Bermain Sains untuk Anak Usia Dini

by bunda ida , TK ISLAM PLUS AYA SOPHIA

Sains adalah produk dan proses.  Sebagai produk, sains adalah pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik alami.  Sebagai proses, sains mencakup kegiatan menelusuri, mengamati dan melakukan percobaan.  Kegiatan bermain sains sangat penting diberikan untuk anak usia dini karena multi manfaat, yakni dapat mengembangkan kemampuan:

  1. Eksplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek serta fenomena alam
  2. Mengembangkan ketrampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, mengukur, mengkomunikasikan hasil pengamatan, dan sebagainya.
  3. Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang dan mau melakukan kegiatan inkuiri atau penemuan.
  4. Memahami pengetahuan tentang berbagai benda baik ciri, struktur maupun fungsinya.

Berikut ini disajikan contoh kegiatan sains untuk anak usia dini:

Bidang Pengembangan      :     kemampuan dasar kognitif

Tingkat Capaian Perkembangan : siswa dapat mengenal berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari

Capaian Perkembangan    : siswa dapat mengenal konsep sains sederhana

Jenis Kegiatan:

1.      Penggabungan Warna

Indikator

  • Siswa dapat membedakan warna primer (merah, kuning, biru)
  • Siswa dapat menyebutkan warna baru hasil penggabungan (warna sekunder)
  • Siswa dapat member contoh benda yang berwarna merah, kuning, biru, hijau, oranye dan ungu

Alat dan bahan:

  • Plastik mika berwarna merah, kuning dan biru
  • Kertas HVS putih
  • Steples

Cara kerja:

  1. Letakkan kertas HVS putih di atas meja dan tempelkan mika kuning di atas kertas HVS.  Kemudian tempelkan mika biru di atas mika kuning.  Apa yang terjadi?
  2. Dengan langkah sama, tempelkan mika merah di atas mika kuning.  Apa yang terjadi?
  3. Sekarang, tempelkan mika merah di atas mika biru.  Apa yang terjadi?

2.       Penggabungan Warna

Indikator:

  • Siswa dapat membedakan warna primer (merah, kuning, biru)
  • Siswa dapat menyebutkan warna baru hasil penggabungan (warna sekunder)
  • Siswa dapat member contoh benda yang berwarna merah, kuning, biru, hijau, oranye dan ungu

Alat dan bahan:

Gelas aqua (9 buah), Air, Pewarna makanan merah, kuning, biru

Cara kerja:

  1. Isi 3 gelas aqua dengan air bening (tidak berwarna)
  2. Teteskan pewarna merah ke dalam gelas pertama, kuning ke dalam gelas kedua dan biru ke dalam gelas ketiga.  Apa yang terjadi?
  3. Bagilah cairan berwarna merah, kuning dan biru tadi masing-masing menjadi tiga.
  4. Campukan cairan merah dengan kuning, apa yang terjadi?
  5. Campurkan cairan merah dengan biru, apa yang terjadi?
  6. Campurkan cairan kuning dengan biru, apa yang terjadi?

Konsep

Warna primer        :  warna dasar, yaitu merah, kuning, biru

Warna sekunder      :  hasil pencampuran warna primer

  • Merah + kuning                 =  oranye
  • Merah + biru                      =  ungu
  • Kuning + biru                     =  hijau

 3.       Magnet

Indikator:

  • Siswa dapat membedakan benda yang disebut magnet dan benda bukan magnet
  • Siswa dapat membedakan benda-benda yang dapat ditarik oleh magnet dan yang tidak dapat ditarik magnet.

Alat dan bahan :

Magnet, Penggaris, Gunting, Permen, Pensil, Kertas, Peniti, Paku kecil, Klip Kertas, Penghapus

Cara kerja

  1. Dekatkan magnet dengan benda-benda di atas satu per satu sambil berteriak “Kamu kena…..”
  2. Amati apa yang terjadi?   Jika benda tidak dapat ditarik magnet, semua berteriak “Huuuu……”

4.       Sulap Bunga

Indikator:

  • Siswa dapat mengenal  salah satu sifat air, yaitu dapat masuk ke dalam pori-pori yang halus

Alat dan bahan:

Kertas marmer, Pensil warna atau krayon, Gunting, Mangkok yang bagian mulutnya lebar, Air

Cara kerja

  1. Gambarlah pola bunga pada kertas marmer seperti gambar di bawah, kemudian warnai.
  2. Guntinglah bagian tepinya.
  3. Lipatlah “mahkota bunga”  sehingga seperti bunga yang sedang kuncup.
  4. Isilah air ke wadah mangkok hingga tiga per empat
  5. Letakkan bunga teratai kertasmu secara perlahan di atas permukaan air.  Perlahan tetapi pasti, bunga terataimu akan mekar.

Konsep

  1. Kertas memiliki pori-pori yang sangat halus yang terletak di antara serat kertas sehingga tidak terlihat oleh mata kita.
  2. Air memiliki kemampuan masuk ke pori-pori kertas.  Kemampuan ini disebut daya kapilaritas.
  3. Masuknya air ke pori-pori kertas menyebabkan serat kertas mengembang termasuk bagian lipatan kertas.  Inilah yang menyebabkan bunga terataimu menjadi mekar.

5.       Kapur Barus Lompat

Indikator:

  • Siswa dapat mengenal posisi benda dalam air (tenggelam, terapung, melayang)

Alat dan bahan:

Kapur barus berbentuk bola, Cuka, Soda kue, Air, Botol selai,  Sendok

Cara kerja :

  • Isilah botol selai dengan air hingga tiga per empat bagian.
  • Tuangkan dua sendok cuka dan dua sendok soda kue, kemudian aduk sampai merata.
  • Ketuk-ketukkan kapur barus ke meja sehingga permukaannya yang halus menjadi kasar.
  • Masukkan kapur barus ke dalam botol selai.  Apa yang terjadi?

Konsep

Pertama kali kapur barus akan tenggelam karena lebih berat dibandingkan air.  Kemudian akan tampak gelembung-gelembung di permukaan kapur barus.  Gelembung tersebut adalah gas karbon dioksida yang dihasilkan larutan campuran cuka dan soda kue.  Sifat  gas karbon dioksida adalah lebih ringan dibandingkan air.  Karena gas ini menempel pada kapur barus, maka kapur barus akan tampak seperti berlompatan.

6.       Telur Ajaib

Indikator:

  • Siswa dapat mengenal posisi benda dalam air (tenggelam, terapung, melayang)

Alat dan bahan:

Telur ayam mentah, Air, Garam, Gelas kaca bening

Cara kerja:

  1. Isilah gelas dengan air hingga tiga per empat bagian.
  2. Masukkan telur, tomat dan wortel ke dalam gelas.  Apa yang terjadi?
  3. Masukkan garam ke dalam gelas. Apa yang terjadi?

Konsep

Telur di dalam air akan tenggelam karena telur  lebih berat dari pada air.

Telur di dalam larutan  garam akan melayang karena telur sama berat dengan larutan garam.

7.       Paru-paru Plastik

Indikator:

  • Siswa dapat mengenal  cara kerja paru-paru (bernafas)
  • Siswa dapat mempraktikkan gerakan nmenarik nafas dan membuang nafas

Alat dan bahan:

Botol air mineral bekas, Sedotan, Balon karet, Pisau kertas, Lilin mainan, Double tip

Cara kerja:

  1. Potonglah bagian tengah botol plastik.
  2. Ikatkan sebuah balon di salah satu ujung sedotan, kemudian lingkari mulut botol dengan lilin mainan.
  3. Masukkan sedotan melalui mulut botol dan gunakan lilin untuk menutup sela-selanya.
  4. Potonglah balon kedua, kemudian pasang menutupi dasar botol.  Paru-paru plastic sudah jadi.
  5. Jika balon di dasar botol ditarik, balon di dalam botol akan mengembang.
  6. Jika balon di dasar botol dilepaskan, balon di dalam botol akan mengempis.

8. Cetakan Daun Gugur

Indikator :

  • Siswa dapat membedakan bermacam-macam bentuk daun (…… macam)
  • Siswa dapat menyebutkan bentuk daun (melebar, memanjang, menjari)
  • Siswa dapat menyebutkan warna daun

Alat dan bahan:

Berbagai bentuk daun-daun gugur, Alumunium foil tipis, Penghapus, Karton, Lem

Cara kerja:

  1. Letakkan daun-daun dengan rata di atas meja.
  2. Tutupi tiap helai daun dengan alumunium foil tipis.
  3. Gosok-gosokkan penghapus maju mundur secara perlahan alufoil sampai motif daun tercetak di sana.
  4. Untuk memajangnya, rekatkan tiap alufoil bermotif daun pada kertas karton, dan rekatkan daun di sebelahnya.

Sumber Bacaan:

  1. Abadi Prayitno, Amelia Piliang. 2009. Yuk, Bermain Sains Bersama Ayah dan Ibu.  Jakarta.  Dian Rakyat.
  2. Charner Kathy, et.al.  2005.  Brain Power: Aktivitas Berbasis Minat Anak (terj.). Erlangga for Kids.
  3. Yulianti, D. 2010.  Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak-kanak.  Jakarta.  Indeks.

Kecerdasan Emosional

Pengertian Kecerdasan Emosi

Menurut Goleman (1999:7) Asal kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, di tambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi, emosi memancing tindakan dan akar dorongan untuk bertindak dalam menyelesaikan suatu masalah dengan seketika.

Menurut Goleman (2002:45) kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, dan berempati.

Salovey dan Mayer (dalam Snyder & Lopez: 2003:513) mendefinisikan Kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk melihat, menilai, dan mengekspresikan emosi secara efektif, kemampuan memahami emosi, kemampuan untuk menggunakan perasaan untuk memandu kognitif dan tindakan dan kemampuan untuk mengatur emosi dalam diri sendiri dan orang lain.

Menurut Cooper dan Sawaf (dalam Mutadin, 2002:1) kecerdasan emosional adalah “kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi”.

Howes dan Herald (dalam Mutadin, 2002:1) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merujuk pada sejumlah kemampuan dan ketrampilan sosial yang berhubungan dengan pengendalian dan pembinaan hubungan sosial dengan lingkungan, selain itu pengaturan diri dan cognitive inteligensi merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional karena dengan memahami diri dan orang lain, mengatur emosi dengan baik, individu dapat menyadari berbagai emosi yang dimilikinya dan yang dimiliki orang lain serta kekurangan dan kelebihannya sehingga ia mampu menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menghadapi stimulus dari lingkungannya secara tepat termasuk stimulus yang dapat memunculkan perilaku aggressive driving.

Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional

Berdasarkan pendapat Goleman (dalam Mutadin, 2002:1) membagi kecerdasan emosional dalam beberapa kemampuan atau aspek yaitu:

  1. Mengenali Emosi Diri yakni kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri.
  2. Mengelola Emosi. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.
  3. Memotivasi Diri. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut, cara mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang, kekuatan berfikir positif, optimisme, dan keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek
  4. Mengenali Emosi Orang Lain. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
  5. Membina Hubungan Dengan Orang Lain. Membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.
  6. Sedangkan menurut Solovey dan Mayer (dalam Snyder & Lopez, 2002:162)  ada empat model kecerdasan emosional yakni :

  7. Persepsi dan Ekspresi Emosi yakni mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi emosi seseorang baik fisik dan psikologis, mengidentifikasi emosi pada orang lain, mengekspresikan emosi secara akurat dan untuk mengungkapkan kebutuhan yang berhubungan dengan orang lain, dan kemampuan untuk membedakan antara perasaan yang  jujur dan perasaan tidak jujur.
  8. Fasilitasi Pemikiran Emosional (Menggunakan Kecerdasan Emosional) yakni kemampuan untuk mengarahkan dan berpikir berdasarkan perasaan yang terkait, kemampuan untuk menghasilkan penilaian emosi, kemampuan untuk memanfaatkan perubahan suasana hati untuk menghargai orang lain, kemampuan untuk menggunakan keadaan emosional untuk memfasilitasi pemecahan masalah dan kreativitas.
  9. Memahami Emosi yaitu kemampuan untuk memahami hubungan antara berbagai emosi, memahami penyebab dan konsekuensi dari emosi, memahami perasaan secara kompleks, memadukan emosional, serta kemampuan untuk memahami transisi antara emosi
  10. Manajemen Emosi yaitu kemampuan untuk secra terbuka menyatakan perasaan baik menyenangkan dan tidak menyenangkan,kemampuan untuk memonitor dan merefleksikan emosi, kemampuan untuk memahami emosi orang lain, serta kemampuan untuk mengelola emosi dalam diri sendiri dalam diri orang lain

    Dari gambaran tersebut tampak bahwa kecerdasan emosional merupakan suatu konsep di mana kecerdasan emosional berkaitan dengan kondisi emosi serta sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang terutama dalam kehidupan sosialnya, bila individu yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi akan dapat mengatasi berbagai masalah dan mencapai berbagai tujuan sehingga ia dikatakan berhasil dalam hidupnya.

    Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain atau empati, keterampilan sosial, kesadaran diri dan pengaturan diri.

    1.        Ciri Orang Yang Mempunyai Kecerdasan Emosional Tinggi

    Orang yang sukses dalam pekerjaan tidak hanya memiliki intelegensi yang tinggi, namun secara emosional mereka juga baik. Orang yang cerdas secara emosi akan bersikap tegas dan mampu mengendalikan perilaku sehingga terbebas dari perilaku-perilaku negatif. Kecerdasan emosional sangat sulit diukur dan sampai sekarang belum ada alat tes tunggal yang menghasilkan nilai kecerdasan emosional.

    Menurut Blok (dalam Goleman, 2002:60) seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi adalah secara sosial mantap, mudah bergaul dan jenaka, tidak mudah takut atau gelisah, mereka berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang lain atau permasalahan, berani untuk memikul tanggung jawab, mempunyai pandangan moral, mereka simpatik dan hangat dalam hubungan-hubungan mereka, kehidupan emosional mereka kaya tetapi wajar, mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia pergaulan lingkungannya.

    Menurut Hawari (2003:20-22) yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi adalah orang yang mampu mengendalikan diri, sabar, tekun, tidak emosional, tidak reaktif bila mendapat kritik, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, lebih mengutamakan rasio daripada emosi, mempunyai sikap terbuka, transparan, menepati janji, jujur, dan satu kata dengan perbuatan.

    Dari uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa ciri orang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah mudah bergaul, tidak mudah takut, bersikap tegas, berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang lain, konsisten, tidak emosional, lebih mengutamakan rasio daripada emosi, dapat memotivasi dirinya sendiri dan lebih penting dapat memecahkan solusi dalam keadaan yang darurat.

    Manfaat Kecerdasan Emosional

    Pengendalian emosi sangat penting dalam kehidupan manusia karena melalui emosi yang terkendali maka bentrokan antara satu dengan yang lain sangat jarang sekali terjadi. Jika seseorang itu dapat mengenal, mengendalikan emosinya dan dapat menyalurkan emosi itu kearah yang benar dan bermanfaat, maka akan cerdas dalam emosinya. Dengan menggunakan aspek-aspek kecerdasan emosionalnya dengan baik, otomatis akan timbul sikap individu yang diharapkan tersebut.

    Perkembangan kecerdasan emosional ini berhubungan erat dengan perkembangan kepribadian dan kematangan kepribadian. Dengan kepribadian yang matang dapat menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan atau pekerjaan, dan betapapun beban dan tanggung jawabnya besar tidak menjadikan fisik menjadi terganggu. Goleman (2002:48) menyatakan:

    “Orang yang cakap secara emosional, adalah mereka yang dapat mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, mereka ini memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan, entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan atau dalam menangkap aturan-aturan tak tertulis yang menentukan keberhasilan dalam politik organisasi.”

    Seperti yang dikatakan oleh Doug Lennick seorang executive vice president di Amerika Express Financial Services (dalam Goleman, 2003:36) bahwa yang diperlukan untuk sukses dimulai dengan ketrampilan intelektual, tetapi orang memerlukan kecakapan emosi untuk memanfaatkan potensi bakat mereka secara maksimal, jadi kecerdasan emosional dapat membantu seseorang dalam menggunakan kemampuan kognitifnya sesuai dengan potensi yang dimilikinya secara maksimum.

    Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa mereka yang secara intelektual cerdas boleh jadi sangat dibutuhkan untuk membuat perusahaan lebih bersaing, tetapi hal itu ada ganjarannya yaitu runtuhnya kepercayaan, ketidakpastian yang membuat panik, jarak yang lebih besar antara manajer dengan orang-orang yang dikelola, lumpuhnya kreativitas, sinisme, kemarahan yang bisa meledak-ledak, dan hilangnya loyalitas dan komitmen. Jadi sangat diperlukannya kecerdasan emosional untuk mengajarkan bagaimana meningkatkan kapasitas penalaran dan memanfaatkan dengan baik emosi kita, kebijakan intuisi dengan kekuatan dan kemampuan untuk berhubungan pada tingkat dasar dengan diri kita sendiri dan orang-orang sekitar kita.

    Jadi dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dalam mengemudi dan dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu masih banyak manfaat kecerdasan emosional yang lain yang bisa diterapkan dalam kehidupan seharian kita, selain di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan bermasyarakat. Selain itu kecerdasan emosionalah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat, potensi dan mengubahnya dari apa yang kita pikirkan menjadi apa yang kita lakukan.

    Faktor-Faktor Kecerdasan Emosional

    Faktor yang dihasilkan oleh kecerdasan emosional sehingga menentukan dalam karier dan organisasi menurut Cooper & Sawaf (2002:12) adalah: kepemimpinan, pembuatan keputusan, terobosan teknis dan strategi, komunikasi yang terbuka dan jujur, teamwork dan saling mempercayai, loyalitas, kreativitas dan inovasi.

    Faktor kecerdasan emosional yang menentukan kesuksesan dalam perusahaan menurut Goleman (2003:487) adalah:

  • Keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan.
  • Komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar.
  • Prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja.
  • Komunikasi yang terbuka dan saling percaya diantara semua yang ikut berperan.
  • Membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif.
  • Kolaborasi, saling dukung, dan saling berbagi sumber daya.
  • Inovasi, keberanian mengambil resiko, dan kesediaan belajar bersama.
  • Gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri.

Faktor utama yang menyebabkan turunnya kecerdasan emosional menurut Goleman (2003:468) adalah:

  1. Beban kerja yang berlebihan, peningkatan beban kerja mengurangi masa istirahat yang dibutuhkan untuk pemulihan. Habisnya cadangan energi dan daya dengan sendirinya berdampak buruk kepada mutu kerja.
  2. Kurangnya otonomi, membuat karyawan merasa tidak menghargai kemampuan mereka untuk menilai dan kemampuan lain yang sudah ada sejak semula.
  3. Imbalan yang tidak memadai, beban kerja berlebihan ditambah terbatasnya wewenang dan tidak terjaminnya kelangsungan pekerjaan yang mengakibatkan hilangnya kenikmatan dalam bekerja.
  4. Hilangnya sambung rasa, meningkatnya isolasi dalam lingkungan pekerjaan yang mengakibatkan merapuhnya hubungan dan kenikmatan yang timbul dari rasa kebersamaan berkurang.
  5. Perlakuan tidak adil, perlakuan ini dapat berupa ketidak adilnya besar upah untuk kenaikan antara atasan dengan bawahannya atau beban kerja, dan diacuhkanya pernyataan keberatan atau kebijakan-kebijakan yang arogan.
  6. Konflik nilai, ketidaksesuaian antara prinsip-prinsip seseorang dan tuntutan pekerjaan.
  7. Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa faktor yang dihasilkan dari kecerdasan emosioanal adalah adanya  keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan, komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar, prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja, komunikasi yang terbuka, saling percaya diantara semua yang ikut berperan, membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif, kolaborasi, saling dukung, saling berbagi sumber daya, inovasi, keberanian mengambil resiko, kesediaan belajar bersama, gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri.