Penerimaan Murid Baru. T.A 2011/2012

Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak Anak Ceria, menerima calon siswa baru untuk T.A : 2011/2012  Untuk Kelompok  :

a, Todler (usia anak 1,5 – 3 tahun)

b. Kelompok Bermain (usia anak 3 – 4 tahun)

c. Taman Kanak Kanak (usa anak 4 – 6 tahun)

Pendaftaran dibuka dari bulan Maret s/d Mei 2011 (Gelombang Pertama)

Persyaratan :
- Membawa pas photo 3×4 cm sebanyak 6 (enam) lembar.
- Membawa copy Akte Kelahiran
- Membawa copy KTP orang tua
- Mengisi formulir pendaftaran
- Membayar biaya administrasi pendidikan.

Syarat dan Ketentuan dapat menghubungi KB-TK Anak Ceria  Banjarbaru, setiap hari dan jam kerja.

Panitia PSB KB/TK Anak Ceria Banjarbaru, 2011/2011

MODEL PEMBELAJARAN ATRAKTIF DI TAMAN KANAK-KANAK

Oleh: Kartini, S.Pd.
(Widyaiswara PPPG Tertulis Bidang Studi Keguruan)

Sasaran utama dalam kerangka sistem dan aktifitas persekolahan di antaranya mempersatukan pendidikan dan kreatifitas peserta didik. Tujuannya untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang dimiliki anak didik termasuk potensi memberikan respon kreatif terhadap hal-hal sekitar kehidupannya. Ada yang beranggapan bahwa bila daya kreativitas peserta didik rendah, maka secara pedagogis ada yang kurang pas dalam kerangka sistem dan aktivitas persekolahan.Malik Fadjar sebagai praktisi pendidikan berpendapat selama ini proses belajar mengajar terasa rutin dan statis, kalaupun ada perubahan atau perbaikan sifatnya masih sepotong-sepotong dan parsial. Padahal pembaharuan dan perubahan tidak hanya menyangkut didaktik metodik saja, melainkan menyangkut pula aspek-aspek pedagogis, filosofis, input, proses, dan output.

James W. Botkin menamai proses belajar itu dalam suasana inovatif [innovative Seaming). Suasana belajar yang inovatif dapat memecahkan persoalan-persoalan krisis dalam pendidikan dan membentuk ketahanan anak didik maupun sekolah dalam menghadapi kehidupan serta menjaga harkat martabat manusia supaya tetap berkembang.

Sementara ini ada pemahaman yang salah, mereka menganggap bahwa guru TK tidak lagi berpandangan bahwa taman yang paling indah tempat bermain dan berteman banyak yang penuh dengan suasana inovatif. Akan tetapi tempat belajar, tempat mendengar guru mengajar dan mengerjakan PR. Tentu saja hal itu akan membuat anak-anak jenuh, pasif, dan terlebih lagi hilang sebagian masa bermainnya.

Dalam tulisan ini mencoba menguraikan bagaimana mempertemukan pendidikan dan kreativitas pada anak didik melalui model pembelajaran di TK yang atraktif.

PPPG Tertulis telah rnengadakan studi banding pada sekolah Taman Kanak-kanak di wilayah Bandung tengah mengenai pengembangar model pendidikan di TK. Berdasarkan temuan di lapangan ada beberapa TK yang sedang menerapkan pengembangan –model pendidikan untuk TK Atrakfif.

Gagasan TK Atraktif tersebut pada dasarnya merupakan upaya mengembalikan TK pada fungsinya yang hakiki sebagai sebuah taman yang paling indah. Maksud taman di sana yaitu TK yang menyenangkan dan menarik. Selain dari itu, dapat juga menantang anak untuk bermain sambil mempelajari berbagai hal tentang bahasa, intelektual, motorik, disiplin, emosi, dan sosiobilitas.Kata atraktif mengandung makna selain menarik dan menyenangkan juga penuh kreativitas dan dapat mendorong anak bermain sambil belajar sesuai dengan prinsip pokok pendidikan di TK.

Pengembangan Model Pelajaran untuk TK Atraktif

Seperti yang sudah diuraikan di atas, bahwa tujuan pokok dari pengembangan TK atraktif ialah mengembalikan dan menempatkan TK pada fungsinya yang hakiki sebagai sebuah taman. Secara khusus, pengembangan TK atraktif bertujuan untuk:

  • Menanamkan filosofi pelaksanaan pendidikan di Taman Kanak-kanak. Filosofi pendidikan TK telah disusun dan dituangkan dengan indahnya dalam mars lagu TK. Mars TK bukan hanya sekedar dinyanyikan, tapi merupakan pengejawantahan isi dan makna yang tertuang dalam lagu tersebut. TK adalah “taman yang paling indah”, secara filosofi seharusnya menjiwai pelaksanaan pendidikan TK dengan berbagai bentuk kegiatan yang indah, menarik dan menyenangkan anak. “Tempat bermain”, yaitu melalui bermain anak akan “berteman banyak”, urrtuk mempelajari karakter, keinginan, sikap, dan gaya tingkah laku masing-masing.
  • Menyebarkan wawasan tentang pelaksanaan pendidikan TK yang atraktif. Tingginya derajat penyimpangan TK mengharuskan perlunya secara intensif penyebaran wawasan dan pemahaman tentang makna dan proses pendidikan TK atraktif.
  • Mengubah sikap dan perilaku guru yang belum sesuai dengan kerakteristik pendidikan di TK.
  • Mendorong munculnya inovasi dan kreativitas guru dalam menciptakan dan mengembangkan iklim pendidikan yang kondusif di TK.

Selanjutnya suatu Taman Kanak-kanak dapat dikatakan atraktif apabila memenuhi 3 persyaratan yang disebut sebagai 3 pilar utama.

Pilar pertama:
Penataan lingkungan, baik di dalam maupun diluar kelas. Walaupun penataan lingkungan di TK sudah ada dalam buku pedoman sarana pendidikan TK. Namun bagi seorang guru yarrg kreafif, tidak ada sejengkal ruangan yang tidak bisa dijadikan sarana pengembangan anak. Segi penataan lingkungan di dalam kelas, setiap ruangan, mulai dari lantai, dinding, rak buku, jendela, sampai langit-langit dapat dibuat menjadi atraktif. Begitu juga segi penataan lingkungan di luar kelas, mulai dari pintu gerbang, jalan menuju kelas, tanaman hias, apotik hidup, kandang binatang ternak, saluran air, tempat sampah, papan pengumuman, ayunan, jungkitan, papan luncur sampai terowongan semuanya bisa dirancang atraktif. Contoh: Pintu gerbang- bisa dibentuk menjadi bentuk ikan hiu, harimau atau ayam.

Pilar kedua: Kegiatan bermain dan alat permainan edukatif, Merancang, dan mengembangkan berbagai jenis alat permainan edukatif, bagi guru yang kreatif akan menggunakan bahan-bahan yang terdapat di lingkungan sekitar anak, misalnya terbuat dari koran, kardus, biji kacang hijau, batang korek api, lilin, gelas aqua dan sebagainya. Demikian pula pada kegiatan pengembangan kemampuan anak, akan dikemas oleh guru menjadi kegiatan yang menarik. dalam suatu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), contohnya dalam pembukaan ada kegiatan brainstorming, dalam proses permainan ada kegiatan fun cooking, sandal making, story reading, atau story telling.

Pilar ketiga: Ada interaksi edukatif yang ditunjukkan guru. Guru TK harus memahami dan melaksanakan tindakan edukatif yang sesuai dengan usia perkembangan anak. Mulai dari. pembukaan kegiatan proses KBM sampai penutup kegiatan. Tindakan guru dapat dimulai dengan memberikan teladan, misalnya cara duduk, membuang sampah etika makan, berpakaian, berbicara dan sebagainya. Demikian pula cara bertindak, misalnya memberi pujian dan dorongan pada anak, menunjukkan kasih sayang dan perhatian hendaknya adil.Beberapa

Beberapa Model Pendidikan TK Atraktif

Dalam tulisan ini, akan dikemukakan 2 contoh model pendidikan TK atraktif, yaitu Pengajaran Suara, Bentuk dan Bilangan dan Sistem PengajaranSentra.

1. Pengajaran Suara, Bentuk, dan Bilangan

Konsep pengajaran suara, bentuk dan bilangan berawal dari konsep dasar yang dikemukakan oleh John Heindrich Pestalozzi. Walaupun Pestalozzi hidup pada abad 16, tapi pandangan dan konsep-konsepnya banyak yang menjadi kerangka dasar para pemikir pendidikan anak untuk Taman Kanak-kanak di abad sekarang. Salah satu karyanya berjudul “Die Methoden” yang mengupas tentang metodologi pembelajaran dalam beberapa bidang pelajaran. Salah satu pandangannya yang sangat relevan dalam pendidikan untuk TK atrakfif adalah konsep pembelajaran yang menekankan pada suara, behtuk dan bilangan. Konsep ini sangat dekat dengan pengembangan potensi anak pada dimensi auditori, visual dan memori yang tepat digunakan bagi perkembangan anak TK.

Pandangan Dasar tentang Pendidikan

Pestalozzi mempunyai pandangan bahwa pendidikan bukanlah upaya menimbun pengetahuan pada anak didik. Atas dasar pandangan ini, ia menentang pengajaran yang “verbalists”. Pandangan ini melandasi pemikirannya bahwa pendidikan pada hakikatnya usaha pertolongan (bantuan) pada anak agar anakmampu menolong dirinya sendiri yang dikenal dengan “Hilfe Zur Selfbsthilfe“.

Dilihat dari konsepsi tujuan pendidikan, Pestolozzi sangat menekankan pengembangan aspek sosial pada anak sehingga anak dapat melakukan adaptasi dengan lingkungan sosialnya serta mampu menjadi anggota masyarakat yang berguna. Pendidikan sosial ini akan berkembang jika dimulai dari pendidikan ketuarga yang baik. A Malik Fajar dalam opininya tentang Renungan Hardiknas tanggal 2 Mei 2001 sangat mendukung gagasan untuk menghidupkan kembali pendidikan berbasis masyarakat (community base education) dan menjadikannya sebagai paradjgma barn sekaligus model yang patut ditindaklanjuti.

Pada kenyataannya baik pendidikan maupun sistem dan model-model kelembagaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mencerminkan kondisi sosial, ekonomi dan budaya. Jadi menurutnya pendidikan berbasis masyarakat akan memperkuat posisi dan peran pendidikan sebuah model sosial. Ada 3 prinsip yang menjadi dasar pendidikan ini, yaitu sebagai berikut.

  • Pendidikan TK menekankan pada pengamatan alam. Semua pengetahuan bersumber pada pengamatan.- Pengamatan seorang anak pada sesuatu akan menimbulkan pengertian. Pengertian yang baru akan bergabung dengan pengertian lama dan membentuk pengetahuan. Selain itu Pestolozzi juga menganjurkan . pendidikan kembali ke alam (back to nature), atau sekolah alam. Inti utamanya adalah mengajak anak melakukan pengamatan pada sumber belajar di lingkungan sekitar.
  • Menumbuhkan keaktifan jiwa raga anak. Melalui keaktifan anak maka ia akan mampu mengolah kesan pengamatan menjadi pengetahuan. Keaktifan juga akan mendorong anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sehingga merupakan pengalaman langsung dengan lingkungan. Pengalaman interaksi ini akan menimbulkan pengertian tentang lingkungan dan selanjutnya akan menjadi pengetahuan baru. Inilah pemikiran Pestolozzi yang banyak menjadi topik perbincangan yang disebut belajar aktif (active learning).
  • Pembelajaran pada anak harus berjalan secara teratur setingkat demi setingkat atau bertahap. Prinsip ini sangat cocok dengan kodrat anak yang tumbuh dan berkembang secara bertahap. Pandangan dasar tersebut membawa konsekuensi bahwa bahan pengembangan yang diberikan harus disusun secara bertahap, dimulai dari bahan termudah sampai tersulit, dari bahan pengembangan yang sederhana sampai yang terkompleks.

Konsep Pendidikan Atraktif dari Pestolozzi

Ciri khas pandangan Pestalozzi mengenai proses pendidikan TK atrakfif yaitu melalui adanya pengajaran suara, bentuk dan bilangan. Semua bidang pengembangan yang diajarkan pada anak dikelompokkan dalam 3 kategori sebagai berikut.

  • Konsep suara mencakup bahan pengembangan bahasa, pengetahuan sejarah dan pengetahuan bumi.
  • Konsep bentuk mencakup pengetahuan bangun, menggambar dan menulis.
  • Konsep bilangan mencakup semua aspek yang berkaitan dengan berhitung.

Ketiga konsep di atas dapat melalui pengembangan AVM (Auditory Visual Memory). Melalui pengembangan AVM ini fungsi sel-sel syaraf akan berkembang dan selanjutnya akan dapat mengembangkan potensi-potensi lainnya seperti imajinasi, kreativitas, intelegensi, bakat, minat anak, misalnya dalam kelompok pengembangan auditori (bahasa), pengembangan perbendaharaan kosa kata anak dan kemampuan berkomunikasi harus mendapat perhatian intensif. Perbendaharaan kosakata akan menyentuh atau mempengaruhi dimensi potensi lainnya. Kemampuan anak berkomunikasi tergantung pada penguasaan kosakata anak.Dalam pelaksanaannya, pengembangan AVM dilaksanakan secara terpadu (intergrated). Kegiatan yang menggunakan metode percakapan dan bercerita, akan merupakan metode yang efektif dalam pengembangan AVM di TK.Sebagai contoh: memperkenalkan wama merah, bentuk bulat, rasa manis pada “Apel” merupakan salah satu model intergrated dalam pengembangan AVM.

  • Melalui gambar : anak diperkenalkan dengan pengertian “Apel”.
  • Melalui kosakata :anak mengucapkan kata “apel”.
  • Melalui bentuk :anak mengenal bentuk bulat.
  • Melalui bilangan :anak menghitung jumlahnya1, 2, 3 dan seterusnya.

2. Sistem Pengajaran Sentra

Model pendidikan ini, menitik beratkan pada pandangan seorang ahli pendidikan, Helen Parkhust yang lahir tahun 1807 di Amerika. Pandangannya adalah kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Setiap anak akan maju dan berkembang sesuai dengan kapasitas kemampuannya masing-masing. Walaupun demikian kegiatan pengajaran harus memberikan kemungkinan kepada murid untuk berinteraksi, bersosialisasi dan bekerja sama dengan murid lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa Helen Parkhust tidak hanya mementingkan aspek individu, tapi juga aspek sosial.Untuk itu bentuk pengajaran ini merupakan keterpaduan antara bentuk klasikal dan bentuk individual. Sebagai gambaran pelaksanaan model ini, dapat diungkapkan sebagai berikut.

a) Ruangan kelas

Ruangan kelas dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan vak atau sentra-sentra. Setiap ruangan vak atau sentra. terdiri atas satu bidang pengembangan. Ada sentra bahasa, sentra daya pikir, sentra daya cipta, sentra agama, sentra seni, sentra kemampuan motorik. Contohnya pada sentra bahasa terdapat bahan, alat-alat, serta sumber belajar seperti tape recorder, alat pendengar, kaset, alat peraga, gambar, dan sebagainya.

Pada sentra daya pikir berisi bahan-bahan ajar seperti alat mengukur, manik-manik, lidi untuk menghitung, gambar-gambar, alat-alat geometris, alat-alat laboratorium atau majalah pengetahuan. Demikian pula pada sentra khusus seperti sentra balok, sentra air, sentra musik atau sentra bak pasir.

b) Guru

Setiap guru harus mencintai dan menguasai bidang pengembangan masing-masing. Guru harus memberi penjelasan secara umum kepada murid-murid yang mengunjungi sentranya sesuai dengan tema yang dipelajari. Memberi pengarahan, mengawasi dan mempematikan murid-murid ketika menggunakan alat-alat sesuai dengan materi yang dipelajarinya. .Selanjutnya menanyakan kesulitan yang dialami murid-murid dalam mengerjakan materi tersebut. Selain dari itu guru sentra harus menguasai perkembangan setiap murid dalam mengerjakan berbagai tugas s’ehingga dapat mengikuti tempo dan irama perkembangan setiap murid dalam menguasai bahan-bahan pengajaran atau tugas perkembangannya.

c) Bahan dan Tugas

Bahan pengajaran setiap sentra terdiri dari bahan minimal dan bahan tambahan. Bahan minimal yaitu bahan pengajaran yang berisi uraian perkembangan kemampuan minimal yang harus dikuasai setiap anak sesuai tingkat usianya. Bahan ini harus dikuasai anak dan merupakan target kemampuan minimal dalam mempeiajari setiap sentra tertentu.

Bila anak sudah menguasai bahan pengajaran minimal, dapat memperoleh bahan pengajaran tambahan, yang merupakan pengembangan atau pengayaan dari pengajaran minimal. Pengayaan ini diberikan bisa secara individu maupun kelompok pada anak yang menguasai bahan minimal pada satuan waktu yang relatif sama. Bahan pengayaan ini tentu saja disesuaikan dengan kondisi lingkungan, dengan demikian anak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan sesuai dengan kenyataan dengan penuh tanggungjawab.

Bahan setiap sentra hendaknya terintegrasi dengan sentra lainnya. Di bawah ini merupakan contoh adanya integrasi antar sentra bidang pengembangan.

Tema : Tanaman

Sentra bahasa    :     Dramatisasi “Fun Cooking”

Sentra musik    :     bernyanyi menanam jagung

Sentra Aritmatika    :    belanja dan menghitung sayur-sayuran

Sentra air    :     memelihara dan merawat tanaman

d) Murid dan Tugasnya

Setiap murid akan mendapat tugas dan penjelasan secara klasikal. Masing-masing murid dapat memilih sentra yang akan diikutinya. la bebas menentukan waktu dan menggunakan alat-alat untuk menyelesaikan tugasnya. Setiap murid tidak boleh mengerjakan tugas lain sebelum tugas yang dikerjakannya selesai.Untuk mengembangkan sosiobilitas, murid boleh mengerjakan tugas tertentu bersama-sama. Dengan cara ini murid akan mempunyai kesempatan bersosialisasi, bekerja sama, tolong menolong satu dengan lainnya. Murid yang dapat menyelesaikan suatu tugas atau sudah menguasai bahan minimal, ia dapat meminta tugas tambahan dengan memilih kegiatan lain yang digemarinya. Agar perbedaan setiap murid tidak terlalu jauh, guru dapat menetapkan bahan maksimal pada setiap pokok bahasan. Bila murid tidak dapat menyelesaikannya di sekolah, karena suatu hal, maka guru dapat memberi izin untuk menyelesaikannya di rumah.

e) Penilaian Kemajuan Murid

Untuk menilai kemajuan murid digunakan tiga jenis kartu penilaian, yaitu kartu kemajuan individu, kartu rekapitulasi (mingguan, bulanan, catur wulan) dan kartu rekapitulasi laporan perkembangan setiap murid.

Penutup

Beranjak dari uraian di atas, mengenai model pembelajaran TK atraktif, maka dapat disimpulkan bahwa betapa sistem dan praktik pendidikan perlu dirancang, dikembangkan agar secara nyata menumbuhkan daya cipta peserta didik, melahirkan

hal-hal yang baru, kemampuan berpikir secara divergen, kemampuan merealisasikan gagasan dan keinginan yang koheren dengan situasi-situasi baru, membangun konstruksi pemikiran dan aksi yang positif.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi dunia pendidikan pada umumnya..Amien.

Sumber Bacaan

  • Moeslichatoen R. (1999). Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak, Depdikbud, Dirjen Dikti, Proyek Pendidikan Tenaga Akademik IKIP Malang.
  • Depdiknas (2000). Diklat calon instruktur guruTK atraktif, Pengembangan Model Pendidikan untuk TK Atraktif, Depdiknas, Dirjen Dikdasmen,PPPG Keguruan Jakarta, 2000.
  • Fadjar A. Malik, (2001). Pendidikan dan Kreativitas, Renungan Hardiknas, Harian KOMPAS, Mei 2001.
  • Hapidin, (1999). Model-model Pendidikan untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Ghiyats Alfiani Press.

BALITA DIAJAR CALISTUNG, SAAT SD BERPOTENSI MENTAL HECTIC

Jakarta, 17/7/2010 (Kominfo-Newsroom) Jika anak usia bawah limatahun (balita) diajarkan baca tulis dan hitung (calistung), maka saat si anak duduk di sekolah dasar kelas dua atau tiga, berpotensiterkena penyakit Mental Hectic, berjiwa pemberontak.

Oleh karena itu, jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yangmemiliki anak usia dua tahun sudah bisa membaca dan menulis, kataDirektur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI KemdiknasSudjarwo S, usai Festival Mewarnai Konsumen Cilik, di Jakarta,Sabtu (17/7).

Pengajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) akan dikembalikan pada khitahnya. Kemdiknas mendorong anak-anak untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung. Sudjarwo menambahkan, banyak orangtua anak usia dini yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orang tua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru, kata Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung. Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD menurut Sudjarwo berbahaya bagi anak itu sendiri.Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental.

Memberikan pelajaran calistung pada anak menurut Sudjarwo dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. Jadi tidak main-main itu,ada namanya mental hectic, anak bisa menjadi pemberontak..

Kesalahan inilah yang sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus Taman Kanak-kanak anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, ia mengatakan Kemdiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada khitahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas nomor 58 tahun2009. SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung, tandasnya.

Sosialisasi tersebut telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi. Maka, Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya

Bagaimana Memilihkan Sekolah Yang Tepat Untuk Anak Anda?

Anda sedang bersiap mencari sekolah baru untuk putra-putri Anda? Sebaiknya carilah referensi yang memadai dulu sebelum menentukan sekolah yang akan dipilih. Anda juga harus bertindak cerdas dan cermat dalam memilih sekolah. Bukan maksud saya untuk menjustifikasi sekolah tertentu jelek atau baik, melainkan sekedar mengingatkan akan target masing-masing orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Ini penting mengingat pilihan orang tua bisa jadi akan menentukan masa depan anak Anda kelak.

Berbeda pada saat menentukan jenjang pendidikan strata 1, yang penentuannya didominasi atas kehendak anak. Pada jenjang sekolah dasar dan menengah faktor orang tua masih berperan penting bahkan lebih dominan. Untuk itu orang tua perlu sedikit pemahaman dan pertimbangan yang matang sebelum memilihkan sekolah untuk anak-anaknya.

Sekolah memang bukan satu-satunya pilar penentu masa depan Anak. Banyak pilar lain yang turut menyokong, misalnya keluarga, kompetensi anak, bakat lahir, dan lingkungan sosial. Namun sekolah memiliki peran yang lebih dominan dalam membentuk karakter dan mengembangkan kompetensi anak. Maka tidak heran jika semua orang tua menginginkan anaknya bisa masuk di sekolah unggulan/berkualitas. Mereka berharap anak-anak mereka akan memperoleh pendidikan yang lebih baik di sana. Dan ketika lulus nanti akan menjadi anak yang pintar dan terampil sebagaimana yang diharapkan.

Boleh dan sah-sah saja memiliki harapan sebaik itu. Namun, sebagai orang tua Anda harus realistis dan siap dengan konsekuensi apa pun yang harus ditanggung. Anak anda harus betul betul siap mental dan pikiran, begitu pula dengan Anda yang harus siap dengan segala kewajiban yang dituntut nantinya. Baik itu biaya maupun partisipasi aktif yang telah diprogramkan sekolah. Bila Anda dan anak Anda memang sudah siap dengan semua itu, maka bersegeralah memenangkan persaingan ketat merebut bangku sekolah unggulan. Semoga berhasil!

Tips Memilihkan Sekolah Untuk Anak

Bila dalam penjelasan sebelumnya saya khususkan kepada para orang tua yang menghendaki anaknya masuk di sekolah unggulan. Yaitu sekolah yang memang telah memiliki reputasi baik dan memiliki nilai plus dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain, penjelasan dan tips berikut saya khususkan bagi Anda yang masih mencari-cari sekolah yang cocok untuk Anak Anda.

Anda tentu memiliki pertimbangan sendiri dan berbeda-beda soal kelangsungan pendidikan anak Anda. Namun, setidaknya tips berikut bisa membantu Anda mengingat faktor lain yang mungkin terlupakan dalam daftar pertimbangan Anda.

Tentukan Visi Keluarga Terhadap Anak Anda

Apa harapan yang Anda inginkan pada anak Anda pada masa depan mereka. Harapan yang baik adalah yang memenuhi dua hal: ingin bisa apa anak Anda dan ingin menjadi apa anak Anda ke depan. Dan keinginan tersebut harus seimbang antara sukses dunia dan akhirat.

Pilih Sekolah Yang Memiliki Visi Yang Relevan

Anda harus datang ke sekolah yang akan Anda pilih untuk memastikan bahwa sekolah tersebut memiliki visi yang sama atau mendekati dengan visi keluarga Anda. Visi sekolah bisa Anda ketahui dengan cara berdialog langsung dengan pimpinan sekolah atau Anda baca brosur-brosurnya. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua brosur sekolah merepresentasikan secara nyata kondisi sekolah. Beberapa brosur sengaja didesain untuk menampilkan hal-hal yang terbaik saja dari sekolah. Jadi, Anda harus cerdas juga dalam membaca brosur sekolah.

Libatkan Anak Anda

Perlu Anda sadari bahwa yang akan sekolah adalah anak Anda. Mereka perlu diajak untuk menentukan pilihan. Tentu dengan pengarahan sebelumnya. Sampaikan harapan Anda terhadap masa depan anak Anda sehingga menjadi pertimbangan anak kita ketika ikut memilih sekolah.

Lihat Program Sekolah

Setelah Anda mengetahui visi sekolah maka coba Anda teliti program-program yang dirancang oleh pihak sekolah. Apakah program-program itu cukup untuk mencapai visi sekolah yang diharapkan. Untuk itu tanyakan pula indikator-indikator tercapainya visi sekolah untuk melihat kecukupan programnya.

Siapa Guru-Gurunya

Sekolah berkualitas hampir selalu identik dengan guru-gurunya yang berkualitas. Oleh karena itu, guru harus menjadi pertimbangan utama dalam memilih sekolah anak Anda. Hal yang penting perlu dicermati adalah bagaimana akhlak mereka serta apakah mereka mudah diajak kerja sama untuk mendidik anak Anda.

Cari Referensi dari Lulusan

Output atau income siswa pada sebuah sekolah adalah bukti paling real dari kualitas sekolah yang ditawarkan. Anda bisa bertanya pada teman atau tetangga atau saudara atau orang lain yang Anda kenal yang putranya ada di sekolah yang Anda pilih.

Apakah Fasilitas Sekolah Aman dan Nyaman

Fasilitas sekolah tidak harus mewah. Yang terpenting adalah pertama tidak membahayakan fisik anak Anda dan yang kedua rapi dan bersih. Sekolah yang rapi dan bersih secara tidak langsung mengajarkan anak Anda untuk bersikap rapi dan bersih. Demikian sebaliknya, kelas-kelas yang kotor akan menjadikan anak kita kehilangan sense tentang kebersihan.

Amati Budaya Sekolah

Sekolah yang memiliki budaya/kultur yang baik akan melahirkan sikap-sikap yang baik pada anak didiknya. Sekolah yang berkualitas minimal harus memiliki 5 budaya: budaya disiplin waktu, budaya membaca, budaya bersih, budaya prestasi, dan budaya akhlak yang mulia.

Aktivitas Kegiatan Ekstrakurikuler

Sekolah yang baik adalah sekolah yang memberikan support dan waktu yang memadai untuk kegiatan ekstrakurikuler. Semakin beragam kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan maka semakin baik sekolah tersebut. Anak anda akan memiliki banyak pilihan sesuai minatnya. Dan yang pasti anak Anda akan semakin betah di sekolah untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah yang kreatif dan produktif tersebut.

Jarak Sekolah dan Sarana Transportasi

Anda juga harus mempertimbangkan jarak sekolah dengan rumah Anda. Cari sekolah yang lebih dekat dengan rumah Anda. Selain ringan di ongkos dan menghemat waktu, sekolah yang dekat dengan rumah akan menghemat energi anak Anda.

Perhatikan juga sarana transportasi yang menghubungkan sekolah dengan rumah Anda. Jika menggunakan sana transportasi umum, pertimbangkan kemudahan mendapatinya. Dan bila Anak Anda menggunakan kendaraan pribadi, perhatikan faktor keselamatan selama perjalanan pulang pergi ke sekolah.

Kemampuan Dana Anda

Sekolah yang bermutu biasanya membutuhkan pendanaan yang lebih besar. Untuk itu Anda harus jeli menghitung kemampuan keuangan untuk membiayai sekolah Anak Anda. Anda tidak perlu memaksakan diri. Buatlah perencanaan yang matang untuk kebutuhan pendidikan Anak. Sukur-sukur Anda menemukan sekolah yang berkualitas namun dengan biaya yang relatif murah. Cari referensi sebanyak-banyaknya soal yang satu ini. Jangan biarkan keuangan keluarga Anda menjadi tidak sehat atau anak Anda gelisah karena di tengah jalan Anda merasa tidak mampu lagi membiayai kebutuhan sekolahnya.

Itulah beberapa pertimbangan yang bisa Anda gunakan sebelum menentukan sekolah yang tepat untuk anak Anda. Pada realitanya mungkin tidak semua daftar pertimbangan di atas dapat terakomodir secara baik. Namun, saya yakin Anda lebih tahu mengenai skala prioritas yang Anda tetapkan.

Salam Sukses!

Model – Model Pembelajaran di Taman Kanak – Kanak

Model pembelajaran adalah suatu desain atau rancangan yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan anak berinteraksi dalam pembelajaran, sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri anak. Adapun komponen model pembelajaran meliputi; konsep, tujuan pembelajaran, materi/tema, langkah-langkah/prosedur, metode, alat/sumber belajar, dan teknik evaluasi.

Penyusunan model pembelajaran di Taman Kanak-Kanak (TK) didasarkan pada silabus yang dikembangkan menjadi perencanaan semester, stuan kegiatan mingguan (SKM), dan satuan kegiatan harian (SKH). Dengan demikian, modl pembelajaran merupakan gambaran konkret yang dilakukan pendidik dan peserta didik sesuai dengan kegiatan harian.

Kita mengenal beberapa model pembelajaran yang diterapkan di TK, diantaranya adalah:

1. Model pembelajaran klasikal
2. Model pembelajaran kegiatan kelompok dengan kegiatan pengaman
3. Model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan
4. Model pembelajaran area
5. Model pembelajaran berdasarkan sentra

Model-model pembalajaran tersebut pada umumnya menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang sama dalam sehari, yaitu: kegiatan awal/pendahuluan, kegiatan inti, istirahat/makan, kegiatan akhir atau penutup.
Kegiatan awal/pendahuluan adalah kegiatan awal dalam pembelajaran yang ditujukan untuk memfokuskan perhatian, membangkitkan motivasi sehingga peserta didik siap untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kegiatan inti merupakan proses kegiatan utama untuk mencapai kompetnsi dasar yang harus dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan partisipatif. Kegiatan inti dilakukan melalui proses eksplorasi, eksperimen, elaborasi, dan konfirmasi.

Kegiatan penutup adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Bentuk kegiatannya berupa menyimpulkan, umpan balik, dan tindak lanjut.

Uraian singkat mengenai model – model pembelajaran di atas sebagai berikut:

1.     Model pembelajaran klasikal adalah pola pembelajaran dimana dalam waktu yang sama, kegiatan dilakukan oleh seluruh anak sama dalam satu kelas. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran yang paling awal digunakan di TK, dengan sarana pembelajaran yang pada umumnya sangat terbatas, serta kurang memperhatikan minat individu anak. Seiring dengan perkembangan teori dan pengembangan model pembelajaran, model ini sudah banyak ditinggalkan.

2.     Model pembelajaran kelompok dengan pengaman adalah pola pembelajaran dimana anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok (biasanya menjadi tiga kelompok), masing-masing kelompok melakukan kegiatan yang berbeda. Dalam satu pertemuan, anak didorong harus mampu menyelesaikan 2 – 3 kegiatan dalam kelompok secara bergantian. Apabila dalam pergantian kelompok terdapat anak-anak yang sudah menyelesaikan tugasnya lebih cepat daripada temannya, maka anak tersebut dapat meneruskan kegiatan lain selama dalam kelompok lain masih ada tempat. Jika sudah tidak ada tempat, anak-anak tersebut dapat bermain pada tempat tertentu yang sudah disediakan oleh guru, dan tempat itulah yang disebut dengan kegiatan pengaman. Pada kegiatan pengaman sebaiknya disediakan alat-alat yang lebih bervariasi dan sering diganti sesuai dengan tema atau subtema yang dibahas.

3.     Model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan. Model pembelajaran ini menyediakan sudut-sudut kegiatan yang menjadi pusat kegiatan pembelajaran berdasarkan minat anak. Alat-alat yang disediakan harus bervariasi mengngat minat anak yang beragam. Alat-alat tersebut juga harus sering diganti disesuaikan dengan tema dan subtema yang dibahas.

4.     Model pembelajaran berdasarkan area. Model ini pada dasarnya hamper sama dengan model pembelajaran berdasarkan sudut-sudut kegiatan. Model ini lebih member kesempatan kepada anak didik untuk memilih kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajarannya dirancang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak dan menghormati keberagaman budaya. Kecuali itu juga menekankan pada pengalaman belajar bagi setiap anak, pilihan-pilihan kegiatan dan pusat-pusat kegiatan serta peran serta keluarga dalam proses pembelajaran.

5.    Model pembelajaran sentra. Model pembelajaran berdasarkan sentra memiliki ciri utama pemberian pijakan (scaffolding) untuk membangun konsep, aturan, ide, dan pengetahuan anak serta konsep densitas serta intensitas bermain. Model pembelajaran ini berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra bermain dan pada saat anak berada dalam lingkaran. Pada umumnya pijakan/dukungan dalam model ini untuk mendukung perkembangan anak, yaitu pijakan sebelum bermain, pijakan selama bermain dan pijakan setelah bermain. Pijakan ini dimaksudkan untuk mendukung perkembangan anak lebih tinggi. Ada 3 jenis permainan yang disediakan dalam model ini yaitu; bermain sensorimotorik atau fingsional, bermain peran, dan bermain pembangunan (konstruktif, yaitu membangun pemikiran anak).

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing serta memerlukan kondisi yang berbeda-beda. Oleh karena itu guru dapat memilih model pembelajaran yang akan diterapkan dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki, sarana dan prasarana yang tersedia, serta factor-faktor pendukung lainnya.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Pengertian KTSP

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ).

Konsep Dasar KTSP

Dalam Standar Nasonal Pendidikan (SNP Pasal 1, ayat 15) dikemukakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

 

KTSP disusun dan dikembangkan berdasarkan Undang-undagn No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1), dan 2) sebagai berikut.

  1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional  pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
  2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) adalah sebagai berikut:

  • KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta social budaya masyarakat setempat dan peserta didik.
  • Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, dibawah supervise dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.
  • Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan pendidikan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah meiliki keleluasaan dalam megelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

 

KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. Pemberdayaan sekolah dan satauan pendidikan dengan memberikan otonomi yang lebih besar, di samping menunjukan sikap tanggap pemerintah terhadap tuntunan masyarakat juga merupakan sarana peningkatan kualitas, efisisen, dan pemerataan pendidikan. KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntunan, dan kebutuhan masing-masing. Otonomi dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dan staf sekolah, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan, khususnya kurikulum. Pada sistem KTSP, sekolah memiliki “full authority and responsibility” dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi, dan tujuan tersebut, sekolah dituntut untuk mengembangkan strategi, menentukan prioritas, megendalikan pemberdayaan berbagai potensi seklah dan lingkungan sekitar, serta mempertanggunngjawabkannya kepada masyarakat dan pemerintah.

 

Dalam KTSP, pengembangan kurikulm dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. Badan ini merupkan lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD), pejabat pendidikan daerah, kepala sekolah, tenaga pendidikan, perwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat. Lembaga inilah yang menetapkan kebijakan sekolah berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang pendidikna yang berlaku. Selanjutnya komite sekolah perlu menetapkan visi, misi, dan tujuan sekolah dengan berbagai implikasinya terhadap program-program kegiatan opersional untuk mencapai tujuan sekolah.

 

Tujuan KTSP

Secara umum tujuan diterapkannya KTSP adalah unutk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.

 

Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP adalah untuk:

  1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemnadirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
  2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangankan kurikulum melalui pengembalian keputusan bersama.
  3. Meningkatkan kompetesi yang sehat antar satuan pendidikan yang akan dicapai.

Memahami tujuan di atas, KTSP dapat dipandang sebagai suatu pola pendekatan baru dalam pengembangan kurikulum dalam konteks otonomi daerah yang sedang digulirkan sewasa ini. Oleh Karen itu, KTSP perlu diterapkan oleh setiap satuan pendidikn, terutama berkaitan dengan tujuh hal sebagi berikut.

  1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga dia dapat menoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.
  2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dan didayagunakan dalam proses pendidikan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
  3. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sekolah lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan seklah karena pihak sekolahlah yang paling tahu apa yang terbaik bagi sekolahnya.
  4. Keterlibatan semua warga seklah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat, serta lebih efesien dan efektif bilamana dikontrol oleh masyarakat sekitar.
  5. Sekolah daapt bertanggung jawab tentang mutu pendidikan masing-masing kepada pemerintah, orangtua peserta didik, dam masyarakat pada umumnya, sehingga dia akan berupaya semaksimalkam mungkin unutk melaksanakna dan mencapai sasaran KTSP.
  6. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui upaya-upaya inovatif dengan dukungan orangtua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.
  7. Sekolah dapat secara cepat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah dengan cepat, serta mengakomodasikannya dalam KTSP.

Landasan KTSP

  1. UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  2. PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  3. Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
  4. Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
  5. Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23 Tahun 2006

Ciri-ciri KTSP

  1. KTSP memberi kebebasan kepada tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan peserta didik, sumber daya yang tersedia dan kekhasan daerah.
  2. Orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
  3. Guru harus mandiri dan kreatif.
  4. Guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran.

 

Sumber Buku: 
Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (Bandung; Remaja Rosdakarya, 2007)

BCCT (Beyond Center and Circle Time)

 RESUME
Institusi pendidikan untuk anak usia dini (PAUD) memerlukan metode pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak dan mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak. Metode pembelajaran baru telah dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida, USA dikenal dengan nama metode Beyond Center and Circle Time (BCCT). Dalam pendekatan BCCT proses pembelajaran diatur dalam bentuk kegiatan yang ditujukan agar anak belajar dengan mengalami bukan hanya sekedar mengetahui ilmu yang ditransfer oleh guru. Pembelajaran berpusat pada anak dan peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan evaluator. Sehingga otak anak dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja.

Selain kualitas guru, tersedianya sarana dan prasarana, metode pembelajaran dalam suatu institusi pendidikan merupakan salah satu hal yang penting dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar. Penentuan metode pembelajaran yang sesuai dengan visi institusi pendidikan akan memudahkan bagi para pendidik untuk lebih memfokuskan pembelajaran di dalam kelas. Khususnya institusi pendidikan untuk anak usia dini (PAUD) memerlukan metode pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi anak dan mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak.

Strategi belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar telah diterapkan hampir diseluruh pusat PAUD karena memang bermain merupakan dunia anak dan media belajar yang baik untuk anak. Anak dapat belajar melalui permainan mereka sendiri. Pengalaman bermain yang menyenangkan dapat merangsang perkembangan anak baik secara fisik, emosi, kognisi maupun sosial.

Metode pembelajaran yang sinergis dengan strategi belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar telah dikembangkan oleh Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida, USA dikenal dengan nama metode Beyond Center and Circle Time (BCCT). Metode ini telah diterapkan di Creative Pre School Florida USA selama lebih dari 25 tahun, baik untuk anak normal maupun anak dengan kebutuhan khusus. Metode BCCT ini merupakan pengembangan metode Montessori, Highscope dan Reggio Emilio.

Konsep belajar yang dipakai dalam metode BCCT difokuskan agar guru sebagai pendidik menghadirkan dunia nyata di dalam kelas dan mendorong anak didik membuat hubungan antara pengetahuan, pengalaman, dan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga otak anak dirangsang untuk terus berfikir secara aktif dalam menggali pengalamannya sendiri bukan sekedar mencontoh dan menghafal saja. Menurut Jean Piaget (1972), “anak- anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri, guru tentu saja dapat menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukan sendiri”.

Dalam pendekatan BCCT proses pembelajaran diharapkan mampu berjalan secara alamiah dalam bentuk kegiatan yang ditujukan agar anak belajar dengan mengalami bukan hanya sekedar mengetahui ilmu yang ditransfer oleh guru. Metode ini juga memandang bermain sebagai media yang tepat dan satu-satunya media pembelajaran anak karena disamping menyenangkan, bermain dalam setting pendidikan dapat menjadi media untuk berfikir aktif dan kreatif.
Pembelajaran yang berpusat pada anak dan peran guru hanya sebagai fasilitator,motivator dan evaluator merupakan ciri dari metode BCCT ini. Kegiatan anak juga berpusat pada sentra-sentra main yang berfungsi sebagai pusat minat yang memiliki standart operasional prosedur yang baku dan memiliki pijakan-pijakan dalam proses pembelajarannya.

Metode BCCT ini dapat dijadikan metode pilihan yang digunakan institusi pendidikan PAUD mengingat saat ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai fakta yang harus dihafal dan gurupun masih menjadi pusat pembelajaran atau informasi. Dengan penerapan metode BCCT, kecerdasan anak dapat dikembangkan secara optimal dan anak distimulus untuk menjadi anak yang aktif, kreatif dan berani. Anak dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, mengeluarkan ide-ide yang dimilikinya serta menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dialami. Sedangkan tugas guru hanya memfasilitasi agar informasi yang baru mereka terima lebih bermakna serta memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan dan menerapkan ide-idenya sendiri.

Bagaimana cara mempraktekkan metode BCCT ini di dalam kelas ? Metode BCCT diterapkan pada kelas yang telah dirancang dalam bentuk sentra-sentra, misal: Sentra persiapan, sentra bermain peran baik mikro maupun makro, sentra rancang bangun, sentra musik dan olah tubuh, sentra IT, sentra IMTAQ, sentra seni dan kreatifitas dan sentra sains. Setiap guru bertanggung jawab pada 10 – 12 anak saja dengan moving class setiap hari dari satu sentra ke sentra lainnya.
Ciri khusus yang dimiliki BCCT adalah empat pijakan, yaitu : pijakan lingkungan, pijakan sebelum bermain, pijakan saat bermain dan pijakan setelah bermain. Pijakan-pijakan ini harus diikuti oleh guru guna membentuk keteraturan antara bermain dan belajar. Dalam pijakan lingkungan, guru menata lingkungan yang sesuai dengan kapasitas dan keragaman jenis permainan anak. Pijakan sebelum bermain dilakukan guru dengan meminta anak untuk duduk membentuk sebuah lingkaran sambil bernyanyi, setelah berdo’a bersama guru menjelaskan kegiatan sentra dengan alat peraga yang telah dipersiapkan.

Selanjutnya guru bersama anak membuat aturan bermain yang disepakati bersama. Pijakan saat bermain merupakan waktu bagi guru untuk mencatat perkembangan dan kemampuan anak serta membantu anak bila dibutuhkan. Perlu dipahami bahwa didalam metode BCCT berlaku tiga jenis bermain.

Pertama, bermain sensorimotor atau fungsional yang memfungsikan panca indra anak agar dapat berhubungan dengan lingkungan sekitar. Bermain sensorimotor penting untuk mempertebal sambungan antar neuron.

Kedua, bermain peraan baik mikro maupun makro dimana anak diberi kesempatan menciptakan kejadian-kejadian dalam kehidupan nyata dengan cara memerankannya secara simbolik.

Ketiga, bermain pembangunan, Piaget (1962) menjelaskan bahwa kesempatan main pembangunan membantu anak untuk mengembangkan ketrampilannya yang akan mendukung keberhasilan sekolahnya dikemudian hari. Apabila ketiga jenis bermain tersebut dapat dilakukan oleh anak secara optimal memungkinkan adanya ketuntasan belajar dan perkembangan anak baik secara fisik, kognisi, emosi maupun sosial. Sehingga mereka dapat dengan mudah memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. Pijakan yang terakhir adalah pijakan setelah bermain dimana anak dapat menceritakan pengalaman bermain mereka serta guru dapat menggali dan menanamkan pengetahuan pada anak.

erdasarkan survei yang telah dilakukan, pusat-pusat PAUD di Surabaya yang telah menggunakan metode BCCT ini kurang lebih hanya 25 % institusi saja. Namun praktek dilapangan yang sering terjadi adalah kurang maksimalnya realisasi perangkat-perangkat metode BCCT dengan baik. Oleh karena begitu penting dan bermanfaatnya metode BCCT ini dalam metode pembelajaran untuk PAUD, maka alangkah baiknya bila Dinas Pendidikan mengadakan diklat atau pelatihan bagi guru atau institusi yang memerlukan informasi mengenai metode ini. Dengan demikian pendidikan khususnya PAUD dapat berkembang secara optimal dan dapat memenuhi kebutuhan anak.

 

ASMA PADA ANAK

Asma merupakan penyakit yang sering dijumpai ,kelompok anak yang diduga asma adalah anak-anak yang menunjukkan batuk yang timbul secara episodik atau mengi(nafas berbunyi ngik-ngik),sesak nafas dan cenderung dimalam hari atau dini hari,musiman,setelah beraktivitas serta adanya riwayat penyakit asma pada keluarga.

Berdasarkan definisi Scadding dan pengalaman klinis Godfrey, asma pada anak ialah penyakit yang ditandai dengan variasi luas dalam periode waktu yang pendek daripada hambatan aliran udara dalam saluran nafas paru yang bermanifestasi sebagai serangan berulang batuk atau mengi yang dipisahkan oleh interval bebas gejala.

Faktor pencetus asma:

Faktor emosi ; gangguan emosi dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas
Faktor imunologis / alergi ; saat ini telah banyak bukti bahwa alergi merupakan salah satu faktor penting berkembangnya asma. Atopi merupakan faktor resiko nyata yang dapat menyebabkan timbulnya gejala asma.
Faktor non alergi ; infeksi virus / bacterial dan zat-zat iritan / polutan.

Hal- hal yang harus kita perhatikan pada asma anak adalah:

• Hindari makan makanan yang mengandung kola, bersoda, kacang-kacangan, minuman dingin/es, goreng-gorengan.
• Hindari tungau debu yang sering terdapat pada debu kasur dan bantal kapuk, selimut, lantai, karpet gordin , perabot rumah . sebaiknya laci / rak dibersihkan dengan lap basah, gordin dan selimut dicuci setiap 2 minggu , karpet, majalah, mainan , buku dan pakaian yang jarang dipakai diletakkan di luar kamar tidur dan lantai dipel setiap hari.
• Hindarkan zat-zat yang mengiritasi ; obat semprot rambut, minyak wangi, asap rokok, asap obat nyamuk , bau cat yang tajam, bau bahan kimia, udara yang tercemar,udara dan air dingin,.
• Sebelum melakukan aktivitas fisik sebaiknya jangan melakukan aktivitas fisik yang berat, sebelum melakukan aktivitas fisik sebaiknya melakukan pemanasan terlebih dahulu, dan jika perlu pemberian obat sebelum beraktivitas.

Mengajar Anak Usia TK Menulis

AJARI ANAK MENULIS HURUF LEBIH KECIL

Jangan anggap sebelah mata pelajaran yang satu ini. Motorik halusnya terasah dan tulisan tangannya makin terbaca.

“Buat apa di zaman globalisasi begini anak masih dikasih pelajaran menulis halus? Mending diganti pelajaran lain, deh, seperti mengetik dengan komputer.” Begitu ketidaksetujuan yang kerap terdengar di kalangan orang tua. Mereka menganggap pelajaran menulis halus hanya buang-buang waktu. Toh, ada komputer yang bisa menghasilkan tulisan rapi.
Kendati begitu, grafolog Nungki Nilasari, S.Psi. mengingatkan pentingnya manfaat menulis halus. “Bukan sekadar mempercantik atau merapikan tulisan, lo, tapi juga melatih anak melakukan berbagai hal berikut:

- Menulis Cepat

Menulis halus untuk menghasilkan huruf yang saling bersambung dilakukan tanpa perlu mengangkat pensil. Ini berbeda dengan menulis balok yang mengharuskan anak acap kali mengangkat pensilnya. Proses menulis pun jadi lebih lambat, sementara anak juga lebih mudah lelah.

Kelak, jika terbiasa menulis halus, anak tetap bisa menulis cepat tanpa menghilangkan kerapian dan keindahan tulisannya. Tentu saja kerapian dan keindahan tulisan mustahil dicapai dalam waktu singkat. Jadi, butuh pelatihan kontinyu untuk mendapatkan hasil yang baik.
- Melatih Motorik Halus

Sebenarnya, latihan ini tak hanya didapat lewat menulis halus, tapi juga menulis balok. Namun biasanya dengan latihan menulis halus, anak cenderung memperhatikan patokan baku, yakni mengikuti patokan garis 5 atau 3. Contohnya, bulatan huruf “a” tidak boleh melebihi garis, begitu juga kaki dan tiangnya tidak boleh lebih panjang dari garis yang membatasinya. Demikian halnya dengan aturan menyambungnya yang mesti mengikuti kaidah tebal-tipis.
- Merangsang Kerja Otak

Dengan menulis halus, mau tidak mau anak mesti “memutar” otaknya untuk bekerja. Bagaimana dia harus membentuk huruf, menyambungnya, mengikuti garis yang ada, dan sebagainya. Dengan kata lain, otak tidak dibiarkan menganggur, tapi digunakan untuk kegiatan bermanfaat. Bukankah ini berarti menulis halus merupakan salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan anak secara umum.

DAHULUKAN HURUF BALOK

Konsultan perkembangan anak di Parents Consulting Centre, Jakarta Selatan ini berpendapat, anak lebih baik diajarkan menulis huruf balok terlebih dulu. Bagaimanapun, memperkenalkan sesuatu pada anak harus dimulai dengan yang lebih mudah. Sementara huruf balok relatif lebih mudah dikuasai anak karena dalam menuliskannya tidak perlu disambung dengan huruf yang mengawali ataupun mengikutinya.

Yang juga penting untuk diingat, dengan menuliskan huruf balok, umumnya anak lebih mudah untuk melihat bentuk dan membacanya. Hal ini akan memicu anak untuk melakukannya lagi dan lagi yang akan kian memupuk rasa percaya diri anak. Berbeda benar bila hasil yang didapat tidak bisa langsung dinikmatinya berupa bentuk kriwil-kriwil saat ia menuliskan huruf sambung. Bukan tidak mungkin, lo, anak akan minder atau patah semangat saat ia merasa tidak mampu menuliskan huruf-huruf sambung tersebut. Atas dasar pertimbangan-pertimbangan itulah, umumnya menulis halus baru diajarkan kalau anak sudah mampu dan memahami huruf balok dengan baik. “Di sekolah biasanya huruf halus diajarkan di akhir semester kelas 1 atau awal kelas 2,” ujar Nungki.

Setelah mengerti penulisan huruf balok, barulah anak dikenalkan pada aktivitas menulis halus yang lebih kompleks dan lebih tinggi tingkat kesulitannya. Berbeda dengan huruf balok, saat menulis huruf sambung yang berlekak-lekuk, anak dituntut terampil menyambung huruf tersebut, baik dengan huruf yang mengawali maupun setelahnya.

“Ketika mengajarkan huruf halus,” lanjut Nungki pula, “beri contoh nyata di papan tulis karena anak usia ini masih membutuhkan sesuatu yang konkret.” Percuma saja dijelaskan panjang lebar jika tanpa disertai contoh karena anak tidak akan mengerti apa yang diucapkan guru. Jadi, jelaskan bagaimana bentuk masing-masing huruf, di mana ia harus menempatkan bulatan, tiang, atau kaki huruf pada setiap garis batas dan bagaimana pula cara menyambungnya. Jelaskan pula, bahwa huruf-huruf seperti itulah yang disebut huruf sambung.
Ketika pertama kali mengajari anak menulis halus, biasanya akan muncul banyak keluhan. “Wajarlah karena kemampuan motorik halus anak memang belum matang. Ia masih mengalami kesulitan untuk mematuhi batas-batas garis. Nah, agar anak tetap menunjukkan usaha memperbaikinya, guru maupun orang tua jangan sekali-kali menunjukkan sikap melecehkan, tapi beri dukungan dengan menyemangati dan membantu mengarahkannya.
AJARKAN BERTAHAP

Baik orang tua maupun guru, hendaknya memahami perbedaan kemampuan tiap anak yang memang sifatnya amat individual. Ada yang cepat daya tangkapnya, ada juga yang lambat. Ada yang tulisannya bagus dan enak dibaca, namun tak sedikit yang membentuk kriwil-kriwil yang sama sekali sulit dibaca. Dengan kata lain, “Jangan pernah membanding-bandingkan kemampuan anak yang tulisannya bagus dengan anak yang tulisannya jelek,” tandas Nungki. Berikut hal-hal teknis yang bisa disampaikan kepada anak:

Ajari anak memegang pensil secara benar menggunakan tiga jemari, yakni ujung ibu jari, ujung telunjuk, dan ujung jari tengah. Jepit pensil di antara ketiga jari tadi sambil menekannya agak kuat. Bila anak belum bisa memegangnya dengan sempurna, ajarkan dulu, jangan langsung memintanya menulis. Posisi memegang pensil yang benar akan membuatnya nyaman saat menulis.

Jelaskan pula posisi tubuh yang benar, yakni dengan duduk tegak namun tidak kaku, kertas tegak lurus dengan posisi meja dan jangan dimiringkan. Jarak antara mata dengan tulisan sekitar 30 cm, sementara salah satu tangan digunakan untuk menahan buku agar tidak bergeser.
Arahkan anak untuk membentuk huruf balok dulu, baru kemudian menuliskan huruf halusnya. Dengan begitu anak memiliki pembanding. Secara perlahan buatlah guratan, hingga anak dapat mengikuti arah guratan tersebut. Agar jelas, buatlah dalam ukuran besar lebih dulu. Lakukan berulang-ulang sampai anak bisa mengikutinya. Jangan berpindah huruf sebelum anak benar-benar memahami cara menuliskan masing-masing huruf.

Bisa juga mengajarkannya dengan menghubungkan titik-titik yang sudah berbentuk huruf.
Bila ada buku panduan, manfaatkan dengan meminta anak menjiplak masing-masing huruf.
Setelah anak memahami penulisan huruf demi huruf, mintalah untuk menyambungkannya. Misal, “a” disambung huruf “b”, “c” dengan “i”, “d” dengan “u”, dan seterusnya.
Kalau anak sudah menguasai cara penulisannya, mintalah untuk membuat kata-kata dan kalimat sederhana sambil mengajarkannya untuk lebih tertib menggunakan jarak antarkata maupun spasi antarbaris.

Jangan lupa, perhatikan kondisi anak saat menulis. Kalau ia tenang, maka biasanya ia dapat menulis dengan lancar. Bila bosan atau emosional, maka tulisannya akan terpengaruh.
FAKTOR PEMBEDA

Menurut Nungki ada beberapa faktor yang membuat kemampuan anak dalam menulis ini berbeda-beda. Di antaranya:

- Kontrol Tangan

Hal ini terkait dengan kemampuan motorik halus anak. Bila kemampuan motorik halusnya jelek, sangat mungkin ia tidak mampu menulis huruf dengan baik. Gangguan motorik halus yang masih dalam taraf normal, menurut Nungki bisa ditangani dengan latihan keterampilan yang lebih tekun, umpamanya dengan mengajarkan melipat kertas, menggunting, mengancingkan baju, menggambar, mewarnai, dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan kemampuan anak mematangkan koordinasi gerak tangannya.
Sebaliknya, pada anak yang memiliki kemampuan kinestetik lebih, biasanya akan mampu menerima pelajaran menulis secara lebih cepat. Bukan tidak mungkin pula si anak berbakat dalam hal menulis indah/kaligrafi atau malah menjadi pelukis.

- Kemampuan Visualisasi

Kemampuan ini pun perlu dikuasai karena tidak sedikit anak mengalami kesulitan memvisualisasikan bentuk. Contohnya, ia selalu menuliskan huruf “o” seperti huruf “a”. Gangguan kemampuan ini disebabkan oleh ketimampuan anak mendeskripsikan masing-masing huruf. Misalnya, “o” itu mesti bulat, “i” harus lurus seperti tiang listrik, “p” berkepala, “m” berkaki tiga dan seterusnya.

Bila kesalahan semacam ini terjadi terus-menerus dan dalam jangka waktu lama, padahal sudah diajarkan berulang-ulang, guru dan orang tua harus curiga. Mungkin ada gangguan tertentu, seperti disleksia, di mana anak dengan gangguan ini tidak bisa membedakan huruf.
- Masalah Emosional

Mau tidak mau, kondisi emosional yang tidak stabil akan mempengaruhi kemampuan anak menulis. Bila di rumahnya selalu ada masalah, entah karena kekangan orang tuanya atau
karena keinginan-keinginannya yang tidak pernah terpenuhi, jangan terlalu berharap tulisan anak akan bagus. Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan, anak yang sangat emosional karena banyak masalah umumnya akan menghasilkan tulisan berupa huruf-huruf yang mengecil dan kurang beraturan. Sebaliknya, mereka yang emosinya stabil konon tulisannya cenderung membesar dan lebih rapi.

Benarkah Cermin Kepribadian?

Menurut Nungki, memang ada korelasi antara tulisan yang rapi dengan kepribadian yang rapi teratur. Lewat grafologi atau ilmu “membaca” tulisan biasanya bisa terlihat mana orang yang termasuk berkepribadian rapi/teratur dan mana yang tidak. Setidaknya, dari situ tercermin standar kerapian seseorang, entah kerapian dalam berpakaian atau
kerapian secara umum.

Hanya saja, model tulisan anak usia SD belum menetap. Masih ada kemungkinan untuk berubah kelak berdasarkan pengaruh situasi emosi dalam dirinya. Selama di SD ia mungkin hanya mengikuti semua instruksi gurunya, dan kondisi emosionalnya juga relatif stabil. Tidak tertutup kemungkinan garis huruf yang tadinya tegas menjadi kurang tegas, yang semula mengalur halus menjadi berbelok-belok, dan

yang awalnya kecil menjadi besar-besar. Sementara setelah dewasa, anak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri model tulisannya, disamping pengaruh faktor emosional yang relatif kurang stabil dibanding usia anak.

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com

Maulid Nabi

Maulid Nabi Muhammad SAW kadang-kadang Maulid Nabi atau Maulud saja (bahasa Arab: مولد،
مولد
النبي‎, mawlidun-nabī), adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12
Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Sejarah

Perayaan Maulid Nabi diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu, yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan kota Yerusalem dan sekitarnya.

Perayaan di Indonesia

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair
Barzanji dan pengajian. Menurut penanggalan Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan
Sekaten.

Perayaan di Luar Negeri

Sebagian masyarakat muslim Sunni dan Syiah di dunia merayakan Maulid Nabi. Muslim Sunni merayakannya pada tanggal 12 Rabiul Awal sedangkan muslim Syiah merayakannya pada tanggal 17 Rabiul Awal, yang juga bertepatan dengan ulang tahun Imam Syiah yang keenam, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq.

Maulid dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas Muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat Muslim banyak membentuk komunitas, contohnya antara lain di India, Britania, dan Kanada.
Arab Saudi adalah satu-satunya negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tidak menjadikan Maulid sebagai hari libur resmi.[10] Partisipasi dalam ritual perayaan hari besar Islam ini umumnya dipandang sebagai ekspresi dari rasa keimanan dan kebangkitan keberagamaan bagi para penganutnya

Perbedaan Pendapat

Terdapat beberapa kaum ulama yang berpaham Salafi dan Wahhabi yang tidak merayakannya karena menganggap perayaan Maulid Nabi merupakan sebuah bid’ah, yaitu kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mereka berpendapat bahwa kaum muslim yang merayakannya keliru dalam menafsirkannya sehingga keluar dari esensi kegiatannya. Namun demikian, terdapat pula ulama yang berpendapat bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah hal bid’ah, karena merupakan pengungkapan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.