Permendiknas 11/2011 Ketentuan Sertifikasi Guru dalam Jabatan

Pengertian Sertifikasi Guru dalam jabatan

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang bertugas sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru bimbingan dan konseling, dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan.

Syarat Peserta Sertifikasi Guru dalam Jabatan:

a. memiliki kualifikasi akademik sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV);

b. belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV apabila sudah:

  1. mencapai usia 50 tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 tahun sebagai guru; atau
  2. mempunyai golongan IV/a, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a;
  3. telah diangkat menjadi guru sebelum tanggal 30 Desember 2005.

Sertifikasi bagi guru dalam jabatan dan guru yang diangkat dalam jabatan pengawas yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV berlaku dalam jangka waktu 5 tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. (Pasal 4, Permendiknas 11/2011)

PP 74/2008 ditetapkan pada 30 Desember 2008. Maka, guru yang diangkat mulai 1 Januari 2009, ketentuan sertifikasi tidak berdasarkan peraturan ini (akan diatur dengan peraturan lain).

Jalur Sertifikasi

Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui 4 jalur: penilaian portofolio, pendidikan dan latihan profesi guru PLPG), pemberian sertifikat pendidik secara langsung, dan pendidikan profesi guru

a. penilaian portofolio;

  • Guru dalam jabatan yang memilih Sertifikasi melalui penilaian portofolio harus mengikuti tes awal yang dikoordinasikan oleh Konsorsium Sertifikasi Guru.
  • Guru dalam jabatan yang lulus dalam tes awal harus menyerahkan portofolio untuk penilaian.
  • Guru dalam jabatan yangtidak lulus dalam tes awal harus mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru.

b. pendidikan dan latihan profesi guru;

  • Guru dalam jabatan yang tidak lulus pendidikan dan latihan profesi guru diberi kesempatan mengulang uji kompetensi satu kali.

c. pemberian sertifikat pendidik secara langsung;

  • guru yang sudah memiliki kualifikasi akademik S-2 atau S-3 dari perguruan tinggi terakreditasi dalam bidang kependidikan atau bidang studi yang relevan dengan mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran yang diampunya dengan golongan paling rendah IV/b atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/b;
  • guru yang sudah mempunyai golongan paling rendah IV/c, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/c.

d. Pendidikan Profesi Guru (PPG)

  • PPG dalam Jabatan

Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan, pendidikan bagi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik.

  • PPG Prajabatan adalah program pendidikan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan lulusan S1 Kependidikan dan S1/D IV Non Kependidikan yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar menguasai kompetensi guru secara utuh sesuai dengan standar nasional pendidikan sehingga dapat memperoleh sertifikat pendidik profesional pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Uji Kompetensi Awal Sertifikasi Guru 2012

Tes awal sertifikasi guru 2012 jalur PLPG direncanakan Februari. Bagi yang telah ditetapkan sebagai peserta sergu 2012 akan segera menerima Formulir A1 dari Dinas Pendidikan.

Berikut daftar mapel kisi-kisi uji kompetensi awal (UKA) bagi peserta PLPG.

Kisi-kisi UKA kini telah lebih lengkap dengan tambahan:

02 Februari 2012 :

Guru Kelas SDLB, Teknik Pendingin dan Tata Udara, Kehutanan, dan Guru Kelas.

04 Februari 2012 :

Teknik Industri, Kewirausahaan, PAUD TK, Tata Boga, Teknik Perkapalan, Teknik Telekomunikasi, Teknik Plumbing Sanitasi, Penyuluhan Pertanian, Survey Pemetaan, Survey Pemetaan, Pendidikan Jasmani, Agribisnis Produksi Ternak, dan Grafik.

Untuk mengunduh file silakan masuk di sini, kemudian pilih mapel.

Semoga bermanfaat dan untuk yang persiapan menghadapi uji kompetensi awal selamat belajar semoga berhasil!

Kurikulum/Silabus/RPP TK/RA/PAUD

Dokumen pedoman proses pembelajaran untuk TK, RA, dan PAUD berikut ini merupakan panduan yang disusun oleh Pusat Kurikulum Depdiknas. Semoga pedoman ini bermanfaat bagi rekan-rekan pendidik untuk mengantarkan masa depan tunas bangsa.

Untuk mengunduh secara gratis, silakan klik kanan, klik open link in new window, tulis kode yang diberikan, kemudian klik download.

Model Penilaian KTSP TK. pdf
Model_Kurikulum_Pembelajaran_Berbasis_Alam_PAUD_Formal&NF.pdf
Silabus_PAUD_Formal.doc
Standar_dan_Bahan_Ajar_PAUD_NonFormal.pdf
Standar_dan_Bahan_Ajar_PAUD-Formal.pdf

Standar_Isi_PAUD_NonFormal.doc

Standar_Isi_PAUD_Formal.doc

Silabus_PAUD_NonFormal.doc
Silabus&RPP_TK-RA.doc

Pembentukan Gugus PAUD 2011

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) RI sejak awal tahun 2011 telah menggagas tiga program untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ketiga program tersebut yakni menciptakan PAUD Terpadu, Memaksimalkan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) serta Pembentukan dan Pembinaan Gugus PAUD di seluruh Indonesia.

Pembentukan dan pembinaan Gugus PAUD saat ini menjadi sebuah kebutuhan, terutama oleh para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD. Semakin berkembangnya jumlah lembaga PAUD yang ada sekarang ini merupakan salah satu indikator makin sadarnya masyarakat akan pentingnya PAUD bagi tumbuh kembang anak.

Peningkatan jumlah lembaga PAUD secara otomatis meningkat pula jumlah tenaga pendidiknya. Masalahnya pengalaman, kemampuan dan latar belakang pendidikan tenaga pendidik PAUD sangat bervariasi, sehingga perlu adanya sebuah wadah yang dapat menjembatani kesenjangan tersebut agar para pendidik PAUD dapat memberikan layanan maksimal kepada peserta didiknya.

Gugus PAUD adalah sebuah solusi untuk menjembatani perbedaan pengalaman, kemampuan dan latar belakang pendidikan tenaga pendidik PAUD. Gugus PAUD merupakan wadah strategi yang dibangun dari, oleh, dan untuk pendidik dan tenaga kependidikan. Gugus PAUD memiliki fungsi strategis dalam hal penyamaan persepsi antar pendidik anggota gugus, saling bertukar informasi tentang pemecahan masalah dalam berbagai hal utamanya yang terkait dengan peningkatan kualitas layanan PAUD. Gugus juga berfungsi sebagai bengkel kerja guru dalam melakukan pengembangan kreativitas untuk menghasilkan berbagai inovasi pengelolaan lembaga dan pembelajaran. Mengingat Gugus PAUD menyentuh langsung keberadaan pendidik dan pengelola PAUD, maka keberadaan gugus dapat dioptimalkan sebagai sarana pembinaan kinerja guru yang lebih efektif dan efisien.

Keberadaan Gugus PAUD yang anggotanya terdiri TK, Kober, TPA dan SPS tersebut, secara teknis juga bisa menjadi solusi dari adanya “perbedaan persepsi” antara PAUD Formal dengan PAUD Nonformal. Diakui atau tidak, kenyataan di lapangan sering terjadi permasalahan antara PAUD Formal dengan PAUD Nonformal salah satunya adalah yang menyangkut masalah rebutan murid. Dengan bersatunya PAUD Formal dengan PAUD Nonformal dalam satu gugus, maka diharapkan segala permasalahan yang ada selama ini dapat diminimalisir, yang ada sekarang adalah bagaimana membangun dan memajukan PAUD secara bersama-sama untuk mencetak generasi penerus yang berkualitas, tidak ada lagi dikotomi PAUD Formal dan Nonformal.

Sumber : http://ipisumedang.blogspot.com

Anak saya hyperaktif atau tidak sih ?

Dianugerahi seorang anak adalah suatu karunia yang tak terkira bagi pasangan suami istri. Namun dalam membesarkan seorang anak, tak jarang berbagai masalah timbul. Salah satunya adalah perilaku anak yang hiperaktif.

Saat ini tak jarang seorang ibu mengeluhkan perilaku anaknya, baik putera maupun puteri, yang terlalu aktif, tidak bisa diam seperti baterai yang tak habis-habisnya. Anak hanya terlihat tenang bila ia sedang tidur.

T : Apakah perilaku hiperaktif itu normal terjadi dalam perkembangan seorang anak ?

Anak atau balita yang terlihat aktif adalah suatu yang wajar karena pada usia balita anak sedang giat-giatnya melakukan eksplorasi lingkungan. Dalam rentang usia itu anak berada dalam fase otonomi atau mencari rasa puas melalui aktivitas geraknya. Tetapi bila ia terlalu aktif atau HIPERAKTIF, perlu diteliti lebih lanjut apakah aktivitasnya itu normal atau tidak.

T : Bagaimana membedakannya perilaku aktif normal dan yang hiperaktif ?

Hiperaktif yang termasuk gangguan perilaku disebut dengan “Gangguan Pemusatan Perhatian & Hiperaktivitas (GPPH)” atau Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). Suatu penelitian di Bandung tahun 2005 menemukan 3-5% anak usia SD mengalami gangguan ini. Kondisi ini menyebabkan seorang anak atau orang dewasa mengalami gangguan dalam mengatur tingkat aktivitasnya, melakukan kontrol perilaku atau mengerjakan suatu tugas hingga tuntas seperti rekan sebayanya. Ciri-cirinya yang khas adalah sulit berkonsentrasi, selalu bergerak aktif tanpa tujuan yang jelas serta berperilaku impulsif pada setiap situasi.

T : Bagaimana cara menentukan apakah anak memang mengalami ADHD atau tidak ?

Ahli yang dapat memberikan diagnosis ADHD ini adalah seorang dokter anak, dokter keluarga, dokter jiwa anak, psikolog dan ahli saraf anak. Tidak ada tes yang bisa dilakukan untuk menentukan ADHD ini namun orang tua akan diberikan serangkaian pertanyaan yang menggambarkan perilaku anak, baik di rumah maupun di sekolah. Guru sekolah juga akan dimintai konfirmasinya. Perilaku anak akan diobservasi untuk melihat kecenderungan defisit konsentrasi, hiperaktivitas dan impulsivitasnya. Bila terdapat 6 (atau lebih) gejala di bawah ini dan telah menetap minimal 6 bulan terakhir serta tidak sesuai dengan usia perkembangan dan kemampuan adaptasi menurut umur maka anak akan dikatakan mengalami ADHD.

Gejalanya secara lengkap adalah :

  1. Defisit perhatian
    1. Sering melakukan kecerobohan atau gagal menyimak hal yang rinci dan sering membuat kesalahan karena tidak cermat.
    2. Sering sulit memusatkan perhatian secara terus-menerus dalam suatu aktivitas.
    3. Sering tampak tidak mendengarkan kalau diajak bicara.
    4. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.
    5. Sering sulit mengatur kegiatan maupun tugas.
    6. Sering menghindar, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang butuh pemikiran yang cukup lama.
    7. Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk melakukan tugas.
    8. Sering mudah beralih perhatian oleh rangsang dari luar.
    9. Sering lupa dalam mengerjakan kegiatan sehari-hari.
  2. Hiperaktivitas dan impulsivitas
  • Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering menggeliat.
  • Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.
  • Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak selayaknya.
  • Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
  • Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya tidak pernah habis.
  • Sering terlalu banyak bicara.
  • Sering terlalu cepat memberi jawaban ketika ditanya, padahal pertanyaan belum selesai.
  • Sering sulit menunggu giliran.
  • Sering memotong atau menyela pembicaraan.

Beberapa gejala sudah dijumpai sebelum anak berusia 7 tahun, dijumpai baik di sekolah maupun di rumah dan mengganggu secara nyata kehidupan sosial, akademik dan pekerjaan sehari-hari. Juga tidak merupakan bagian dari kondisi lain seperti autisme, kurang pendengaran, retardasi mental atau kecerdasan berlebih.

T : Apa penyebab perilaku hiperaktif ini ? Apa benar antara lain disebabkan oleh susu formula merek tertentu ?

Penyebab gangguan ini adalah suatu kelainan pada otak yang menyebabkan kurangnya senyawa kimia tertentu, penghantar rangsang saraf di otak. Gangguan ini bersifat genetik, jadi tidak benar susu merek tertentu menyebabkan perilaku ini. Kecenderungan perilaku hiperaktif ini sudah dimiliki anak sejak dalam kandungan. Perilaku ini juga bukan disebabkan oleh sistem pengasuhan orangtua yang buruk atau terlalu banyak makan gula atau kafein.

T : Apakah perilaku ini bisa hilang sendiri dengan bertambahnya usia ?

Pada masa lalu para dokter beranggapan bahwa perilaku ini akan hilang sendiri sejalan dengan bertambahnya usia anak. Namun penelitian yang dilakukan kemudian memberi bukti bahwa gangguan ini tidak bisa hilang dengan sendirinya karena memang terdapat gangguan di otak anak. Bahkan sekitar 20% kasus, perilaku ini menetap hingga usia dewasa dan menyebabkan individu ini mudah terpengaruh perilaku tidak menguntungkan seperti memakai narkoba, sering berpindah-pindah pekerjaan, mudah mengalami konflik dengan pasangan hidup atau rekan kerjanya.

T : Menurut suatu artikel, anak hiperaktif harus minum obat terus menerus, apakah ini akan menyebabkan kecanduan obat ?

Penanganan anak hiperaktif harus dilakukan secara holistik tidak saja melibatkan dokter anak atau konsultan saraf anak atau psikiater, tetapi juga psikolog, terapis perilaku, guru dan tentu saja orangtua dan keluarga.

Pertama kali anak akan dievaluasi terlebih dahulu apakah benar anak mengalami ADHD ? Bila ya, sejauh mana gangguan ini menganggu perkembangan dan kehidupan sehari-harinya. Bila gangguannya ringan, misalnya anak masih bisa berkonsentrasi dalam rentang waktu tertentu, masih bisa menerima instruksi dan perilaku impulsifnya jarang keluar, obat tidak perlu diberikan namun anak akan memperoleh serangkaian terapi perilaku. Bila terpaksa harus minum obat, dokter akan mengawasi dosis, lama pemberian dan hasil yang dicapai sehingga tidak mungkin menyebabkan kecanduan atau efek samping yang lain.

T : Penanganan apa yang akan dilakukan untuk anak ADHD ?

Setelah dilakukan evaluasi, akan ditentukan apakah anak akan mendapat terapi perilaku saja atau harus disertai dengan minum obat. Jenis terapi ditentukan juga oleh kondisi lain yang dapat menyertai gangguan ADHD ini seperti gangguan oppositional defiant and conduct, depresi, kecemasan, gangguan kognitif. Tujuan dari penanganan ADHD adalah agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan normal, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan sosial lainnya.

T : Apa yang harus dilakukan oleh orang tua bila anaknya diketahui mengalami ADHD ?

1. Terimalah kondisi anak

Inilah hal pertama dan terpenting yang perlu dilakukan orang tua. Bila sudah dapat menerima kondisi anak, orang tua akan lebih baik dalam melakukan penanganan selanjutnya. Sadari bahwa anak bukan ingin seperti itu melainkan kondisi otaknya yang sudah demikian sehingga muncul perilaku yang kurang positif.

Orang tua penderita pun disarankan untuk tidak menyimpan permasalahannya sendiri. Curhat pada seseorang yang dianggap bisa membantu, meski sekadar untuk mendengarkan cerita, sedikit banyak dapat meringankan beban masalah. Curhat terkadang bisa menjadi sarana cooling down bagi orang tua
sehingga tindakan yang dilakukan lebih lanjut bisa berjalan dengan lebih baik.

Kerja sama antara suami-istri harus dijalin dengan baik agar anak dapat tertangani dengan baik. Akan sangat membantu bila anggota keluarga lain, seperti kakek-nenek atau kerabat lainnya memahami apa yang kita hadapi.

2. Perbaiki perilaku anak

Hal lain yang perlu penanganan segera adalah perilaku anak yang destruktif agar perilakunya lebih terarah. Untuk ini tentu diperlukan bantuan ahli seperti psikolog.

Pada umumnya, saran yang diberikan ahli adalah menyalurkan energi anak pada kegiatan-kegiatan positif yang ia sukai. Bila bosan, ganti dengan yang lain lagi. Intinya, usahakan energinya habis untuk kegiatan yang positif.

3. Terapi

Bila gangguan yang dialami tergolong parah, biasanya akan dilakukan terapi perilaku, seperti terapi psikososial, educational therapy, occasional therapy, dan psikoterapi. Dalam terapi seperti itu anak akan diajarkan perilaku mana yang boleh dan tidak. Obat-obatan sedapat mungkin dihindari karena memiliki efek samping, seperti mengantuk, nafsu makan berkurang, sulit tidur, tik (semacam kedutan), nyeri perut, sakit kepala, cemas, perasaan tidak nyaman, serta menghambat kreativitas.

Pemberian obat dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan efek negatif pada sistem saraf, yakni menyebabkan ketergantungan obat, bahkan sampai ia dewasa. Obat baru digunakan bila dalam kondisi terpaksa.

4. Sediakan sarana

Untuk mengantisipasi gerakan-gerakan anak dengan gangguan hiperaktivitas yang tidak bisa diam, sebaiknya ruangan untuk anak bermain dirancang sedemikian rupa agar tidak terlalu sempit serta tidak dipenuhi banyak barang dan pajangan. Hal ini untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, seperti anak terbentur, tersandung, atau bahkan memecahkan barang-barang berharga. Bila memang tersedia, halaman luas sangat baik untuk memberikan kebebasan bergerak bagi penderita.

T : Sebagian orang tua tidak menginginkan anak mendapat obat untuk jangka panjang. Apakah ada usaha mengubah perilaku anak ADHD tanpa obat ?

Untungnya ada, dengan teknik Behavior Therapy atau Behavior Modification. Teknik ini dapat dilakukan sendiri tanpa obat atau digabung dengan pemberian obat. Behavior Modification dilatihkan kepada orang tua, guru dan anak.

Untuk melakukan Behavior Modification, beberapa hal harus diingat :

  1. Perilaku tidak dapat diubah dalam sekejap. Mulailah dengan tujuan konkrit yang sederhana dan dapat dicapai oleh anak.
  2. Konsisten. Harus konsisten kapan saja, dimana saja, siapa saja. Bila anak meminta sesuatu, lalu ditolak oleh ibu tetapi diperbolehkan oleh ayah, akibatnya anak akan menjadi bingung.
  3. Lakukan untuk jangka panjang, bukan hanya satu-dua bulan.
  4. Mengajar dan belajar perilaku baru memerlukan waktu dan dari waktu ke waktu anak akan bertambah baik.

T : Apakah dapat dijelaskan, bagaimana pelaksanaan Behavior Modification itu ?

Pengajaran teknik Behavior Modification kepada orang tua sebenarnya mirip dengan teknik Good Parenting yang sangat masuk akal dan seringkali sudah dikerjakan secara naluriah. Beberapa teknik yang dapat dipelajari, misalnya :

  1. Membuat dan menerapkan peraturan di rumah.
  2. Belajar memuji bila anak melakukan hal yang baik dan benar, tidak mengambil hati bila anak berperilaku buruk.
  3. Memerintah atau menyuruh anak dengan baik.
  4. Merencanakan bepergian bersama anak ke tempat ramai.

Di sekolah, teknik tertentu juga dapat dipelajari, misalnya bagaimana berteman baik, memberi tambahan kemampuan baru di bidang olahraga dan permainan, mengajarkan kemampuan bersosialisasi dan memecahkan masalah dan lain-lain.

Theories of Interactive Learning

Interactive learning is an educational approach that promotes active participation among students. In contrast to traditional structures that emphasize passivity among students, interactive learning is often student-led, encouraging debate and analysis of course content. Learning theories help to develop education by raising and responding to theoretical issues arising in education.

  • Constructivism Theory
    • For constructivist theorists, understanding is shaped by personal experience. The underlying principle is that we each construct mental models through which we interpret the surrounding environment. Learning is an interactive process that involves adapting our mental frameworks to accommodate fresh information. Rather than teaching what is right, strategies focus on how students construct meaning. According to NDT Resource Center, teaching often incorporates a variety of techniques to engage a learner’s unique learning style, including collaborative learning and direct instruction. The intention is to develop a student’s contextual understanding of a subject. Theorists advocate a customized curriculum with learning strategies actively encouraging oral participation and problem solving among students.

    Holistic Learning Theory

    • Holistic learning theory is a “sensory-rich” approach, which seeks to stimulate the student as a “whole.” According to its core principle, effective learning should engage all personality elements including the intellect, emotions and intuition. Teaching models often prioritize student interaction at all levels, in contrast to hierarchical structures that emphasize obedience and intellectual superiority. The experimental learning cycle is a common technique used to emphasize experience, cognition, perception and behavior. LearningTheories.com notes that it outlines how experience is translated into concepts through employing the four sequential stages of “concrete experience,” “observation and reflection,” “forming new concepts” and “testing new situations.”

    Action Learning Theory

    • For action learning theorists, learning is inextricably linked with real-world experiences. This approach emphasizes interaction by promoting small cooperative groups, which convene to collectively reflect on the life-issues of each member. According to its architect, Reg Revans, “action” within the real-world is key to learning. Oxford Brookes notes that the interrogative nature of action learning helps members to strengthen their problem solving skills.

    Sensory Stimulation Theory

    • Sensory stimulation theory asserts that learning should actively interact with the senses. According to Oxford Brookes, visual learning is the most effective, with three quarters of people acquiring knowledge through what they see. Greater learning, however, is achieved through engaging several senses. Sensory stimulation theory suggests teaching with a several visual images, colors and media to stimulate learning.

    Reinforcement Theory

    • For reinforcement theory, learning is a consequence of conditioned behavior. A branch of behavioral psychology, it asserts that learning is improved through reinforced behavior. For example, positive reinforcement techniques (such as verbal recognition) encourage students to repeat particular learning strategies, while negative reinforcement discourages others. Many contemporary strategies, such as repetition of multiplication tables, are based on reinforcement theory.


Read more:
Theories on Interactive Learning | eHow.com
http://www.ehow.com/info_7953175_theories-interactive-learning.html#ixzz1cu99NiiS

Jangan Cemas Jika Anak Terlambat Bicara

Rasanya sering banget, kita mendengar anak yang dah umur 2 hingga 2,5 tahun belum bisa bicara dengan lancar. Hanya potongan-potongan kata yang dia ucapkan, dan itupun tidak terucap dengan jelas. Padahal sesuai tahapan perkembangannya, anak usia 1,5 tahun seharusnya paling tidak sudah bisa menggunakan minimal 5 kosa kata yang konsisten seperti papa, mama, apa dsb. Selanjutnya secara bertahap pada usia 2 tahun anak mempunyai 2 lusin kata yang dapat dirangkai sederhana.

Dari beberapa kasus yang terjadi di masyarakat umum, anak yang terlambat bicara adalah hal yang biasa dan bukan merupakan kelainan. Selain itu kita dianjurkan untuk jangan terlalu membandingkan anak kita dengan anak-anak yang lain, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda (kaya’nya untuk yang satu ini bener juga sich….). Namun adanya anggapan bahwa kematangan anak perempuan lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki, juga menjadi faktor mengapa anak lambat bicara adalah hal yang biasa.

Anak keponakan saya yang bernama Nashih Ulwan merupakan salah satu dari sekian anak yang mengalami keterlambatan bicara tersebut. Setelah konsultasi ke dokter anak di RS PKT, maka Nashih dianjurkan untuk mengikuti terapi khusus selama order pills online without prescription beberapa bulan dan Alhamdulillah sekarang dia sudah dapat bicara dengan normal dan sempurna. Dari beberapa informasi yang saya baca, anak yang terlambat bicara biasanya terlalu aktif bergerak sehingga anak kurang konsentrasi dan fokus, hal ini memperlambat proses imitasi (meniru) atau istilah kedokterannya anak mengalami ADHAD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder). Anak akan lebih suka bereksperi lewat gerakan, senyuman dan tangisan tetapi jarang menyampaikan sesuatu secara verbal.

Sebagai orang tua (terutama ibu kali’ ya… ) ada baiknya untuk lebih tanggap dan memperhatikan ketika anak kita mengalami keterlambatan bicara. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

1.    Konsultasi dengan dokter/psikolog/psikiater tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh anak pada usia tetetentu. Usahakan mencari the second opinion untuk memperkuat pernyataan dokter yang lain dan memperkaya informasi tentang kondisi anak kita yang sebenarnya.

2. Jangan biarkan anak terlalu lama menonton TV, karena akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Ketika menonton TV, anak merasa nyaman dengan tayangan gambar yang begitu menarik dengan gambar yang selalu bergerak dan penuh dengan warna.
Hal itu dapat menyebabkan berkurangnya ketertarikan anak pada obyek-obyek yang statis/kurang menarik/ kurang berwarna yang ada di lingkungan sekitarnya. Akibatnya anak cenderung menjadi pasif, kurang peka dan kurang fokus ketika berinteraksi denganh lingkungannya. Sedangkan yang dibutuhkan anak agar dapat mengadopsi kata-kata dari orang lain adalah dengan cara imitasi (meniru). Dalam proses imitasi diperlukan sensitifitas, keaktifan dan konsentrasi.

3. Sediakan waktu mengajak anak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini akan merangsang anak agar lebih termotivasi untuk belajar bicara, karena bermain bersama anak-anak yang lain membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.

4.    Selalu Menstimulasi dengan mengajak anak berkomunikasi meskipun anak belum mampu berbicara dengan baik. Masa BATITA adalah masa meniru, sehingga ketika orang tua intens mengajaknya berbicara pasti kosa kata anak semakin banyak pula.

5. Mengajarkan kata kepada anak dengan kata-kata yang jelas (intonasi, bentuk mulut/bibir saat mengucapkannya). Contoh : makan bukan maem atau mamam, minum bukan mik atau num, susu bukan cucu, dsb.

Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat buat kita semua, khususnya para ibu yang mungkin waktu bermainnya bersama buah hati hanya pada hari sabtu dan minggu.


Read more:

http://doktersehat.com/jangan-cemas-dulu-bila-anak-terlambat-berbicara/#ixzz1b5hyWmsb

Si Kecil Kok Belum Bicara ?

Deteksi dini keterlambatan bicara sangat penting agar intervensi dan stimulasi untuk mengejar ketinggalan dapat segera dilakukan. Orang tua sebaiknya bersabar untuk memperkenalkan dua bahasa itu pada anaknya.

Sion (29 tahun) khawatir. Joshua (2 tahun, 4 bulan) anaknya, belum juga dapat berbicara sepatah kata pun. Joshua hanya bisa menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan suara ” uh..uh…,” ketika menginginkan sesuatu. Sementara teman-temannya yang lain sudah bisa mengucapkan kalimat pendek seperti “aku mau makan,” atau, “aku mau pipis.” Sempat timbul keinginan Sion untuk membawa Joshua kepada profesional. Sekedar untuk mengkonsultasikan keadaan anaknya. Namun, orang-orang di sekitarnya seperti tidak mendukung, “tenang saja, nanti juga bisa. Kamu terlalu khawatir aja…” akhirnya ibu yang tinggal di wilayah Jakarta Timur ini pun menurut. Dia tak memeriksakan anaknya untuk mencari tahu keterlambatan bicara anak pertamanya itu.

Menurut dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS, memang ada kasus keterlambatan bicara yang bersifat genetik, yang memang boleh ditunggu. “Tetapi kita mesti benar-benar yakin bahwa keterlambatan itu benar-benar genetik dan boleh ditunggu, “Kata dokter Tiwi. Untuk mengetahui apakah kemampuan bicara bayi akan berkembang normal, antara lain dapat dideteksi melalui pendengarannya. “Yakinkan bahwa pendengaran bayi normal karena pendengaran yang baik merupakan salah satu persyaratan untuk bicara,” Tiwi menambahkan. Fungsi pendengaran dapat dinilai dengan melakukan screening pendengaran bahkan sejak bayi baru lahir. Respon bayi terhadap lonceng atau suara merupakan petanda pendengaran bahwa fungsi pendengran bayi baik.

Masalah terlambat bicara menurut Tiwi memang sering kali terlambat terdiagnosis. “Padahal deteksi dini gangguan perkembangan secara keseluruhan, termasuk terlambat bicara, sangat penting diketahui sedini mungkin,” kata dokter dari RS Bunda Jakarta ini. Sehingga bila terjadi gangguan dapat segera dikoreksi, karena otak berkembang sangat cepat di tahun pertama dan kedua.

“Bila gangguan perkembangan diketahui di tahun pertama, intervensi atau stimulasi yang dilakukan pada bayi atau anak akan sangat bermanfaat, karena otak masih sangat sensitif dengan stimulasi yang diberikan,” katanya menjelaskan. Rangsangan atau stimulasi perbaikan yang diberikan diharapkan dapat mengejar segala bentuk keterlambatan di tahun pertama atau kedua. “Tentu saja semua tergantung jenis keterlambatannya atau berat ringannya gangguan perkembangan,” katanya menambahkan.

Seni Septiana Sinaga, Psi mengatakan jika keterlambatan bicara tidak dideteksi sejak dini, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar. “Ekspektasi terhadap anak 2 tahun tentu berbeda dengan anak 3 tahun. Apalagi kalau sudah mau masuk TK atau SD,” kata psikolog perkembangan anak dari Klinik Kancil ini.

Psikolog Jacinta F Rini memaparkan bahwa bicara adalah media utama dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti orang lain, orang tua, guru dan teman-temannya. Bila media itu mengalami masalah, maka bisa membuat anak menjadi frustasi. “Mungkin pula ia akan merasa frustasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya menjadi bahan tertawaan,” ungkap Jacinta dalam artikelnya “Keterlambatan Bicara” yang dipublikasikan di situs e-psikologi.

Jika tidak ada yang bisa mengerti apa yang diinginkan atau dimaksud anak, maka tak mengherankan jika lama kelamaan anak itu akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. “Padahal, belajar melalui proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya,” Jacinta menegaskan.

Penyebab Keterlambatan Bicara

Seperti dipaparkan oleh Jacinta, gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. “Pada umumnya mereka mempunyi perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian masalah ini terjadi atau dialami 5 sampai 10 persen anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki daripada perempuan ,” urai Jacinta menambahkan.

Penyebab terlambat bicara menurut Tiwi, ada yang bersifat sentral (gangguan pada otak), ada yang karena penyebab perifir (alat pendengaran yang terganggu), tetapi bisa juga karena bersifat genetik (masalah keturunan). “Anak autis seringkali memberikan manifestasi awal terlambat bicara,” ujarnya. Orang tua sering membawa anak dengan gangguan perkembangan pervasive development disorder not other specified (PDD NOS) yang sering disebut sebagai autisme ke dokter atau ahli perkembangan karena anak belum bisa bicara. Sementara penyebab autisme sampai saat ini belum diketahui secara pasti.

Tiwi menambahkan, orang tua dengan dwi bahasa sebaiknya bersabar untuk memperkenalkan dua bahasa itu pada anaknya. Sebab beberapa kasus menunjukkan bahwa anak yang diperkenalkan bahasa bilingual sejak bayi kadang-kadang bisa menjadi terlambat bicara. “Kalau belum yakin perkembangan interaksi atau komunikasinya normal atau tidak, sebaiknya memakai satu bahasa saja pada anak,” katanya menganjurkan.

Menurut Seni, banyak anak yang terlambat bicara, karena anak tidak mengalami proses perkembangan secara alami. Misalnya seharusnya anak ditetah, malah diberi baby walker, anak tidak pernah merasakan yang kasar atau lunak, karena selalu harus merasakan yang halus-halus dan bersih sehingga anak menjadi hipersensitif.

Anak usia 9 bulan seharusnya sudah mulai makan makanan yang agak kasar, tetapi karena orang tuanya khawatir anaknya kurus, anak diberi makanan halus terlalu lama. Hal ini akan menyebabkan daerah di sekitar mulut dan lidah yang digunakan juga untuk bicara menjadi kurang terlatih. Anak usia diatas 2 tahun seharusnya juga sudah berhenti minum ASI, sehingga mulutnya tidak hanya terbiasa dengan yang kenyal-kenyal saja. Ia harus sudah mencoba sedotan atau cangkir dan bukan diberi dot agar daerah di sekitar mulutnya dapat terangsang dengan baik.

Begitu juga jika ada tahapan perkembangan anak yang terlewati. Misalnya, anak belum merangkak, tetapi sudah ingin berdiri. “Kalau ada tahapan yang terlongkapi, potensi masalah yang ditimbulkan bukan hanya keterlambatan bicara, tetapi bisa juga gangguan yang lain. Atau, bisa saja bahasanya tidak terlambat, tetapi mengalami keterlambatan atau bermasalah dalam mengendalikan atensinya,” kata Seni menerangkan.

Sejauh ini, papar Jacinta, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia balita juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak mengalami gangguan keterlambatan bicara, Terlalu banyak menonton TV, menurutnya, merupakan faktor yang membuat anak menjadi pendengar pasif. “Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang sering kali tidak dimengerti oleh anak, bahkan mungkin traumatis,” urainya panjang lebar. Pengalaman traumatis bisa akibat menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual atau pun acara yang tidak disangka-sangka memberi kesan yang mendalam pada anak, karena egosentrisme yang kuat pada anak dan kemampuan kognitif yang masih belum berkembang.

Akibatnya, anak tidak mengalami periode tertentu yang seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan dan orang tua, untuk kemudian memberikan feedback kembali. Karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara kan terhambat perkembangannya.

Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua menurut Jacinta, juga memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang sangat baik. “Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak ikut berperan dalam menambah pembendaharan kata, memacu untuk berpikir logis, menganalisis dan membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun,” jelasnya.

Sebaliknya jika orang tua sering malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja. Apalagi bila pembicaraan itu lebih banyak instruksi ketimbang dialog. “Anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala intruksi, pandangan atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara serta menggunakan kalimat dan berbahasa,” katanya lagi.

Parameter Keterlambatan Bicara

Jika pada usia 6 bulan, bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara yang datang dari belakang atau sampingnya, atau di usia 10 bulan bayi tidak merespon bila dipanggil namanya, Anda harus waspada. Begitu juga jika pada usia 15 bulan, anak tidak mengerti atau merespon terhadap kita “tidak” atau “jangan,” atau tidak merespon terhadap perintah duduk, ke sini, atau berdiri di usianya yang ke 21 bulan.

Perlu diwaspadai juga jika si kecil yang berusia 2 tahun tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh seperti mulut, hidung, mata, atau kuping. Selain itu, di usia 2 tahun, menurut Seni anak seharusnya sudah bisa merangkai 3 kata seperti, “aku mau minum,” atau “aku mau pipis.” “Kalau dapat mengucapkan kata minum atau makan, tetapi tidak jelas berarti anak kurang perangsangan. Tetapi, kalau anak hanya bisa mengucapkan “uuh” atau “aah,” jangan tunda lagi, sebaiknya anak itu segera dibawa ke ahli,” kata Sebi menjelaskan.

Evaluasi dan Pemeriksaan

Menurut Jacinta, jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, sehingga terjadinya salah diagnosa dan penanganan dapat dihindar. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek fisiologis dan neurologis serta psikologis.

Seperti dipaparkan Jacinta, pada tahapan pemeriksaan aspek fisiologis dan neurologis, dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran, bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganannya yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan,” jelas Jacinta.

Pemeriksaan secara psikologis menurutnya juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial–emosional anak. “Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus berpengalaman dalam menangani anak dengan masalah keterlambatan bicara,” papar Jacinta.

Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahli dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.

Dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS, Direktur Rumah Sakit Bunda Jakarta memberikan panduan tahapan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak berdasarkan usia seperti dijabarkannya sebagi berikut:

0-1 bulan

Bayi merespon saat mendengar suara, dengan melebarkan mata, perubahan irama pernafasan, atau kecepatan menghisap susu.

2-3 bulan

Bayi merespon dengan memperhatikan dan mendengar orang yang sedang bicara.
4 bulan

Menoleh atau mencari suara orang yang memanggil namanya.

6-9 bulan

Berceloteh (babbling), dan mengerti bila namanya disebut.

9 bulan

Mengerti arti kata “jangan.”

10-12 bulan

Meniru suara, mengucapkan mama/papa dari tidak mengerti, mulai mengerti, sampai bisa menirukan 2-3 kata. Sampai si kecil mengerti perintah seperti “ayo berikan pada saya.”

13-15 bulan

Perbendaharan 4-7 kata, 20 persen ucapannya mulai dimengerti orang lain.

16-18 bulan

Perbendaharaan 10 kata, beberapa ekolalia (meniru kata yang diucapkan orang lain) dan 25 persen ucapannya dapat dimengerti orang lain

22-24 bulan

Perbendaharaan 50 kata, kalimat 2 kata, 75 persen kata-katanya dapat dimengerti orang lain.
2-2.5 tahun

Perbendaharaan kurang lebih 40 kata, termasuk nama kalimat 2-3 kata, mengerti 2 perintah sederhana sekaligus.

3-4 tahun

Kalimat dengan 3-6 kata, bertanya, bercerita, berhubungan dengan pengalaman, ucapannya hampir semua dimengerti orang lain.

4-5 tahun

Kalimat dengan 6-8 kata, menyebut 4 warna, menghitung sampai 10.

Tips Mengurangi Kadar Racun dalam Mie Instan

Berikut adalah cara mengkonsumsi mie instant agar lebih aman untuk kesehatan:

1. Para penggemar Mie Instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3(tiga) hari setelah Anda mengkonsumsi Mi Instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi. Dari Informasi kedokteran, ternyata terdapat lilin yang melapisi mie instan. Itu sebabnya mengapa Mie Instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak.

Mengkonsumsi Mie Instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkit kanker. Hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam Mi Instan tersebut. bahwa tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin tersebut.

Jika kita perhatikan Mie China yang berwarna kuning yang biasa ditemukan di pasar, dari hasil pengamatan, mie yang belum dimasak tersebut akan terlihat seperti berminyak. Lapisan minyak ini akan menghindari lengketnya mi tersebut satu dengan lainnya.

Mie Wonton yang masih mentah biasanya ditaburkan tepung agar terhindar dari lengket. Ketika tukang masak akan memasak mie, dia memasaknya pertama-tama dalam air panas, kemudian ditiriskan dengan air dingin sebelum dimasak dengan air panas lagi. Memasak dan meniriskan dengan cara ini akan dapat menghindari lengketnya mie tersebut satu sama lainnya. Tukang masak memberikan minyak dan saos pada mie tersebut agar tidak menjadi lengket ketika akan dikonsumsi secara kering (tanpa kuah).

Aturan masak dalam membuat Spaghetti (Mi dari Italia), akan dibutuhkan minyak dan mentega yang ditambahkan terlebih dahulu pada air rebusan Spaghetti untuk menghindari lengketnya pasta tersebut.

2.    Didihkan air yang lumayan banyak, tunggu sampai air benar-benar mendidih. Setelah itu, pisahkan air menjadi dua bagian (tuang ke dalam dua panci berbeda). Masukkan mie ke panci pertama (atau panci pencuci lilin mie), dan didihkan kembali. Tunggu hingga air menjadi agak menguning (ini tanda bahwa lapisan lilin yang terdapat di permukaan mie instan mulai luntur). Setelah itu, angkat dan tiriskan. Jika kamu menginginkan mie instan kuah, masukkan mie yang telah ‘dicuci’ ke dalam panci kedua

Dibalik Gurihnya Mie Instan

Mie instan, siapa sih yang tidak doyan ? Malah sebagian orang keranjingan dengan jenis makanan ini. Ada yang kalau tidak makan mie seminggu saja rasanya kangen berat. Ada yang menyediakannya sebagai pintu darurat kalau lagi tidak sempat memasak. Bahkan para anak kost menjadikan mie instan sebagai makanan kebangsaan. Anak-anak pun, kalau tidak suka mie pasti punya kelainan selera. Coba tanya para ibu tentang hal ini.

  • Hampir tiap hari anak saya minta mie. Kalau saya menolak, dia bisa bikin sendiri. Sebulan bisa satu kardus habis,? tutur Ibu Tia yang anaknya sudah berusia 10 tahun.
  • Saya pernah ditegur tetangga gara-gara mie. Anak saya menangis kenceeng banget. Pagi dia sudah makan mie. Siang minta mie lagi. Tentu saja saya tolak. Tetangga saya datang dengar tangisannya. Waktu dia tahu masalahnya, dia ngomelin saya, kenapa tidak dikasih saja, kasihan anak sampai nangis begitu. Saya jadi serba salah, kata orang mie instan tidak baik untuk kesehatan anak, tapi anak saya doyan banget….? Bu Ririn, ibu dari Ama yang baru berusia 2 tahun bercerita.
  • Anak saya susah makan. Kalau makan bisa sampai satu jam. Tapi kalau mie, wah…lahap banget. Tak sampai sepuluh menit habis deh,? Mama Ano menceritakan kebiasaan makan anaknya yang baru lima tahun.

Cerita ibu-ibu lain tentu tak kalah seru. Tapi memang, mie instan enak. Harganya juga murah. Rasanya beraneka ragam tinggal pilih. Berbagai merek baru juga terus bermunculan, menantang untuk dicoba. Namun masalahnya, bagaimana status kehalalan dan keamanannya bagi kita ?

Titik Kritis di Seluruh Bahan

Titik kritis kehalalan pada mie instan terletak pada semua bahan yang digunakannya. Kok bisa? Tepung terigu, minyak goreng, bumbu-bumbu kan halal? Belum tentu. Tepung terigu pun bisa tercemar bahan haram. Saat ini tepung terigu difortifikasi (diperkaya) dengan vitamin, sedangkan vitamin sifatnya banyak yang tidak stabil sehingga harus dicoating (dilapisi). Salah satu bahan pelapis yang harus diwaspadai adalah gelatin, yang kemungkinan berasal dari babi. Selain itu sumber vitamin juga harus jelas, apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme.

Bahan-bahan lain yang harus diwaspadai adalah :

  1. Bumbu dan pelengkap

    Bumbu yang digunakan antara lain adalah MSG atau vetsin. Titik kritisnya adalah pada media mikrobial, yaitu media yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme yang berfungsi memfermentasi bahan baku vetsin. Sedangkan bahan pelengkap mie instan adalah bahan-bahan penggurih yaitu HVP dan yeast extract. HVP atau hidrolized vegetable protein merupakan jenis protein yang dihidrolisasi dengan asam klorida ataupun dengan enzim. Sumber enzim inilah yang harus kita pertanyakan apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme. Kalau hewan tentu harus jelas hewan apa dan bagaimana penyembelihannya. Sedangkan yeast extract yang menjadi titik kritis adalah asam amino yang berasal dari hewan.

2. Bahan penambah rasa

Bahan penambah rasa atau flavor selalu digunakan dalam pembuatan mie instan. Bahan inilah yang akan memberi rasa mie, apakah ayam bawang, ayam panggang, kari ayam, soto ayam, baso, barbequ, dan sebagainya. Titik kritis flavor terletak pada sumber flavor. Kalau sumber flavor dari hewan, tentu harus jelas jenis dan cara penyembelihannya. Begitupun flavor yang berasal dari rambut atau bagian lain dari tubuh manusia, statusnya adalah haram.

3. Minyak sayur

Minyak sayur menjadi bermasalah bila sumbernya berasal dari hewan atau dicampur dengan lemak hewan.

4. Solid Ingredient

Solid ingredient adalah bahan-bahan pelengkap yang dapat berupa sosis, suwiran ayam, bawang goreng, cabe kering, dan sebagainya. Titik kritisnya tentu pada sumber hewani yang digunakan.

5. Kecap dan sambal

Kecap dan sambal pun harus kita cermati lho. Kecap dapat menggunakan flavor, MSG, kaldu tulang untuk menambah kelezatannya. Sementara sambal menggunakan emulsifier untuk menstabilkan campurannya. Emulsifier dapat berasal dari sumber hewani yang harus kita ketahui dengan jelas.

Amankah Mengkonsumsi Mie Instan ?

Selama mie instan tersebut sudah mendapat izin dari Depkes, tentulah aman. Namun bila dikonsumsi setiap hari, apalagi oleh anak-anak, inilah yang menjadi masalah.

Sebagaimana makanan instan produk industri lainnya, mie instan menggunakan banyak sekali bahan-bahan kimia. Pewarna, pengawet, dan penyedap harus kita waspadai dalam hal ini. Sekalipun aman, namun bila terus menerus kita konsumsi dalam frekuensi sering dan dalam jangka waktu lama, bahan-bahan kimia dapat terakumulasi dalam tubuh. Efeknya tentu akan mengganggu sistem metabolisme, karena bahan kimia, bagaimana pun adalah racun bagi tubuh.

Selain itu, terlalu sering makan mie instan juga dapat mengganggu masukan gizi, terutama anak-anak. Kita memang dapat menambahkan telur dan sayuran sehingga kualitas gizi mie instan tidak kalah dengan seporsi nasi komplet. Namun rasa mie yang terlalu gurih, dapat merusak selera makan anak. Lidah mereka yang sedang belajar mengidentifikasi rasa, akan terpola dengan rasa gurih yang tajam dari MSG dan flavor mie. Akibatnya mereka menganggap masakan ibu yang umumnya tidak terlalu banyak menggunakan MSG hambar. Selera makan mereka pun hilang. Akhirnya, mau mie lagi, mie lagi….

Karena itulah, biar enak, kita tetap harus mampu mengontrol diri. Jangan terlalu sering mengkonsumsi mie instan, apalagi memberikan ke anak-anak. Sesekali silakan, apalagi saat-saat cuaca dingin.

Sumber : http://zigma.wordpress.com/2006/12/19/di-balik-gurihnya-mie-instan/