Selesma pada Bayi

Umumnya, anak balita mudah terserang penyakit selesma. Bahkan, bayi di bawah usia satu tahun pun mudah terserang. Keluhan yang sering timbul adalah batuk, pilek ringan, hidung tersumbat, kadang-kadang disertai demam, sakit kepala, dan nycri otot. Penvakit ini dapat ditularkan melalui orang yang menderita selesma. Karma itu, jauhkan atau hindarkan si kecil dari penderita selesma. Apabila sudah terlanjur terserang selesma, orangtua harus memberikan kenyamanan kepada anak dan berusaha menyembuhkan gejalanya.

Bayi berusia kurang dari 6 bulan yang terkena selesma sering kesulitan bernapas karena lubang hidung tersumbat. Mengingat bayi belum dapat membuang ingus sendiri, tindakan yang bisa kita lakukan adalah membersihkan ingusnya dengan lap lembut atau mengisap hidung bayi supaya lendir keluar dari hidungnya.

Saat ini, sudah tersedia alit pengisap lendir sebagai alas bantu. Apabila suhu badan anak meningkat, sebaiknya berikan baju yang longgar dan tipis, supaya panas tubuhnya mudah keluar. Selain itu, anak harus diberi minum yang banyak supaya panas tubuhnya turun dan mengurangi sakit di bagian tenggorokan.

Penyakit selesma bisa berkembang menjadi penyakit saluran pernapasan yang lebih berat, seperti bronkiolitis, bronkitis, pneumonia, asma, pharyngitis, tonsilitis, dan sinusitis.

Daftar Pustaka
Mengatasi Penyakit pada Anak dengan Ramuan Tradisional Oleh dr. Lestari Handayani, M.Med (PH) & Dra. Herti Maryani.

 

Mitos VS Fakta Mengenai Anak Bermasalah

By : Ayah Edy – Praktisi Multiple Intelligence & Holistic Learning

 

Para orang tua dan guru yang berbahagia, Kontroversi pemahaman tentang anak sering kali membuat kita yang awam ini merasa bingung; padangan manakah yang benar….? Padahal selama 20 tahun terakhir telah terjadi perubahan padangan yang sangat besar antara para praktisi dan pemerhati pendidikan Sebelum dan Setelah tahun 80-an dalam memandang anak-anak yang bermasalah. Mari kita ketahui apa saja perbedaanya; dan manakah yang mitos dan mana yang lebih dekat pada fakta;

Pandangan Sebelum 80-an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Mitos) Pandangan setelah 80an yang selanjutnya akan saya sebut sebagai (Fakta)
1 MITOS: Setiap anak dilahirkan berbeda, sebagian besar dalam kondisi normal dan sebagian lagi mengalami kelainan, yang sering dikelompokkan kedalam Learning Disability, Attention Defisit Disorder, Attention Defisit Hiperactive Disorder dan Disleksia FAKTA: Setiap anak dilahirkan berbeda, oleh karenanya memerlukan perlakuan dan cara pembelajaran yang berbeda sesuai dengan ciri-ciri keunikan yang dimilikinya masing-masing. Tidak ada yang disebut kelainan pada anak, yang ada adalah perbedaan cara belajar dan sifat-sifat dasar anak, yang merupakah fitrah alami dari Tuhannya.
2 MITOS: Setiap Anak Terlahir ada yang Sangat Cerdas, Cerdas dan Kurang Cerdas FAKTA: Setiap anak yang terlahir adalah Cerdas pada bidangnya masing-masing, kecuali anak yang mengalami cacat otak sejak lahir atau karena kecelakaan yang fatal. Namun ada sebagian anak yang dinyatakan cacad sekalipun secara medis masih dapat kembali normal yang memupuk kecerdasaanya hingga menjadi yang terbaik (Ref: He Ah Lee; The Four Fingger Pianist)
3 MITOS: Kecerdasan yang dimaksud meliputi kemampuan dalam Membaca, Menulis dan Berhitung FAKTA: Kecerdasan bersifat tidak terbatas, Membaca, Menulis dan Berhitung hanyalah salah satu kecerdasan yang disebut berbahasa dan berlogika
4 MITOS: Kecerdasan dapat di ukur melalui tes kecerdasan yang sering disebut dengan Tes IQ. FAKTA: Kecerdasan tidak dapat diukur, melainkan dapat di gali, diamati dan dikembangkan untuk mencapai tingkat maksimum.
5 MITOS: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor internal anak tersebut dengan kemungkinan menderita kelainan salah satu dari yang disebut LD, ADD atau ADHD. FAKTA: Kegagalan anak dalam proses belajar disebabkan karena faktor ekternal yang berupa ketidakmampuan para pendidik dan orang tua memahami gaya belajar, sifat dasar anak serta teknik-teknik mendidik/mengajar yang sesuai dengan gaya belajar dan sifat dasarnya
6 MITOS: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka anak yang dikategorikan sebagai penderita LD, ADD dan ADHD perlu mendapat terapi khusus, yang kerap kali menggunakan obat-obatan yang cukup berbahaya seperti Ritalin (methylphenidate), Dexedrin (dextroamphetamine), Cylert (pemolin), klonidin dan anti depresant lainnya. FAKTA: Agar tidak mengalami kegagalan dalam proses belajar maka orang tua, guru dan pendidik harus belajar dan menguasai teknik mengajar holistik, Tipologi Sifat dasar anak, Gaya Belajar Anak serta Sistem Penilaian yang berbasiskan pada keberagaman kecerdasan masing-masing anak.
7 MITOS: Penilaian lebih difokuskan pada sisi kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang disebut sebagai “kelainan” pada anak untuk bisa diatasi. FAKTA: Penilaian harus lebih difokuskan pada sisi keunggulan spesifik yang dimiliki anak yang disebut sebagai potensi kecerdasan yang terpendam agar bisa tumbuh menjadi yang terbaik dibidangnya.
8 MITOS: Belajar didefinisikan sebagai kemapuan untuk mengingat kembali informasi yang pernah disampaikan atau berpusat pada kemapuan untuk menghafal secara sama dan seragam. FAKTA: Belajar didefinisikan sebagai proses kreatif yang meliputi Mengetahui, Melakukan, Menganalisa, Menyimpulkan dengan cara dan hasil berbeda sesuai dengan hasil temuan dan pengalaman masing-masing anak..

Para orang tua dan guru yang berbahagia mari kita gunakan Logika dan Nurani kita yang paling dalam untuk menilai pandangan manakah yang menurut anda lebih masuk akal dan lebih memberi peluang sukses bagi anak-anak kita kelak…..! Tentu saja kali inipun anda bebas memilih apakah anda akan memilih pandangan-pandangan yang bersifat mitos atau yang berdasarakan fakta penelitian, dan tentu saja pilihan itu sepenuhnya berada ditangan anda !

PERMEN

By Ayah Edy   (Parenting Consultant and Holistic Learning)
Suatu hari ada seorang ibu membawa anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun untuk menghadiri  sebuah pesta ulang tahun temannya;  pestanya berlangsung sangat meriah;  namun si orang ibu ini terus mengkomplain anaknya yang katanya tidak berani tampil dan pemalu.
Setiap diadakan perlombaan selalu ia mendorong-dorong anaknya untuk ikutan; namun sianak tetap saja enggan untuk ikut.  Kalapun terpaksa ikut anak ini kerap kali selalu kalah atau berada pada urutan terakhir dari perlombaan.
Si ibu yang penuh ambisi ini sepertinya merasa kecewa dengan tingkah laku anaknya yang demikian.  Lalu dia menceritakan betapa hebatnya ia waktu masih seusia anaknya dulu.  Ia bercerita bahwa dulu dirinya selalu berani mengikuti lomba; ia juga selalu menang dalam setiap perlombaan.   Dia terus saja bercerita; dan terus membandingkan kehebatan dirinya dengan anaknya.
Sampai akhirnya pestapun usai;  pada saat hendak pulang tiba-tiba si tuan rumah menghampirinya….Hallo sayang…. terima kasih ya telah hadir diacara kami…. oh iya…. ini sebelum pulang kamu boleh ambil permen ini ayo silahkan ambil; ambilah dengan kedua tanganmu agar kamu dapat banyak.  Namun si anak diam saja sambil menatap pemen itu.  Si orang tua mulai gusar dan meminta anaknya untuk mengambil permen dengan kedua tangannya;  namun kembali si anak tetap diam sambil menatap permen-permen itu.  Sampai akhirnya si tuan rumah mengambilkan permen itu dengan tangannya sendiri.
Sesampainya dirumah siorang tua kecewa dan mengeluh sambil mengomel; dia berkata begini;  Dasar kamu ini ya…., Cuma diminta ambil permen saja kok ya tidak berani;  mau jadi apa kamu nanti;   namun diluar dugaannya anaknya tiba-tiba menjawab;  aku bukan tidak berani mengambil mami tapi aku ingin mendapatkan permannya lebih banyak;  tangankukan kecil sedangkan tangan Tante tadikan jauh lebih besar; jadi aku tunggu saja biar dia yang mengambilkan untukku.
Begitulah kita para orang tua sering kali menghakimi anak kita dengan asumsi dan presepsi-presepsi kita yang sering kali sangat dangkal, padahal dibalik semua prilaku anak kita sering kali terdapat alasan yang luar biasa hebat dan kritisnya yang terkadang membuat kita berdecak kagum;  Kok bisa ya anak sekecil ini berpikir sekritis itu……
Mari kita berhenti untuk menghakimi anak-anak kita…; melainkan tanyalah mengapa mereka melakukan ini atau melakukan itu…. kelak anda akan dibuat terkagum-kagum oleh jawaban si kecil anda…