Program Gemar Sedekah
  • Menyantuni anak yatim
  • Membantu masyarakat yang kena musibah

 

TANGGUNG JAWAB

  • Melaksanakan tugas sampai selesai
  • Menyiram bunga
  • Mengembalikan alat setelah digunakan

 

Sumber telah diadaptasi dari http://tknpembinakabpekalongan.blogspot.com/2013/02/pendidikan-karakter-anak-usia-dini.html

5 Fase Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction)

Pada Model Pembelajaran Direct Instruction terdapat lima fase yang sangat penting. Sintaks Model tersebut disajikan dalam 5 (lima) tahap, sebagaimana berikut:

 

Fase 1 : Fase Orientasi

Pada fase ini guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi pelajaran. Kegiatan pada fase ini meliputi:

  • Kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
  • Mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pembelajaran
  • Memberi penjelasan atau arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan
  • Menginformasikan materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran
  • Menginformasikan kerangka pelajaran
  • Memotivasi siswa

Dr. Seto Mulyadi, Psi,Msi


Sahabat Anak-anak

Kedekatannya dengan dunia anak membuat dia begitu dikenal sebagai sahabat dan pendidik anak-anak. Namun, tidak banyak yang tahu kalau peraih The Outstanding Young Person of the World 1987 ini pernah melalui getirnya hidup menjadi pembantu rumah tangga, tukang batu, dan tukang semir sepatu di Blok M.

Seto Mulyadi yang kemudian dikenal sebagai Kak Seto pada awalnya bercita-cita menjadi dokter. Manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan. Seto malah mendedikasikan hidupnya demi kemajuan anak-anak.

Nama: Seto Mulyadi (Kak Seto)

Lahir: Klaten, 28 Agustus 1951

Agama: Islam

Ayah/Ibu: Mulyadi Effendy/Mariati

Istri: Deviana

Anak:
- Eka Putri Duta Sari

- Bimo Dwi Putra Utama

- Shelomita Kartika Putri Maharani

- Nindya Putri Catur Permatasari

 

Pendidikan:
- SD Ngepos, Klaten (1963)

- SMK, Klaten (1966)

- SMA St. Louis, Surabaya (1969)

- Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (S1, 1981)

- Program Pascasarjana Universitas Indonesia (Magister bidang psikologi, 1989)

- Program Pascasarjana Universitas Indonesia (doktor bidang psikologi, 1993)

 

Karir:
- Ketua Pelaksana Pembangunan Istana Anak-Anak Taman Mini Indonesia Indonesia (1983)

- Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia (1982-sekarang)

- Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Nakula Sadewa (1984-sekarang)

- Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta (1994-1997)

- Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (1998-sekarang)

 

Kegiatan Lain:

- Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (1983-1985)

- Director at-large International Council of Psychologists (1985)

- Anggota International Society for Twins Studies (1985-sekarang)

- Anggota Creative Education Foundation (1993-sekarang)

- Anggota World Council for Gifted & Talented Children (1994-sekarang)

Buku: Anakku, Sahabat, dan Guruku (1997)

Penghargaan:
- Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia Anak-anak dari Presiden RI (1987)

  • The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International (1987)
  • Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar (1987)
  • The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & Unicef (1989)

Alamat Rumah/Kantor:

Jalan Taman Cirendeu Permai 13, Jakarta 15419

Sumber: Dari berbagai sumber terutama Tempo dan Republika

Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951 ini memiliki saudara kembar, dr. Kresna Mulyadi dan seorang kakak yang menjadi anggota ABRI. Ketika masih kecil, Seto termasuk anak nakal dan tidak bisa diam. “Saya ini bengal,” katanya.

Akibat kebengalannya, Seto pernah jatuh saat bermain sampai kening kirinya sobek. Untuk menutupi bekas jahitan, potongan rambutnya dibuat ala The Beatles. Sampai dewasa, ketika sudah menjadi Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi tetap setia dengan model rambutnya.

Perjalanan hidup Seto di masa muda penuh liku yang pahit. Ayahnya, Mulyadi – direktur perusahaan perkebunan negara di Klaten – meninggal pada 1966 saat Seto masih berusia 14 tahun. Ekonomi keluarganya pun mulai kembang-kempis. Untuk mengatasi tekanan ekonomi ini, Seto terpaksa dititipkan ke rumah bibinya di Surabaya, bersama kakak dan saudara kembarnya, Kresna. Di sana, Seto melanjutkan sekolahnya di SMA St. Louis Surabaya.

Demi meringankan beban bibinya, juga untuk memenuhi biaya sekolah, Tong – panggilan akrab Seto dalam keluarganya – nyambi jadi pengasong di jalan-jalan selepas sekolah. Ia aktif pula mengisi sebuah rubrik untuk anak-anak di majalah terbitan Surabaya, Bahagia. “Di situ saya mulai memakai nama Kak Seto,” ujarnya. Sejak itulah, dan sampai sekarang, ia dikenal dengan panggilan Kak Seto.

Walau sekolah sambil bekerja, Seto tetap bisa aktif di OSIS bersama kembarannya. Bahkan rapornya selalu bagus. Lulus SMA, ia bercita-cita melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran. Tapi, cita-citanya menjadi dokter kandas, tatkala tak diterima di fakultas kedokteran, baik di Universitas Airlangga maupun Universitas Indonesia. Sementara Kresna diterima di kedokteran dan kakaknya, Ma’ruf, masuk Akabri.

Diam-diam, Seto memendam kekecewaan. “Hidup seperti itu membuat saya tertekan hingga akhirnya saya memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke Jakarta,” tuturnya. Subuh, 27 Maret 1970, ia pun berangkat tanpa pamit, hanya meninggalkan surat kepada ibunya.

Tiba di Jakarta sebagai penganggur yang luntang-lantung, Seto menumpang di garasi milik keluarga temannya, yang kebetulan ia kenal di kereta. Tidur beralaskan dua keset yang digabung, ia hidup sehari-hari dari penghasilan sebagai tukang batu, serta sesekali menulis di majalah Si Kuncung. Sembari bekerja serabutan dia kemudian mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun berikutnya. Tapi, seperti halnya kala di Surabaya, kali ini pun kegagalan kembali menyertainya.

Seto kemudian mencoba melamar pekerjaan ke hotel-hotel. Namun, akhirnya ia malah menjadi tukang cuci dan pel suatu keluarga yang kebetulan mempunyai anak cacat. Seto, yang juga bertugas merawat anak tersebut, harus bersedia menempati “kamar” bekas kandang ayam yang berhadapan dengan WC. “Baunya minta ampun,” ia mengenang.

“Waktu baru di Jakarta, saya mulai dari bawah, ya, saya kerja jadi pembantu rumah tangga, jadi tukang batu, jadi tukang semir sepatu di Blok M,” kenang Seto. “Berat sekali keadaan waktu itu, dibentak-bentak dan dimarahi oleh tuan saya,” lanjut pria yang merasa tenang bila dekat ibunya ini. Hingga suatu ketika, di rumah tempatnya menumpang, ia tertarik pada acara yang diasuh Bu Kasur di TVRI.

Satu hal, kalau melihat orang lain mampu melakukan sesuatu, Seto selalu berpikir, “Ah, saya juga bisa.” Lalu dicarinyalah rumah Bu Kasur, dengan niat ngenger (berguru). Pak Kasur, yang menerimanya, membawanya ke Taman Kanak-Kanak Situ Lembang, Jakarta Pusat. “Akhirnya saya jadi asisten Pak Kasur,” tutur Seto.

Kegagalannya masuk ke Fakultas Kedokteran UI, membuatnya putar haluan dengan memasuki Fakultas Psikologi UI, atas saran dari Pak Kasur. Dua tahun kemudian, ia masih membantu Pak Kasur, sambil menjadi pembantu dan pengasuh anak di rumah Direktur Bank Indonesia, saat itu, Soeksmono Martokoesoemo.

Bersama Pak Kasur, Seto bisa menumpahkan “obsesi” masa kecilnya: kecintaan pada anak-anak – sesuatu yang berawal dari kerinduan datangnya seorang adik, setelah adiknya yang masih tiga tahun meninggal. Pilihannya pun makin mantap di saat mengasuh acara Aneka Ria Taman Kanak-Kanak di TVRI, bersama Henny Purwonegoro. Seto mendongeng, belajar sambil bernyanyi, bermain sulap bersama anak-anak.

Ilmu Pak Kasur ia gabungkan dengan kemahirannya bermain sulap, yang sudah ia pelajari sejak masih SD, melalui buku. Teknik mendongeng, menurut pengagum Mahatma Gandhi serta Napoleon ini, ia peroleh dari penulis dan penutur cerita anak-anak, Soekanto S.A., ditambah dengan pengalamannya sendiri.

Dengan bonekanya Si Komo berikut lagunya, ia pun makin lekat dengan anak-anak. Dan, ekonominya pun mulai membaik, hingga setelah menggondol gelar sarjana psikologi, Seto mengundurkan diri dari keluarga Soeksmono.

Saat masih duduk di bangku kuliah, 1983, Seto mendapat kepercayaan Ibu Tien Soeharto untuk mengetuai pelaksanaan pembangunan Istana Anak-Anak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Bahkan kelompok bermain Istana Anak-anak di yang dikembangkannya, di luar dugaan, memiliki peminat yang cukup banyak. Kini, pengembangan kelompok bermain yang bernaung di bawah Yayasan Mutiara Indonesia itu sudah menyebar di berbagai cabang di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, sampai di Bandung.

Pada 1987, Seto menikahi Deviana – yang usianya terpaut 20 tahun – gadis yang dicintainya. Tepat pada hari pernikahan, di saat tamu berdatangan, pengantin baru Seto-Devi melaksanakan nazarnya: mendongeng di panti asuhan.

Dengan membaiknya keadaan ekonomi, Seto membeli rumah tinggal di kawasan Cireundeu tetapi tidak ia nikmati sendiri. Sebagian dimanfaatkan untuk sarana bermain anak-anak. Di lahan seluas 2.000 meter persegi itu ada perosotan atau ayunan, ruang kelas, kolam renang mini, laiknya taman kanak-kanak. Semua ruangan didekorasi dengan warna-warna yang ceria dan benar-benar membuat anak-anak merasa di alam fantasi mereka.

Di situlah keempat buah hatinya, Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, dan Nindya Putri Catur Permatasari menikmati masa kecilnya. “Sebenarnya, tujuan membuat halaman yang luas adalah supaya anak-anak aktif bermain, menikmati alam dengan bebas serta lepas,” jelasnya, pada kesempatan lain. “Bila anak-anak terlalu dikekang, akibatnya seperti kuda liar.”

Di dalam keluarga, dia menjadikan anak-anaknya sebagai sahabat dan guru. Hubungannya dengan buah hatinya itu sudah dituangkan dalam buku, ‘Anakku, Sahabatku, dan Guruku’ (1997). Di buku itu dia menuliskan betapa anak dapat menjadi sahabat dalam berbagi masalah. Anak juga bisa menjadi guru untuk belajar tentang kreativitas, spontanitas, kebebasan berpikir, pemaaf, tidak pendendam, dan mempunyai kasih sayang yang tulus.

Kendati begitu, dia masih saja mengaku tidak selalu tahu tentang anak. Dalam kaitan ini, mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta (1994-1997) ini pernah menuturkan, “Saya bukan tahu segala hal tentang anak-anak, tapi berusaha untuk tahu tentang mereka.” Untuk itu, “Saya memiliki senjata rendah hati, tidak pernah merasa paling berkuasa di keluarga, menghormati mereka sehingga mereka terbuka kepada saya.”

Kedekatannya dengan anak-anak, boleh jadi, membuat Seto kian merasakan kebutuhan untuk perkembangan anak. Dia pun mengharapkan agar anak-anak dipenuhi hak-hak mereka: hak memperoleh suasana gembira, hak bermain, dan hak untuk tumbuh dan berkembang dalam suasana tenang, tanpa merasa tertekan.

Kreativitas dan ide Seto makin cemerlang dengan mendirikan sekolah TK Mutiara Indonesia. Juga membentuk Yayasan Nakula-Sadewa yang menghimpun anak-anak kembar yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sebagai pakar psikologi anak yang bergelar doktor, selain menjadi dosen di Universitas Tarumanegara, Jakarta, ia kerap menjadi pembicara dalam seminar, menulis artikel, dan buku.

Atas pengabdiannya pada dunia anak-anak, yang sampai kapan pun akan terus dilakukannya, Seto telah dianugerahi sejumlah penghargaan. Antara lain Orang Muda Berkarya Indonesia, kategori Pengabdian pada Dunia Anak-anak dari Presiden RI (1987), The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International (1987), Peace Messenger Award, New York, dari Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar (1987) dan The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & Unicef (1989). Kemudian, walau tak pernah terlintas dalam benaknya, sejak 1998, Seto dipercaya menjadi Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA).

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA), Seto semakin giat berkarya membela anak-anak. Pasca bencana Tsunami di Aceh misalnya, ia bersama pemerintah merealisasikan pembentukan Trauma Center. Pendirian Trauma Center ini ditujukan untuk menangani gangguan traumatis pada anak-anak Aceh yang menjadi korban bencana alam dahsyat tersebut. Apa yang paling cepat membantu menyembuhkan trauma anak? “Adanya cinta, perhatian, dan dunia indah untuk bermain,” kata Seto.

Seto yang mempunyai motto: bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak ini berharap supaya semua orang menganggap setiap hari adalah hari anak. “Bukan cuma tanggal 23 Juli saja, tapi setiap hari adalah hari untuk anak,” kata Seto. “Sehingga anak-anak Indonesia sekarang, apalagi yang terpinggirkan, bisa memperoleh hak-haknya sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan menjadi putra-putri bangsa yang terbaik untuk bangsanya,” ujarnya lagi.

Permendiknas 11/2011 Ketentuan Sertifikasi Guru dalam Jabatan

Pengertian Sertifikasi Guru dalam jabatan

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan.

Syarat Peserta Sertifikasi Guru dalam Jabatan:

a. memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV);

b. belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV apabila sudah:

  1. mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru; atau
  2. mempunyai golongan IV/a, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a;
  3. telah diangkat menjadi guru sebelum tanggal 30 Desember 2005.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV berlaku dalam jangka waktu 5 tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. (Pasal 4, Permendiknas 11/2011)

PP 74/2008 ditetapkan pada 30 Desember 2008. Maka, guru yang diangkat mulai 1 Januari 2009, ketentuan sertifikasi tidak berdasarkan peraturan ini (akan diatur dengan peraturan lain).

Jalur Sertifikasi

Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui 4 jalur: penilaian portofolio, pendidikan dan latihan profesi guru PLPG), pemberian sertifikat pendidik secara langsung, dan pendidikan profesi guru

a. penilaian portofolio;

  • Guru dalam jabatan yang memilih Sertifikasi melalui penilaian portofolio harus mengikuti tes awal yang dikoordinasikan oleh Konsorsium Sertifikasi Guru.
  • Guru dalam jabatan yang lulus dalam tes awal harus menyerahkan portofolio untuk penilaian.
  • Guru dalam jabatan yangtidak lulus dalam tes awal harus mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru.

b. pendidikan dan latihan profesi guru;

  • Guru dalam jabatan yang tidak lulus pendidikan dan latihan profesi guru diberi kesempatan mengulang uji kompetensi satu kali.

c. pemberian sertifikat pendidik secara langsung;

  • guru yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;
  • guru yang sudah mempunyai golongan paling rendah IV/c, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.

d. Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  • PPG dalam Jabatan

Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan, pendidikan bagi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik.

  • PPG Prajabatan adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru 2012

Tes awal sertifikasi guru 2012 jalur PLPG direncanakan Februari. Bagi yang telah ditetapkan sebagai peserta sergu 2012 akan segera menerima Formulir A1 dari Dinas Pendidikan.

Berikut daftar mapel kisi-kisi uji kompetensi awal (UKA) bagi peserta PLPG.

Kisi-kisi UKA kini telah lebih lengkap dengan tambahan:

02 Februari 2012 :

Guru Kelas SDLB, Teknik Pendingin dan Tata Udara, Kehutanan, dan Guru Kelas.

04 Februari 2012 :

Teknik Industri, Kewirausahaan, PAUD TK, Tata Boga, Teknik Perkapalan, Teknik Telekomunikasi, Teknik Plumbing Sanitasi, Penyuluhan Pertanian, Survey Pemetaan, Survey Pemetaan, Pendidikan Jasmani, Agribisnis Produksi Ternak, dan Grafik.

Untuk mengunduh file silakan masuk di sini, kemudian pilih mapel.

Semoga bermanfaat dan untuk yang persiapan menghadapi uji kompetensi awal selamat belajar semoga berhasil!

Kurikulum/Silabus/RPP TK/RA/PAUD

Dokumen pedoman proses pembelajaran untuk TK, RA, dan PAUD berikut ini merupakan panduan yang disusun oleh Pusat Kurikulum Depdiknas. Semoga pedoman ini bermanfaat bagi rekan-rekan pendidik untuk mengantarkan masa depan tunas bangsa.

Untuk mengunduh secara gratis, silakan klik kanan, klik open link in new window, tulis kode yang diberikan, kemudian klik download.

Model Penilaian KTSP TK. pdf
Model_Kurikulum_Pembelajaran_Berbasis_Alam_PAUD_Formal&NF.pdf
Silabus_PAUD_Formal.doc
Standar_dan_Bahan_Ajar_PAUD_NonFormal.pdf
Standar_dan_Bahan_Ajar_PAUD-Formal.pdf

Standar_Isi_PAUD_NonFormal.doc

Standar_Isi_PAUD_Formal.doc

Silabus_PAUD_NonFormal.doc
Silabus&RPP_TK-RA.doc

Pembentukan Gugus PAUD 2011

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) RI sejak awal tahun 2011 telah menggagas tiga program untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ketiga program tersebut yakni menciptakan PAUD Terpadu, Memaksimalkan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) serta Pembentukan dan Pembinaan Gugus PAUD di seluruh Indonesia.

Pembentukan dan pembinaan Gugus PAUD saat ini menjadi sebuah kebutuhan, terutama oleh para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD. Semakin berkembangnya jumlah lembaga PAUD yang ada sekarang ini merupakan salah satu indikator makin sadarnya masyarakat akan pentingnya PAUD bagi tumbuh kembang anak.

Anak saya hyperaktif atau tidak sih ?

Dianugerahi seorang anak adalah suatu karunia yang tak terkira bagi pasangan suami istri. Namun dalam membesarkan seorang anak, tak jarang berbagai masalah timbul. Salah satunya adalah perilaku anak yang hiperaktif.

Saat ini tak jarang seorang ibu mengeluhkan perilaku anaknya, baik putera maupun puteri, yang terlalu aktif, tidak bisa diam seperti baterai yang tak habis-habisnya. Anak hanya terlihat tenang bila ia sedang tidur.

T : Apakah perilaku hiperaktif itu normal terjadi dalam perkembangan seorang anak ?

Anak atau balita yang terlihat aktif adalah suatu yang wajar karena pada usia balita anak sedang giat-giatnya melakukan eksplorasi lingkungan. Dalam rentang usia itu anak berada dalam fase otonomi atau mencari rasa puas melalui aktivitas geraknya. Tetapi bila ia terlalu aktif atau HIPERAKTIF, perlu diteliti lebih lanjut apakah aktivitasnya itu normal atau tidak.

T : Bagaimana membedakannya perilaku aktif normal dan yang hiperaktif ?

Hiperaktif yang termasuk gangguan perilaku disebut dengan “Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas (GPPH)” atau Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). Suatu penelitian di Bandung tahun 2005 menemukan 3-5% anak usia SD mengalami gangguan ini. Kondisi ini menyebabkan seorang anak atau orang dewasa mengalami gangguan dalam mengatur tingkat aktivitasnya, melakukan kontrol perilaku atau mengerjakan suatu tugas hingga tuntas seperti rekan sebayanya. Ciri-cirinya yang khas adalah sulit berkonsentrasi, selalu bergerak aktif tanpa tujuan yang jelas serta berperilaku impulsif pada setiap situasi.

T : Bagaimana cara menentukan apakah anak memang mengalami ADHD atau tidak ?

Ahli yang dapat memberikan diagnosis ADHD ini adalah seorang dokter anak, dokter keluarga, dokter jiwa anak, psikolog dan ahli saraf anak. Tidak ada tes yang bisa dilakukan untuk menentukan ADHD ini namun orang tua akan diberikan serangkaian pertanyaan yang menggambarkan perilaku anak, baik di rumah maupun di sekolah. Guru sekolah juga akan dimintai konfirmasinya. Perilaku anak akan diobservasi untuk melihat kecenderungan defisit konsentrasi, hiperaktivitas dan impulsivitasnya. Bila terdapat 6 (atau lebih) gejala di bawah ini dan telah menetap minimal 6 bulan terakhir serta tidak sesuai dengan usia perkembangan dan kemampuan adaptasi menurut umur maka anak akan dikatakan mengalami ADHD.

Gejalanya secara lengkap adalah :

  1. Defisit perhatian
    1. Sering melakukan kecerobohan atau gagal menyimak hal yang rinci dan sering membuat kesalahan karena tidak cermat.
    2. Sering sulit memusatkan perhatian secara terus-menerus dalam suatu aktivitas.
    3. Sering tampak tidak mendengarkan kalau diajak bicara.
    4. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.
    5. Sering sulit mengatur kegiatan maupun tugas.
    6. Sering menghindar, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang butuh pemikiran yang cukup lama.
    7. Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk melakukan tugas.
    8. Sering mudah beralih perhatian oleh rangsang dari luar.
    9. Sering lupa dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari.
  2. Hiperaktivitas dan impulsivitas
  • Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.
  • Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.
  • Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya.
  • Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
  • Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis.
  • Sering terlalu banyak bicara.
  • Sering terlalu cepat memberi jawaban ketika ditanya, padahal pertanyaan belum selesai.
  • Sering sulit menunggu giliran.
  • Sering memotong atau menyela pembicaraan.

Beberapa gejala sudah dijumpai sebelum anak berusia 7 tahun, dijumpai baik di sekolah maupun di rumah dan mengganggu secara nyata kehidupan sosial, akademik dan pekerjaan sehari-hari. Juga tidak merupakan bagian dari kondisi lain seperti autisme, kurang pendengaran, retardasi mental atau kecerdasan berlebih.

T : Apa penyebab perilaku hiperaktif ini ? Apa benar antara lain disebabkan oleh susu formula merek tertentu ?

Penyebab gangguan ini adalah suatu kelainan pada otak yang menyebabkan kurangnya senyawa kimia tertentu, penghantar rangsang saraf di otak. Gangguan ini bersifat genetik, jadi tidak benar susu merek tertentu menyebabkan perilaku ini. Kecenderungan perilaku hiperaktif ini sudah dimiliki anak sejak dalam kandungan. Perilaku ini juga bukan disebabkan oleh sistem pengasuhan orangtua yang buruk atau terlalu banyak makan gula atau kafein.

T : Apakah perilaku ini bisa hilang sendiri dengan bertambahnya usia ?

Pada masa lalu para dokter beranggapan bahwa perilaku ini akan hilang sendiri sejalan dengan bertambahnya usia anak. Namun penelitian yang dilakukan kemudian memberi bukti bahwa gangguan ini tidak bisa hilang dengan sendirinya karena memang terdapat gangguan di otak anak. Bahkan sekitar 20% kasus, perilaku ini menetap hingga usia dewasa dan menyebabkan individu ini mudah terpengaruh perilaku tidak menguntungkan seperti memakai narkoba, sering berpindah-pindah pekerjaan, mudah mengalami konflik dengan pasangan hidup atau rekan kerjanya.

T : Menurut suatu artikel, anak hiperaktif harus minum obat terus menerus, apakah ini akan menyebabkan kecanduan obat ?

Penanganan anak hiperaktif harus dilakukan secara holistik tidak saja melibatkan dokter anak atau konsultan saraf anak atau psikiater, tetapi juga psikolog, terapis perilaku, guru dan tentu saja orangtua dan keluarga.

Pertama kali anak akan dievaluasi terlebih dahulu apakah benar anak mengalami ADHD ? Bila ya, sejauh mana gangguan ini menganggu perkembangan dan kehidupan sehari-harinya. Bila gangguannya ringan, misalnya anak masih bisa berkonsentrasi dalam rentang waktu tertentu, masih bisa menerima instruksi dan perilaku impulsifnya jarang keluar, obat tidak perlu diberikan namun anak akan memperoleh serangkaian terapi perilaku. Bila terpaksa harus minum obat, dokter akan mengawasi dosis, lama pemberian dan hasil yang dicapai sehingga tidak mungkin menyebabkan kecanduan atau efek samping yang lain.

T : Penanganan apa yang akan dilakukan untuk anak ADHD ?

Setelah dilakukan evaluasi, akan ditentukan apakah anak akan mendapat terapi perilaku saja atau harus disertai dengan minum obat. Jenis terapi ditentukan juga oleh kondisi lain yang dapat menyertai gangguan ADHD ini seperti gangguan oppositional defiant and conduct, depresi, kecemasan, gangguan kognitif. Tujuan dari penanganan ADHD adalah agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan normal, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan sosial lainnya.

T : Apa yang harus dilakukan oleh orang tua bila anaknya diketahui mengalami ADHD ?

1. Terimalah kondisi anak

Inilah hal pertama dan terpenting yang perlu dilakukan orang tua. Bila sudah dapat menerima kondisi anak, orang tua akan lebih baik dalam melakukan penanganan selanjutnya. Sadari bahwa anak bukan ingin seperti itu melainkan kondisi otaknya yang sudah demikian sehingga muncul perilaku yang kurang positif.

Orang tua penderita pun disarankan untuk tidak menyimpan permasalahannya sendiri. Curhat pada seseorang yang dianggap bisa membantu, meski sekadar untuk mendengarkan cerita, sedikit banyak dapat meringankan beban masalah. Curhat terkadang bisa menjadi sarana cooling down bagi orang tua
sehingga tindakan yang dilakukan lebih lanjut bisa berjalan dengan lebih baik.

Kerja sama antara suami-istri harus dijalin dengan baik agar anak dapat tertangani dengan baik. Akan sangat membantu bila anggota keluarga lain, seperti kakek-nenek atau kerabat lainnya memahami apa yang kita hadapi.

2. Perbaiki perilaku anak

Hal lain yang perlu penanganan segera adalah perilaku anak yang destruktif agar perilakunya lebih terarah. Untuk ini tentu diperlukan bantuan ahli seperti psikolog.

Pada umumnya, saran yang diberikan ahli adalah menyalurkan energi anak pada kegiatan-kegiatan positif yang ia sukai. Bila bosan, ganti dengan yang lain lagi. Intinya, usahakan energinya habis untuk kegiatan yang positif.

3. Terapi

Bila gangguan yang dialami tergolong parah, biasanya akan dilakukan terapi perilaku, seperti terapi psikososial, educational therapy, occasional therapy, dan psikoterapi. Dalam terapi seperti itu anak akan diajarkan perilaku mana yang boleh dan tidak. Obat-obatan sedapat mungkin dihindari karena memiliki efek samping, seperti mengantuk, nafsu makan berkurang, sulit tidur, tik (semacam kedutan), nyeri perut, sakit kepala, cemas, perasaan tidak nyaman, serta menghambat kreativitas.

Pemberian obat dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan efek negatif pada sistem saraf, yakni menyebabkan ketergantungan obat, bahkan sampai ia dewasa. Obat baru digunakan bila dalam kondisi terpaksa.

4. Sediakan sarana

Untuk mengantisipasi gerakan-gerakan anak dengan gangguan hiperaktivitas yang tidak bisa diam, sebaiknya ruangan untuk anak bermain dirancang sedemikian rupa agar tidak terlalu sempit serta tidak dipenuhi banyak barang dan pajangan. Hal ini untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, seperti anak terbentur, tersandung, atau bahkan memecahkan barang-barang berharga. Bila memang tersedia, halaman luas sangat baik untuk memberikan kebebasan bergerak bagi penderita.

T : Sebagian orang tua tidak menginginkan anak mendapat obat untuk jangka panjang. Apakah ada usaha mengubah perilaku anak ADHD tanpa obat ?

Untungnya ada, dengan teknik Behavior Therapy atau Behavior Modification. Teknik ini dapat dilakukan sendiri tanpa obat atau digabung dengan pemberian obat. Behavior Modification dilatihkan kepada orang tua, guru dan anak.

Untuk melakukan Behavior Modification, beberapa hal harus diingat :

  1. Perilaku tidak dapat diubah dalam sekejap. Mulailah dengan tujuan konkrit yang sederhana dan dapat dicapai oleh anak.
  2. Konsisten. Harus konsisten kapan saja, dimana saja, siapa saja. Bila anak meminta sesuatu, lalu ditolak oleh ibu tetapi diperbolehkan oleh ayah, akibatnya anak akan menjadi bingung.
  3. Lakukan untuk jangka panjang, bukan hanya satu-dua bulan.
  4. Mengajar dan belajar perilaku baru memerlukan waktu dan dari waktu ke waktu anak akan bertambah baik.

T : Apakah dapat dijelaskan, bagaimana pelaksanaan Behavior Modification itu ?

Pengajaran teknik Behavior Modification kepada orang tua sebenarnya mirip dengan teknik Good Parenting yang sangat masuk akal dan seringkali sudah dikerjakan secara naluriah. Beberapa teknik yang dapat dipelajari, misalnya :

  1. Membuat dan menerapkan peraturan di rumah.
  2. Belajar memuji bila anak melakukan hal yang baik dan benar, tidak mengambil hati bila anak berperilaku buruk.
  3. Memerintah atau menyuruh anak dengan baik.
  4. Merencanakan bepergian bersama anak ke tempat ramai.

Di sekolah, teknik tertentu juga dapat dipelajari, misalnya bagaimana berteman baik, memberi tambahan kemampuan baru di bidang olahraga dan permainan, mengajarkan kemampuan bersosialisasi dan memecahkan masalah dan lain-lain.

Benarkah Anak-Anak Mahluk Paling Jujur di Dunia?

Dengarlah perkataan anak-anak, merekalah satu-satunya yang dapat dipercaya karena hanya mereka yang pasti menyampaikan kebenaran. Tidak ada kebohongan pada diri anak-anak. Semua yang dikatakannya jujur semata. Benarkah?

Pada saat masih sangat muda, sekitar umur 3 tahunan, seorang anak berbohong karena tidak bisa membedakan mana yang fantasi dan mana yang berupa kebenaran. Pada umur itu, anak-anak juga biasa melupakan apa yang telah dilakukan. Sekitar umur 5 atau 6 tahunan, anak-anak mulai bisa membedakan mana yang merupakan fantasi dan mana yang kenyataan sesungguhnya.  Pada umur ini, anak mulai belajar apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui orangtuanya. Selain itu seorang anak juga mulai membangun rasa bersalah jika melakukan tindakan yang tidak semestinya. Pada saat inilah dimungkinkan bohong dilakukan seorang anak untuk menghindari ketidaksetujuan orangtua atau hukuman. Misalnya karena orangtuanya selalu memarahi bila merusak sesuatu, maka ketika memecahkan gelas sang anak berbohong. Jika mengakui memecahkan gelas, sang anak khawatir bakal mendapatkan kesulitan. Umur 5-6 tahunan juga merupakan umur dimana seorang anak ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Oleh karena itu salah satu strategi untuk menarik perhatian adalah dengan berbohong.

Sekitar umur 7-8 tahunan, kebanyakan anak telah belajar membedakan yang kenyataan dan yang berupa fantasi. Umumnya alasan berbohong pada umur ini adalah untuk menghindari hukuman jika berkata jujur atau untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada umur ini, seorang anak juga mulai belajar tentang kesopanan. Mereka mulai bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya ada tetangga memberikan kue, maka akan dibilang sangat enak meskipun tidak menyukai kue itu. Salah satu yang paling menarik mengenai bohong anak-anak pada usia ini adalah bohong menangis untuk membantu temannya yang diganggu teman yang lain. Tangisan membuat kejadian itu diperhatikan orang. Ini artinya bohong digunakan untuk membantu.

Pada saat beranjak remaja, kebohongan biasanya dilakukan untuk melindungi privasi, membangun independensi, dan menghindari kebingungan. Selain itu bisa jadi bohong dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan jika mengatakan kebenaran. Misalnya meminta uang untuk membeli mainan tidak akan diberi, tapi meminta uang untuk membeli buku akan diberi. Oleh sebab itu mereka meminta uang pada orangtua untuk membeli mainan meski sebenarnya untuk membeli buku.

Berbohong pada anak-anak sebenarnya bukan sesuatu yang sangat serius kecuali jika menjadi kebiasaan atau kompulsif (berulang terus menerus). Namun jika dibiarkan maka anak akan kesulitan ketika bergaul dengan teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan permainan, yang selanjutnya akan menimbulkan masalah lebih parah pada saat tumbuh dewasa. Oleh karena itu sejak dini orangtua harus memberikan pelajaran kejujuran pada anak.

Memberikan hukuman atas kebohongan yang dilakukan anak cenderung malah merugikan karena sang anak berbohong untuk menghindari hukuman. Sehingga malah mungkin meningkatkan kebohongan yang dilakukan pada masa mendatang ketimbang menurunkannya, karena anak belajar bahwa akan dihukum bila ketahuan tapi tidak  akan dihukum bila tidak ketahuan.  Akibatnya anak akan lebih berusaha agar tidak ketahuan berbohong. Lebih baik membicarakan dari hati ke hati apa akibat-akibat apabila tidak jujur. Diharapkan itu akan menekan ketidakjujuran anak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih kejujuran anak :

  1. Selalu menerangkan dan meminta maaf jika tidak menepati janji
  2. Jika kedapatan berbohong di muka anak, akuilah, dan jelaskan alasannya
  3. Jangan mengatakan kebohongan untuk mendapatkan persetujuan anak
  4. Jangan memberikan terlalu banyak aturan pada anak
  5. Jangan terlalu sering memberikan hukuman pada anak
  6. Jangan langsung marah jika anak melakukan kebohongan, tanyakan dulu mengapa

 

Sumber : http://psikologi-online.com/benarkah-anak-anak-mahluk-paling-jujur-di-dunia/comment-page-1#comment-573