PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK ANAK USIA DINI

Pengertian Karakter

1.     Karakter adalah tabiat atau kebiasaan untuk melakukan hal yang baik.

2.     Nilai-nilai karakter adalah sikap dan perilaku yang didasarkan pada norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, yang mencakup aspek spiritual, aspek personal/kepribadian, aspek sosial, dan aspek lingkungan

3.    Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan, kepada Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan agar menjadi manusia yang berakhlak

Tujuan khusus

  1. Meningkatkan pengetahuan & pemahaman tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh, dan orang tua tentang nilai-nilai karakter
  2. Meningkatkan keterampilan tenaga kependidikan,pendidik pengasuh dan orang-tua mengenai cara menanamkan nilai-nilai karakter
  3. Meningkatkan keterampilan tenaga kependidikan, pendidik, pengasuh dan orang tua mengenai carape nilaian terhadap nilai-nilai karakter

 

Sasaran

Sasaran atau pengguna pedoman penanaman nilai-nilai  karakter di PAUD meliputi:

  1. Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD
  2. Pendidik atau Guru anak usia dini
  3. Pengasuh anak usia dini
  4. Orang tua.

 

Landasan Hukum

  1. Undang-Undang Nomor 23 Perlindungan Anak
  2. Undang-Undang Nomor 4  Kesejahteraan Anak
  3. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  4. Peraturan Pemerintah Nomor  19 Tahun 2005   tentang Standar Nasional Pendidikan
  5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.

 

Asfek Pendidikan Karakter pada PAUD

Nilai-nilai pendidikan karakter yang dapat ditanamkan pada anak usia dini (0-6 tahun), mencakup empat aspek,yaitu:

  1. Aspek Spiritual
  2. Aspek personal/kepribadian
  3. Aspek Sosial, dan
  4. Aspek lingkungan.

 

Prinsip-prinsip pendidikan karakter

  1. Melalui contoh dan keteladanan
  2. Dilakukan secara berkelanjutan
  3. Menyeluruh, terintegrasi dalam seluruh aspek perkembangan
  4. Menciptakan suasana kasih sayang
  5. Aktif memotivasi anak
  6. Melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  7. Adanya penilaian

Kriteria Pendidik dan Tenaga Kependidikan Lembaga PAUD

Untuk melaksanakan pendidikan karakter ada beberapa prasyarat yang harus dimiliki seorang guru pendidik karakter yaitu:

  • Pendidik menjadikan dirinya sebagai figur teladan yang berakhlak mulia, antara lain berbuat baik, santun, berprasangka baik, dan memiliki semangat.
  • Pendidik mengutamakan tujuan pengembangan karakter anak didiknya dalam penerapan proses pendidikan.
  • Pendidik senantiasa mengadakan dialog terbuka secara bijak tentang isu-isu moral dengan anak didiknya, tentang bagaimana seharusnya menjalankan hidup, serta menjelaskan apa yang baik dan apa yang buruk.
  • Pendidik menumbuhkan rasa empati anak, yaitu dengan mengajak anak merasakan apa yang dirasakan orang ‘ lain.
  • Pendidikmengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter  dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
  • Pendidik menciptakan suasan lingkungan yang mendukung
  • Pendidik membangun serangkaian aktivitas penerapan nilai-nilai karakter di rumah, di lembaga PAUD, dan di masyarakat sekitarnya.

Penerapan pendidikan karakter  pada paud

  1. Perencanaan
  • Mengenal dan memahami anak seutuhnya sesuai dengan tahapan perkembangan dan karakteristiknya, seperti:
    • anak sebagai peneliti ulung
    • aktif gerak
    • pantang menyerah
    • maju tak pernah putus asa
    • terbuka
    • bersahabat, dan
    • tak membedakan.

    2.     Nilai-nilai pendidikan karakter diterapkan menyatu dengan kegiatan inti proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara:

    a.Memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan tema dan judul kegiatan pembelajaran.

    b.Menentukan indikator perkembangan nilai-nilai karakter, sesuai dengan tahap perkembangan anak

    c.Menentukan jenis dan tahapan kegiatan yang akan dilaksanakan

Pelaksanaan

1.    Kegiatan terprogram antara lain:

a.    Menggali pemahaman anak untuk tiap-tiap nilai karakter. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui bercerita dan dialog yang dipandu oleh guru, misalnya untuk tema tanaman, guru dapat mengajukan pertanyaan terbuka tentang karakter yang bertanggung jawab dalam memelihara tanaman.

b. Membangun penghayatan anak dengan melibatkan emosinya untuk menyadari pentingnya menerapkan nilai karakter (bertanggung jawab), misalnya mengajak anak untuk bersama-sama melakukan nilai-nilai karakter yang diceritakan.

2.    Kegiatan pembiasaan  dilakukan melalui:

  1. Kegiatan rutin lembaga PAUD, yaitu kegiatan yang  dilakukan di lembaga PAUD secara terus menerus dan konsisten setiap saat.
  2. Kegiatan spontan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara langsung atau spontan pada saat itu juga.
  3. Keteladanan, yaitu kegiatan yang dapat ditiru dan  dijadikan panutan.
  4. Pengkondisian, yaitu situasi dan kondisi lembaga PAUD sebagai pendukung kegiatan pendidikan karakter.
  5. Budaya lembaga PAUD, mencakup suasana kehidupan di lembaga pAUD yang mencerminkan komunikasiyang efektif dan produktif yang mengarah pada perbuatan baik dan interaksi sesamanya dengan sopan dan santun, kebersamaan.

 

Penilaian

Tujuan penilaian adalah untuk mengetahui sejauh mana perubahan sikap dan prilaku anak-anak setelah mengikuti kegiatan di lembaga PAUD yang sarat dengan nilai nilai karakter.

Nilai-nilai dalam Pendidikan  Karakter AUD

RELIGIUS

  • Berdoa sebelum dan sesudah kegiatan.
  • Belajar praktek kegiatan keagamaan.
  • Pengumpulan dan pembagian Zajat, Infaq dan Sidqoh.
  • Pelaksanaan Kegiatan Qurban.
  • Menyantuni anak yatim.

 

JUJUR

  • Melatih kejujuran / kotak temuan
  • Memberikan uang sekolah / tabungan kepada guru secara utuh
  • Menyampaikan pesan dengan baik dan  benar

 

TOLERANSI

  • Berbicara pelan di dalam kelas
  • Menggunakan alat permainan secara bergantian
  • Saling membantu
  • Mau berbagi
  • Mau mendengarkan orang lain berbicara
  • Sabar menunggu giliran
  • Mau mengalah

 

DISIPLIN

  • Jika terlambat melapor pada guru
  • Jika berhalangan datang memberi tahu
  • Mengembalikan alat/mainan setelah digunakan
  • Memakai seragam sesuai jadwal
  • Membawa bekal sesuai jadwal
  • Tidak membawa uang selain untuk keperluan sekolah
  • Membayar uang sekolah paling lambat tanggal 10 setiap bulannya

KERJA KERAS

  • Menjadi petugas upacara
  • Memimpin doa
  • Membahas hasil karya pada akhir kegiatan

       
 

KREATIFITAS

  • Melukis dengan berbagai media
  • Melipat,meronce,menganyam
  • Membuat aneka mainan cari bahan bekas

 

KEMANDIRIAN

  • Masuk kelas sendiri
  • Melepas dan memakai sepatu sendiri
  • Melepas dan memakai baju sendiri
  • Mengambil peralaan sendiri
  • Makan dan minum sendiri
  • BAK dan BAB sendiri

 

DEMOKRATIS

  • Berani mengungkapkan pendapat
  • Mengambil keputusan bersama
  • Bekerjasama
  • Memilih kegiatan yang disenangi

 

RASA INGIN TAHU

  • Berani bertanya
  • Bereksplorasi
  • Bereksperimen

 

SEMANGAT KEBANGSAAN

  • Melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin
  • Mengibarkan bendera di halaman sekolah setiap hari
  • Memasang simbul-simbul kenegaraan
  • Memutar lagu-lagu kebangsaan
  • Memutar lagu-lagu khas daerah
  • Memasang bendera merah putih kecil  di meja guru setiap kelas
  • Memajang foto pahlawan

 

CINTA TANAH AIR

  • Mencintai bahasa ibu
  • Mencintai seni budaya lokal
  • Menghargai perbedaan budaya antar suku bangsa

 

MENGHARGAI PRESTASI

  • Memasang hasil karya anak
  • Memberi reward untuk anak yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan  cepat
  • Memberi Pin Garuda pada anak yang datang pertama

 

BERSAHABAT/ BERKOMUNIKASI

  • Berbicara dengan teman dan guru
  • Memberi salam
  • Bersikap ramah
  • Tidak mengganggu teman
  • Berbagi pengalaman melalui bercerita

 

CINTA DAMAI

  • Mau membantu dan tolong menolong
  • Saling menyayangi
  • Tanggung Jawab
  • Menyanyikan lagu yang berisi kasih  sayang

 

GEMAR MEMBACA

  • Memasang Area Bahasa
  • Mengunjungi Perpustakaan Sekolah
  • Menyediakan bermacam-macam buku cerita
  • Mengenal huruf dengan kartu huruf
  • Memasang gambar yang ada tulisannya
  • Mengenal tulisan melalui kegiatan
  • Pesona pagi

 

PEDULI LINGKUNGAN

  • Menyediakan tempat sampah
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Kerja bakti
  • Merawat tanaman

 

PEDULI SOSIAL

  • Memberikan sebagian bekal pada teman yang tidak membawa
  • lnfaq
  • Mengikuti Program Gemar Sedekah
  • Menyantuni anak yatim
  • Membantu masyarakat yang kena musibah

 

TANGGUNG JAWAB

  • Melaksanakan tugas sampai selesai
  • Menyiram bunga
  • Mengembalikan alat setelah digunakan

 

Sumber telah diadaptasi dari http://tknpembinakabpekalongan.blogspot.com/2013/02/pendidikan-karakter-anak-usia-dini.html

Pengumuman Awal Semester II TP 2013/2014

Assalamu’alaikum Wr, Wb
Diumumkan bahwa awal semester II TP 2013/2014 adalah tanggal 6 Januari 2014. Kepada seluruh orang tua dan wali siswwa agar mempersiapkan putra dan putrinya untuk mengikuti kegiatan proses bermain dan belajar pada PAUD TERPADU Anak Ceria – Muslim Pre School Banjarbaru.
Demikian Pengumuman ini.
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Over Convidence

Over Percaya Diri adalah sebutan bagi orang yang memiliki tingkat percaya diri yang berlebihan. Rasa percaya diri yang meluap biasanya bukan bersumber dari potensi yang ada dari dalam diri kita, namun karena di dasari oleh tekanan dari lingkungan.Lingkungan yang telah menuntutnya terlalu banyak, sehingga individu yang bersangkutan merasa tertekan dan harus menunjukkan diri bahwa ia bisa. Lingkungan disini yang di madsud adalah lingkungan yang dekat individu itu sendiri, misalnya orang tua dan masyarakat di sekitar ia tinggal.

Sifat over percaya diri hanyalah sebuah topeng yang biasanya hanya untuk memuaskan tuntutan hidup dalam diri individu. Selain itu pergaulan dengan teman-teman sebaya dan juga media massa yang menyajikan sebuah persepsi yang salah tentang kepribadian juga dapat mendorong rasa bercaya diri yang berlebihan pada diri seseorang. Tetapi sumber percaya diri yang berlebihan bisa juga bermula karena orang itu tidak berpijak pada kenyataan yang ada dalam dirinya,sehingga ia salah menjalani hidup.

Selain faktor-faktor di atas, pola asuh yang keliru termasuk salah satu faktur yang bisa membentuk pribadi seseorang menjadi over percaya diri. Hal ini biasanya terjadi pada orang tua yang sering memanjakan anak dengan menganggap bahwa si anak adalah seseorang yang di istimewakan, di anggap pandai, cakap, dan memastikan kepada si anak bahwa masa depannya akan berjalan tanpa hambatan.

Setelah itu, begitu si anak beranjak dewasa, ia menganggap segala yang telah di capai adalah semata-mata karena usahanya sendiri tanpa menghiraukan peran-peran orang yang ada di sekitarnya. Hal ini terjadi karena asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar itu tidak dilandasi kemampuan secara nyata. Akibatnya, ia akan berubah menjadi pribadi dictator yang suka mengatur orang, menguasai, dan merampas sesuatu yang di inginkan.

Dari beberapa hal yang kita bahas akan tampak bahwa rasa percaya diri yang berlebihan itu memang berasal dari kemampuan diri sendiri, Karena saat itu ia tidak menunjukkan kemampuannya secara nyata dalam dirinya. Bisa juga rasa percaya diri mereka berasal dari faktor latar belakang misalnya dari keluarga kaya, memiliki jabatan prestesius, memiliki relasi yang luas, ekonominya memadai, dan lain sebagainya.Padahal untuk menjadi sosok yang percaya diri, haruslah ia berpinjak pada kemampuan secara nyata.

Akan lebih baik kalau kita mencoba untuk mengembangkan kemampuan diri tanpa berpijak pada kemampuan yang tidak nyata yang sebenarnya bukan bagian dari kita seperti kekayaan, status ekonomi, jabatan, karier, dan lain sebagainya. Hidup ini terlalu singkat dan berharga untuk menjadi “orang lain“. Pada dasarnya, menjadi dirimu sendiri menjanjikan pengalaman hidup yang sangat seru yang tak mungkin kita alami lagi untuk kedua kalinya.

Source : http://sosseres.blogspot.com/2011/02/over-convidence.html

Dua Sisi dibalik Fenomena Home Schooling

Ketika sekolah formal tak memuaskan orang tua untuk mempercayakan pendidikan anaknya, ketika sang anak tengah sibuk dengan setumpuk kegiatan di luar sekolah formal hingga harus membolos dan absen melebihi jatah normal yang di tetapkan sekolah, ketika pergaulan bebas dan maraknya kriminalitas membuat lingkungan tak aman, serta berbagai sederet alasan yang membuat anak lebih baik belajar di rumah, ketika itulah muncul metode pendidikan baru bernama home schooling.

Kak Seto selaku pemerhati anak merupakan salah satu tokoh penggagas home schooling. Metode ini memusatkan anak untuk belajar di rumah tanpa menyentuh sekolah formal layaknya sekolah negeri dan swasta. Orang tua akan mengawasi penuh pembelajaran anak karena punya ruang lingkup yang cukup besar untuk menjalankan peran itu.

Peran orang tua begitu dominan. Sebagai penangggung jawab utama, orang tua tidak harus selalu mengajari anak. Orang tua dapat mengundang guru privat, mengikutkan anak pada kursus, melibatkan anak pada proses magang dan lain lain. Pusat dan tempat belajar utama adalah di rumah. Namun sang anak dapat bebas belajar dimana saja selagi tempat tersebut signifikan untuk proses belajar.

Semakin banyak orang tua yang menggunakan program ini, selain beberapa alasan diatas, pemilihan bisa terjadi dikaitkan dengan profesi orang tua yang harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sehingga anak akan turut berpindah juga dari satu sekolah lain ke sekolah berikutnya secara berulang-ulang. Alasan lain karena orang tua ingin mempererat hubungan dengan anak, anak yang memiliki kebutuhan khusus, atau mahalnya sekolah yang berkualitas yang tak dapat dimasuki sang anak.

Tingkat keberhasilan program ini pun tergantung pada orang tua. Di luar negeri, sejumlah riset menyatakan 71 persen yang menerapkan sistem ini memilih sendiri kurikulam yang sesuai kemudian menyesuaikan dengan kebutuhan anak. 24 persen memilih kurikulum lengkap yang dibeli dari penyedia kurikulum dan materi ajar. Sedangkan 3 persen menggunakan materi dari sekolah satelit atau program khusus yang dijalankan oleh sekolah swasta.

Sisi positif

  • Anak dapat bebas menentukan apa yang mereka pelajari. Tak harus terpaku pada standar yang harus dipelajari. Mereka  akan mengembangkan apa yang mereka inginkan. Kebebasan juga terletak pada waktu belajar dan tugas sekolah formal yang kadang memberatkan siswa.
  • Banyak waktu luang anak yang dapat dimanfaatkan oleh orang tua, tak seperti anak yang sekolah pada sekolah formal yang harus fokus pada jam sekolahnya.
  • Bebas dari lingkungan yang mungkin berbahaya akan pergaulan bebas, kriminalitas dan narkoba.
  • Kedekatan hubungan dengan anak. Akan banyak waktu berkualitas yang terjalin selama anak belajar di rumah.

Sisi negatif

  • Akan susah bagi Anda yang menyandang orang tua tunggal dalam menjalankan program ini. Kesibukan akan pekerjaan serta urusan rumah tangga mungkin akan membuat Anda kerepotan jika memikul tanggung jawab harus siaga 24 jam seminggu untuk anak.
  • Sudah dipastikan sistem ini lebih mahal daripada sekolah formal. Jadi Anda harus berpikir ulang jika akan memilih sistem ini.
  • Pertemanan terbatas. Anak akan kehilangan momen bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anda harus memberikannya waktu tambahan agar dapat bergaul dengan teman-temannya yang lain.
  • Tak adanya persaingan sering merupakan semangat anak untuk berpacu meraih prestasi. Juga tak adanya pihak pembanding yang dapat membuat anak termotivasi.Banyak hal yang positif dari home schooling. Namun Anda tetap harus memperhatikan sisi negatifnya. Silakan memilih yang terbaik untuk anak Anda. Semoga sukses.

Diambil dari: http://www.landscappist.com

Cara Mendidik Anak yang Baik dan Positif

Boedi Susetyo

Kita sebagai orang tua memiliki sejumlah cita-cita  atau harapan agar kelak anak-anak kita dapat hidup mandiri, berguna dalam kehidupan bermasyarakat dan yang paling penting dari itu semua adalah dapat berbakti pada orang tua dan agama.

Sebuah kewajiban bagi orang tua dalam mendidik anak, supaya kelak nanti sesuai apa yang kita harapkan. Dengan berbekal ilmu dan taat kepada ajaran agama yang dianut, tidak melanggar ajaran-ajaran / norma-norma hukum di masyarakat dibutuhkan ketekunan dan tekat bulat untuk membekali pada anak-anak kita.

Setiap diri masing-masing orang tua tentunya memiliki jalan atau cara tersendiri dalam mendidik anak-anak mereka untuk mejadi yang terbaik. Yang mana harus kita akui pada diri kita sebagai orang tua bahwa pembekalan anak-anak kita untuk dapat hidup mandiri, untuk dapat diterima kehidupannya di masyarakat adalah berawal dari keluarga.

Untuk itu ada kiat-kiat  atau cara tersendiri dalam mendidik anak yang baik dan positif seperti :

  1. Ajarkan pada mereka sedini mungkin untuk menyayangi dan menghargai diri sendiri. Sangat penting untuk diawali dalam proses pembelajaran bagi anak-anak kita untuk belajar menyayangi dan menghargai dirinya sendiri. Contohnya: mengajak anak-anak untuk meluangkan waktu berolah raga bersama atau meluangkan waktu bersama untuk saling mengenal hobi / kesukaan masing-masing anak dan orang tua. Sedikit banyak cara yang kita contohkan dan kita didik kepada anak-anak kita dapat menghargai satu sama lain.
  2. Meluangkan waktu yang berkualitas disetiap harinya. Kita segabai orang tua menunjukan betapa gembiranya atas kehadiran anak-anak kita ditengah keluarga. Menjadi “Ahli Gembira” di depan anak-anak kita dapat mencairkan suasana bosan atau kejenuhan menjadi gembira, riang dan menjadi moment yang istimewa. Contohnya: mengajak nyanyi bersama, mengajak canda tawa atau mungkin  mengajak anak pergi bersama-sama dihari libur, ini dapat dijadikan sebuah moment dalam keluarga.
  3. Menjadi pendengar yang baik. Hal ini tidak mudah bagi orang tua menjadi pendengar yang baik. Sebagai orang tua sering memberi nasehat-nasehat, saran dan lain sebagainya yang mana sebenarnya mereka (anak-anak) juga berhak untuk angkat bicara. Mencoba menahan diri tanpa harus menghakimi, dan membuka hati untuk mendengarkan isi hati mereka dengan kasih sayang. Memposisikan diri kita dari sudut pandang  mereka dan lupakan label kita sebagai orang tua sejenak, membuat anak-anak kita merasa dihargai dan merasa diterima dan dimengerti.
  4. Memberi penghargaan kepada anak-anak kita. Mulailah pada diri kita sebagai orang tua untuk memberikan reward / penghargaan yang sederhana atau yang paling kecil pun atas pencapaian, keberhasilan anak-anak kita dengan tujuan untuk lebih bangkit dan termotivasi kembali. Selain sebuah keberhasilan anak-anak kita, kegagalan pun sepatutnya harus kita berikan semacam tepukan punggung agar anak-anak kita terus bangkit. Contohnya : anak kita mendapat nilai dibawah  rata-rata nilai kelas, berilah senyuman dan tepukan punggung dan diakhiri dengan pelukan, : “Inilah pencapaian kamu selama ini, Ayah mohon agar kamu tetap terus mengejar ketinggalan kamu dan pasti kamu kelak mendapat  nilai lebih baik”. Berilah pujian dan pengakuan secara tulus, karena penghargaan adalah diberikan atas tindakan yang telah dilakukan bukan pada prestasi yang dicapai.
  5. Disiplinkan anak dengan rasa hormat. Ini mendidik anak untuk bertanggung jawab, respek, dan pengendalian rasa amarah. Dalam hal tanggung jawab anak didik untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas rutin keseharian sebagai anak. Tanggung jawab atas diri mereka masing-masing sesuai dengan batasan usia dalam sebuah keluarga. Perbaiki kesalahan mereka dengan kelembutan. Berikan konsekuensi yang wajar dari pelanggaran dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab. Janganlah memarahi apalagi mempermalukan anak di depan orang lain atas kesalahan yang diperbuat. Hal ini mendidik anak-anak agar tetap respek dengan satu sama lainnya. Orang tua juga meminta maaf bila melakukan kesalahan atas pelanggaran atau janji yang kurang ditepati. Tanamkan kepada mereka juga janganlah takut untuk sebuah kesalahan, karena kesalahan adalah sebuah proses pembelajaran. Temukanlah kebaikan dalam kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka mereka belajar untuk berani berjuang menghadapi tantangan dan resiko.
  6. Tanamkan nilai-nilai kejujuran  dan saling membantu. Tunjukkanlah dalam keseharian kita sebagai orang tua agar selalu konsisten dengan nilai-nilai ini. Libatkan juga anak-anak kita dalam kegiatan sosial yang secara rutin yang orang tua lakukan. Lambat laun akan tumbuh karakter positif yang kuat dalam diri mereka. Milikilah keyakinan yang meneguhkan keluarga kita di saat-saat sulit. Anak-anak kita menjadi pribadi yang optimis dan bersyukur dalam kesehariannya.

Cintailah anak Anda dengan tulus tanpa syarat, dan ungkapkanlah besarnya kasih sayang Anda tersebut kepada mereka. Anak yang berada dalam kasih sayang yang tulus akan tumbuh dengan lebih bergembira, percaya diri, menyenangkan, serta dapat diandalkan.

Kenali Gaya Belajar Si kecil


Tiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda, sudahkah ibu mengenali gaya belajar si kecil? Dengan mengenali gaya belajarnya akan memudahkan si kecil belajar lebih optimal!

 Apa saja gaya belajar si kecil?

Tipe verbal

Si kecil lebih sensitif terhadap suara, ritme, kata-kata dan menikmati ‘strory telling’ serta menulis. Si kecil cinta pada buku, puisi, humor dan gemar mengerjakan puzzle dan memecahkan teka-teki.

Saran untuk ibu: bacakan si kecil cerita, dengarkan dengan perhatian pertanyaannya atau saat si kecil menceritakan pengalamannya. Berikan buku-buku bacaan dan kertas untuk si kecil belatih menulis. Ajaklah ia ke perpustakaan dan toko buku untuk memilih buku bacaan dan berikan mainan jenis scrabble.

Tipe logikal

Beberapa permainan menyelesaikan masalah dan bermain dengan pola serta percobaan akan menarik perhatian si kecil. Ia memiliki kemampuan logik yang baik dan banyak bertanya mengenai hal-hal yang logis.

Saran untuk ibu: biarkan si kecil berksperimen, ajak si kecil mengikuti langkah-langkah membuat kue, membuat warna baru dengan mencampur warna dasar, ajaklah mengatur meja, memilih baju atau mengatur meja. Permainan yang cocok untuk anak dengan gaya belajar ini adalah kartu UNO dan catur.

Tipe visual

Gaya belajar si kecil lebih menyukai yang bernuansa ‘seni’, seperti membuat pola dan memerlukan stimulasi visual.

Saran untuk ibu: biarkan si kecil berkreasi dengan berbagai kerajinan tangan dan seni rupa. Berikan si kecil kesempatan untuk menata kamarnya. Sediakankah peralatan menggambar dan spidol berbagai warna serta permainan berupa kartu dan gambar.

Tipe pemusik

Si kecil menyukai permainan musik, dan bernyanyi., senang mendengarkan suara orang dan alam sekitarnya serta mudah mempelajari sesuatu yang berirama atau berkaitan dengan musik.
Saran untuk ibu: biarkan si kecil bernyanyi mengikuti irama musik dan libatkan kegiatan bernyanyi bersama

Tipe fisikal

Anak- anak ini sangat aktif dan mengekspresikan dirinya melalui gerak: menari, dan bermain dalam gerak fisik, lebih mudah mempelajari hal-hal dengan menyentuh dan merasakan tekstur.
Saran untuk ibu: libatkan si kecil dalam gerak dan tari atau aktivitas fisik lainnya, jalan, jogging dan bersepeda.

Tipe ekstrovert

Sosialiasi si kecil sangat baik, ia dapat ‘membaca’ situasi dan pemimpin yang baik, mudah bekerja sama.
Saran untuk ibu: Dukunglah anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, berdiskusi dan memecahkan masalah.

Tipe introvert

Si kecil menyukai kerja mandiri, dan cenderung menyukai kerja sendirian.
Saran untuk ibu: Berikan si kecil waktu untuk belajar dan bermain sendirian. Dukunglah si kecil untuk membuat sesuatu yang dapat dinikmati keluarga dan dukunglah ia untuk membuat jurnal harian mengenai kegiatannya.

Setiap anak adalah unik, dan berbeda. Bila ibu dapat memahami keunikan dan gaya belajar tiap anak, serta mendukung dan mengarahkan sesuai karakternya tentu si kecil dapat mengeksplorasi dan belajar lebih banyak lagi.

Macam-Macam Gaya Belajar

Kita tidak bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasanan dan cara yang kita inginkan karena masing masing anak memiliki tipe atau gaya belajar sendiri-sendiri. Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya.

Banyak anak menurun prestasi belajarnya disekolah karena dirumah anak dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya. Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing.

Menurut DePorter dan Hernacki (2002), gaya belajar adalah kombinasi dari menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Terdapat tiga jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality).

Pengertian Gaya Belajar dan Macam-macam Gaya Belajar

VISUAL (Visual Learners)

Gaya Belajar Visual (Visual Learners) menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagai orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama adalah kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya, kedua memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, ketiga memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik, keempat memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, kelima terlalu reaktif terhadap suara, keenam sulit mengikuti anjuran secara lisan, ketujuh seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan.

Ciri-ciri gaya belajar visual ini yaitu :

  1. Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
  2. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
  4. Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi.
  5. Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
  6. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
  7. Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu

AUDITORI (Auditory Learners )

Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :

  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

KINESTETIK (Kinesthetic Learners)

Gaya belajar Kinestetik (Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri gaya belajar Kinestetik yaitu :

  1. Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
  2. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
  3. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
  4. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
  5. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
  6. Menyukai praktek/ percobaan
  7. Menyukai permainan dan aktivitas fisik

Demikianlah macam-macam gaya belajar mudah-mudahan dapat menjadi bahan acuan kita untuk menentukan cara belajar yang baik dan pas untuk kita sehingga mampu menyerap pelajaran dengan baik. Nah sekarang mana gaya belajar anda atau anak anda?

Read more: